
Entah ini adalah suatu keberuntungan melihatnya atau sebuah kesalahan terbesar yang menjadi penghalang kebahagiaan dalam perikahan Mita dan Yazid. Kala pintu yang tertutup tidak begitu rapat membuat Mita dengan mudahnya memasuki sebuah aprtemen dimana sang nenek mertua telah memberi tahunya. Di sinilah Mita berada. Ia melangkah dengan tubuh gemetar saat mendengar suara samar yang tak jelas entah berkata apa. Namun, ada dua suara yang berada di dalam ruangan itu. Yah, salah satu ruang televisi yang terdapat sofa bed menjadi tempat seorang wanita terduduk dalam pelukan pria yang membelakangi Mita saat ini.
"Sudah, tenanglah. Jangan khawatir ada aku." Itulah kata-kata yang Mita dengar dari bibir pria yang tak lain adalah suaminya.
Sumpah demi apa pun Mita tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Mita menggeleng meneteskan air mata. Bagaimana mungkin pria yang begitu ia cintai kini justru memeluk tubuh wanita lain yang hanya memakai handuk putih sebatas dada dan paha saja? Di sana Yazid tampak mengusap punggung polos milik Nia. Yah, wanita itu adalah Nia, sahabat Yazid yang begitu ia bela di depan Mita sampai saat ini. Bahkan janji yang ia ucapkan pada sang istri di abaikan begitu saja demi wanita bernama Nia.
Lama adegan itu Mita lihat hingga akhirnya ia memilih keluar dengan tatapan hampa. Tak ada harapan lagi untuknya kala melihat pria yang begitu ia perjuangkan keras dengan hangatnya memberi perhatian pada sahabat bahkan ia sendiri sebagai istrinya saja tak pernah mendapatkan perhatian seperti itu.
Di dalam mobilnya, Mita terduduk menyandarkan kepala. Tak ada air mata yang jatuh kali ini. Entah ia merasa sangat bingung. Perasaannya terasa sakit namun ada pertanyaan yang selama ini ia tanyakan kini terjawab sudah. Yah itulah alasan Yazid begitu mengagungkan sosok Nia dari pada dirinya. Karena ia memang memiliki rasa begitu besar pada Nia.
"Oke, semua sudah aman, Nia. Pergilah ke kamar dan pakai bajumu." ujar Yazid memberi perintah pada Nia.
Wanita yang ia dekap cukup lama itu kini sesenggukan sebab terlalu menangis. Wajah putihnya memerah dan ia usap kesekian kali untuk mengeringkan air matanya. Nia menatap Yazid dengan tatapan penuh harap.
"Aku takut, Yazid. Aku sangat takut orang jahat itu datang lagi." tuturnya menangis kembali. Tubuhnya ia hambur ke pelukan Yazid.
Semua berawal dari apartemen yang di buka paksa dari luar, ketika ia mandi dan Nia tak sadar jika selama ini menjadi target dari pria yang mengaguminya secara diam-diam. Hingga terjadi aksi pembobolan dan membuat Nia hampir kehilangan mahkotanya. Beruntung ia bisa menghubungi Yazid saat berhasil mendorong pria itu keluar dari kamar.
Sedikit pun Nia tak memiliki rencana, namun entah mengapa sosok Yazid begitu menjadi pahlawan baginya. Nia merasa begitu aman ketika Yazid datang mengamankan dirinya dan membawa pria itu ke kantor polisi.
__ADS_1
"Oke semuanya baik-baik saja, Nia. Percaya semuanya sudah aman. Pakailah bajumu, aku akan tunggu di sini. Setelah itu ikut denganku." Nia pun dengan perasaan enggan menuju ke kamarnya. Ia memilih bergegas memakai baju dan kembali ke hadapan Yazid.
Jelas terlihat di wajah wanita itu dirinya sangat pucat saat ini. Segera keduanya melangkah keluar dan menuju parkiran. Namun, belum saja Yazid masuk ke mobil kepalanya menoleh heran saat melihat mobil yang terasa tidak asing baginya melaju keluar dari parkiran.
"Mungkin hanya pikiranku saja..." gumam pria itu berpikir positif.
Nia hanya duduk diam di dalam mobil melihat kendaraan itu yang bergerak melaju entah menuju ke arah mana. Yang ia tahu dirinya aman saat ini berada dekat dengan pria yang ia rasa paling tulus dengannya. Hidup menjadi anak yatim piatu tidaklah mudah untuk bertahan di kota besar itu.
Tanpa ia tahu jika mobil itu kini sudah berhenti di pelataran rumah yang ternyata milik Yazid dan juga Mita saat ini. Nia diam di dalam mobil duduk menunggu perintah apa yang Yazid akan berikan padanya. Pria itu turun dan membuka pintu mobil dimana Nia berada.
"Ayo masuk." ajaknya langsung menggandeng Nia.
Tidak tahu saja dirinya jika sang istri saat ini bahkan tidak ada di rumah itu. Entah kemana perginya Mita saat ini ia sendiri belum menyadari hal itu. Sebuah kamar kosong menjadi tempat Nia untuk istirahat.
Nia pun duduk di sisi tempat tidurnya dan menatap sekeliling kamar itu. Tidak begitu rapi namun cukup bersih. Maklum kamar itu sangat jarang terbuka sebab tak ada yang menempatinya. Yazid yang baru tidak di kamarnya tampak menatap sekeliling dan menuju kamar mandi. Di buka kamar mandi tak juga terlihat ada sang istri di sana.
"Mita!" teriaknya lagi.
Suasana sangat sunyi tak ada tanda jika Mita ada di rumah malam itu. Kini waktu sudah semakin larut, Yazid yang teringat dengan ucapannya saat itu mendadak langsung berlari keluar dari kamar. Ia tidak mau sang istri kembali marah. Ponsel pun ia genggam berkali-kali menelpon masih tak juga mendapatkan jawaban dari sang istri.
__ADS_1
"Ada apa, Tuan?" pelayan yang tidur pun bergegas datang menghampiri Yazid yang berjalan hendak keluar rumah memastikan mobil sang istri.
Ingatannya berputar pada waktu di parkiran aparteme Nia. Ia jelas melihat plat mobil yang hampir sama dengan sang istri namun tidak begitu ia perhatikan detail.
"Mita, istri saya dimana, Bi? Apa dia keluar?" tanya Yazid dengan wajah paniknya.
"Tadi Nyonya keluar hampir bersamaan dengan Tuan kok. Bibi pikir menyusul Tuan." benar apa yang ada di dalam pikiran Yazid saat ini. Jika mobil yang di lihatnya tadi adalah mobil milik Mita.
Ketika Yazid tengah berpikir keras dimana keberadaan sang istri saat ini, saat itu pula Nia keluar. Suara teriakan Yazid mencari Mita ternyata mengundang perhatian seisi rumah.
"Ada apa, Yazid?" tanya Nia mendekat.
Wajahnya yang pucat kini sudah nampak baik-baik saja. Jelas ia tenang sebab Yazid pun membawanya ke rumah dimana ia merasa sangat aman.
Berbeda di tempat lain, Mita memasuki kediaman orangtu Yazid dimana ia melangkah menuju kamar sang nenek. Tentu kedatangannya begitu mengejutkan Fena sekali.
"Nenek..." tangisnya pecah saat memeluk tubuh wanita tua yang tengah berbaring itu. Fena sangat kaget dengan hadirnya Mita secara tiba-tiba.
Ia pikir Mita akan selesai masalahnya ketika melihat Yazid dan Nia yang tidak melakukan apa pun. Namun, yang terjadi justru kebalikannya. Wanita itu datang dengan menangis sangat pilu. Jelas kedua mata Mita bahkan sudah sangat bengkak saat ini.
__ADS_1
"Mita, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Fena menangkup kedua wajah Mita yang sangat menyedihkan.
Lama Mita hanya bisa menangis saja tanpa berkata apa pun juga. Hatinya terlalu sesak sampai tak bisa berkata apa pun lagi setiap mengingat pelukan sang suami pada wanita yang tidak memakai baju hanya berbalut handuk saja.