
Satu minggu telah berlalu sejak perubahan sikap Mita pada sang suami. Pagi ini Yazid menatap sang istri yang nampak sudah sangat rapi. Ingin menegur namun rasa gengsi di dirinya masih begitu besar untuk di ungkapkan. Yazid memperhatikan setiap pergerakan sang istri, semua penampilan begitu sempurna di tubuh Mita.
"Apa dia mau pergi lagi? Tapi kemana? ini masih sangat pagi." gumam Yazid menerka-nerka sang istri tanpa berani bertanya.
Melihat Mita tampak sibuk menata rambutnya, akhirnya ide muncul di benak Yazid saat itu juga. Bergegas pria itu berlari cepat keluar kamar dan keluar dari rumah. Sebuah mobil yang sudah nampak di parkir dengan persiapan keluar membuat Yazid memilih ide gilanya untuk mengempeskan ban mobil.
"Loh, Tuan kok mobilnya..." pelayan yang tak sengaja melihat tingkah sang tuan hanya di minta oleh Yazid untuk bungkam.
Dan beberapa saat setelahny Yazid pun bergegas bersiap di kamar dengan terburu-buru. Semua gerakannya membuat sang istri tampak heran, namun sekali lagi Mita acuh dan keluar dari kamar. Ia enggan untuk menyapa pria yang begitu meninggalkan luka di hatinya.
Saat tiba di halaman rumah wanita itu turun kembali dari mobil saat merasakan ada yang tak nyaman. "Astaga kenapa sih ini mobil nggak tepat banget?" umpatnya marah melihat ban mobil yang bahkan anginnya sudah tak ada tertinggal lagi.
Di waktu yang bersamaan, Yazid pun nampak lewat dengan mobilnya. Dalam hati pria itu merasa sangat senang. Misinya telah berhasil untuk mencari tahu mau kemana sang istri pagi-pagi begini.
Yazid masih enggan untuk menyapa. Ia berakting dengan baiknya saat melewati sang istri. "Apa? Demo para taksi? apa itu artinya tak ada taksi online dan lainnya hari ini beroperasi?" lantas ucapan dari sang suami membuat Mita berpikir sejenak.
Waktu di jam sudang sangat mepet tak memiliki watu lama rasanya untuk ia berpikir. "Ah sudahlah." ujarnya mengalah.
"Kak, aku mau ikut. Aku keburu tolong antarin aku." ujar Mita saat itu.
Senyuman pun mengembang dalam hati pria itu setelah lama ia tak mendengar suara sang istri. Entah mengapa semua terasa berbeda saat ini dari pertama kali mereka menikah. Hal yang berubah justru membuat dirinya sangat penasaran dengan sang istri. Jika dulunya Mita begitu sangat agresif padanya, saat ini Mita justru terkesan sangat cuek.
__ADS_1
"Masuklah," pintah Yazid dan Mita masuk ia duduk di samping suaminya.
Keheningan di dalam mobil membuat Mita harus kembali membuka suara. "Ke kantor Pratama, Kak." ujarnya singkat dan hal itu membuat jiwa kepo Yazid semakin tinggi.
Untuk apa sang istri ke kantor ternama itu? Apa ada hal yang membuat Mita terdesak sampai harusĀ buru-buru pergi? Sungguh keterdiaman di antara mereka kini membuat Yazid justru menderita sekali. Semua hal yang di lakukan oleh Mita membuatnya sangat penasaran.
Tiga puluh menit pun berlalu begitu saja. Mita turun tanpa mengatakan apa pun pada sang suami. Penampilan sempurna sang istri membuat Yazid ketar ketir sendiri. Terlebih lagi saat Mita berjalan memasuki lobi beberapa pria yang berpapasan dengannya begitu terpana dengan kecantikan Mita. Melihat itu sungguh Yazid terbakar api cemburu. Tangannya mengepal erat dan memarkirkan mobilnya secara buru-buru. Pria itu melangkah masuk mencari keberadaan sang istri.
"Selamat siang, mari ikut saya." seorang wanita tampak begitu menyapa Mita dengan ramah.
Keduanya berjalan bersama menuju ke sebuah ruangan. Di sini Yazid berdiri penasaran tanpa tahu apa yang ingin di lakukan sang istri. Duduk seorang diri di loby tanpa tahu tujuan. Satu jam, dua jam, tiga jam hingga setengah hari pria itu menunggu dengan gusar namun sang istri tak kunjung keluar juga.
"Astga, sedang apa Mita?" umpatnya kesal dan lapar di rasakan saat ini.
"Kak Yazid?" ujarnya kaget.
"Siapa, Mita?" pria di sampingnya pun bertanya sebab Mita tampak menatap Yazid yang berdiri.
"Em...suami saya, Pak." jawab Mita gugup.
"Oh, temuilah limat menit. Saya tunggu di mobil." pria itu tampak menatap Yazid dengan tajam.
__ADS_1
"Cih...jadi wanita yang kerja denganku istri dari seorang pengusaha juga? Lucu." ujarnya dalam hati sembari melangkah menatap sinis Yazid.
Kedua pria yang saling bertatapan sinis membuat Mita terheran. Apa yang tejadi sebenarnya?
"Kak," panggil Mita mau tak mau menyapa sang suami. Waktu yang di berikan sang bos tak lama dan itu tak boleh ia sia-siakan. Jangan sampai hari pertama ia bekerja justru membuat sang bos tak suka padanya sebab membawa masalah pribadi pada kantor.
"Apa-apaan ini, Mita? Kau bekerja dengannya?" tanya Yazid marah namun tetap berbicara dengan nada sepelan mungkin.
Ia tak ingin jika musuh dalam bisnisnya itu justru menertawakan dirinya yang memiliki pernikahan tak harmonis. Mita terkekeh dalam hati melihat sang suami yang sudah bertanya lebih panjang dari kalimat biasanya.
"Iya, Kak. Aku kerja dengan pak Deni. Hari ini adalah hari pertama aku kerja di perusahaan ini." ujar Mita menjawab.
"Aku ada salah apa sih, Mit?" tanya Yazid tiba-tiba membuat Mita mengerutkan kening. Di detik berikutnya wanita itu terkekeh.
Bagaimana mungkin sang suami bertanya padanya tentang salahnya? Jika di jelaskan sangat banyak salah dari Yazid. Hanya saja Mita enggan ribut yang terpenting baginya ia menikahi pria yang ia pilih dan juga keluarganya pilih. Selagi Yazid masih menjaga diri dari godaan di luar sana Mita akan baik-baik saja.
"Kakak tanya salah kakak apa?" tanya Mita dan Yazid pun menatapnya dalam.
"Mba Mita, Tuan Deni sudah memanggil." Seorang supir berlari memanggil Mita atas perintah sang atasan.
Dan terpaksa percakapan keduanya pun harus terhenti mengingat Mita harus pergi makan siang dengan sang bos. Sekaligus ada pertemuan dengan client siang itu juga.
__ADS_1
"Aku pergi dulu, Kak. Sebaiknya kakak pikirkan semua yang sudah terjadi selama ini." Mita pun melangkah pergi meninggalkan Yazid yang memandangnya dengan tatapan sendu.
Wanita yang selalu ribut membuatnya pusing kini sudah tak ada lagi. Wanita yang setiap hari mengisi hari-harinya kini tampak sibuk dengan dunianya sendiri. Sungguh Yazid benar-benar kehilangan Mita yang sangat care dengannya. Masakan yang sering kali membuatnya ingin muntah entah mengapa kini ia rindukan. Suapan yang di berikan sang istri sembari mengomel tanpa henti membuatnya kesepian saat tak mendapatkan itu lagi.