
Di apartemen, Nia terduduk menatap keluar jendela yang menampakkan pemandangan kota. Sudah dua hari ini ia tidak bekerja. Semangatnya yang selama ini berkobar mendadak hilang begitu saja. Kini ia benar-benar sendiri. Tak terasa air matanya jatuh membayangkan tiap kali ia kesepian, Yazid akan datang atau hanya sekedar mengirim pesan padanya untuk minta di bawakan makan siang. Sungguh, jarak antara mereka saat ini benar-benar begitu jauh. Tak ada kata lagi yang bisa di ucapkan selain suara isak tangis yang begitu pilu.
“Aku benar-benar sendiri saat ini.” tuturnya menenggelamkan wajah.
Hidup sebatang kara bukanlah perkara mudah. Ketakutan Nia ketika Yazid menikah kini sudah benar-benar terjadi. Ia bagaikan sahabat yang di lempar begitu saja tanpa di perdulikan sedikit pun.
“Argh!” Nia melempar semua barang di depannya dengan bantal. Memukul semua barang yang di depannya. Hingga keadaan apartemen miliknya sangat berantakan.
Sungguh menyakitkan rasanya, memikirkan pria yang begitu dekat denganya kini justru berbahagia dengan sang istri.
Benar, Yazid begitu bahagia sampai ia tidak perduli jika waktunya ke kantor. Pria itu memilih mengurung sang istri kembali di kamar. Tinggal berdua hanya dengan satu pelayan membuat keduanya sangat bebas mau kapan pun keluar dari kamar.
__ADS_1
“Kak, kenapa tidak kerja?” tanya Mita heran. Satu penyebab mereka harus pulang adalah Yazid yang akan ke kantor karena ada pekerjaan penting.
“Ikut ke kantor yuk.” ajaknya masih enggan melepaskan pelukan di tubuh Mita.
“Kan aku belum masakin kakak.” sahut Mita yang tak lupa akan kewajibannya.
“Aku nggak perlu makan, Mit. Yang penting ada kamu aku pasti akan kenyang.” Mita terkekeh mendengarnya.
Keduanya pun akhirnya menuju kantor dengan Mita yang hanya memejamkan matanya selama perjalanan. Jujur tenaganya benar-benar terkuras akibat permintaan Yazid yang tidak ada hentinya. Wanita itu membayangkan jika kepergian sang suami ke kantor bisa ia gunakan untuk mengembalikan tenaga yang habis, kenyataannya tidaklah seperti itu. Justru tenaga Mita akan benar-benar habis tanpa sisa har ini. Ia berpikir jika bisa saja sang suami kembali meminta haknya ketika berada di kantor.
Dua puluh menit perjalanan, kini akhirnya mobil mereka tiba di perusahaan. Melihat Mita yang terlelap di sampingnya, membuat Yazid tak tega jika harus membangunkan sang istri.
__ADS_1
“Maafkan aku, Mit. Kau pasti kelelahan.” gumamnya dalam hati sembari mengecup kening sang istri. Dimana Mita kini sudah berada di dalam gendongannya.
Yazid membawa sang istri untuk masuk ke ruangan miliknya. Satu hal yang ia sesali, Yazid tak berpikir sama sekali untuk membuat kamar pribadi di ruangan itu. Hingga terpaksa ia pun membaringkan Mita di atas sofa panjang. Pelan ia letakkan tubuh sang istri dan bergegas menuju meja kerja.
Selama Mita tidur, Yazid pun nampak fokus bekerja. Tidak tahu saja dia jika di luar sudah ada seorang wanita yang berniat memasuki ruang kerjanya.
“Yazid pasti sudah ke kantor. Ini kan jadwal pentingnya hari ini.” ujar Nia begitu bersemangat. Penuh percaya diri ia melewati semua karyawan di kantor itu meski kedua matanya nampak sembab akibat menangis terlalu lama.
“Yazid, aku bawa makan untukmu.” Tanpa mengetuk lebih dulu Nia membuka pintu dengan bebasnya.
Di sana Yazid tampak menatapnya dengan datar saat teralihkan fokus kerjanya oleh Nia. Sedang Nia justru menatap pada Mita yang terbaring lurus di sofa ruang kerja Yazid.
__ADS_1