Kekurangan Istriku

Kekurangan Istriku
Kedekataan Yang Tidak di Sadari


__ADS_3

Ketika mobil berhenti di salah satu minimarket besar, Nia bertanya-tanya apa tujuan mereka kesini. Tidak mungkin kan Mita mengajaknya berjalan-jalan ke minimarket. Jika mall mungkin barulah tepat. Mobil berhenti dengan sempurna di parkiran dan Mita bergegas turun tak lupa ia mengajak Mita dengan wajah yang masih nampak ramah. Tidak tahu saja Nia jika dalam hati Mita terus mengumpat wanita yang bersamanya saat ini. Kekesalan dan cemburu ia rasakan saat benar Nia adalah wanita yang sempurna. Mendadak rasa percaya dirinya hilang begitu saja di hadapan Nia.


"Kak, ayo kok bengong aja sih?" ujar Mita membuyarkan lamunan Nia yang urung turun dari mobil.


"Ah iya."


"Ini kakak pegang dan sebutkan apa saja yang biasa kakak masakin untuk suamiku. Aku mau kakak lajarin aku masak semua menu kesukaan Kak Yazid. Malam ini aku mau buat kejutan buat Kak Yazid." Setelah bertanya dalam diam kini barulah Nia paham apa tujuan Mita membawanya berjalan-jalan sampai rela meminta orang suruhannya untuk mengurus kerjaan Nia di kantor.


Tentu saja semua demi keuntungan Mita semata, tidak mungkin demi keuntungan Nia. Semua yang Mita lakukan pasti untuk Yazid, Nia rasa ia terlalu percaya diri jika Mita ingin dekat dengannya murni karena ingin bersahabat. Tadinya ia berpikir hari ini akan sedikit menghibur dengan mereka berbelanja bersama atau menonton. Sayang, Mita justru mengajaknya untuk berselancar di dapur. Yah memang sepertinya itulah selera wanita ketika sudah menikah. Ia akan sangat senang membuat sang suami termanjakan.


"Mau masak apa aja, Mita?" tanya Nia memberanikan diri.

__ADS_1


"Memang berapa macam masakan sih yang biasa kakak masak untuk suamiku?" tanya Mita lagi enggan mengucap nama Yazid, ia lebih sering mengucap suamiku di depan Nia. Halus memang namun cukup mudah di pahami untuk hal menegaskan status mereka.


"Terong balado, sup ubi, ceker mercon, udang bumbu asam, sama kepiting saos lada hitam. Oh satu lagi cumi sambel pedas." Mita menganggukkan kepala mendengar ucapan Nia.


"Itu artinya ada beberapa bahan yang harus di beli di pasar juga yah Kak? Yasuda aku suruh bibi saja deh ke pasar biar lebih cepat waktunya." Nia pun hanya menurut saja apa keputusan Mita.


Hingga waktu kini sudah beranjak pukul dua siang dimana keduanya telah bekerjasama di dapur untuk memasak. Pelayan yang di perintah Mita pun sudah datang membawa cumi, kepiting, dan udang.


Sementara di sini Mita nampak memulai membuat bumbu satu persatu masakan yang di beri tahu Nia. Wanita itu bahkan juga membuat video agar mudah mengingat setiap resep yang di suruh oleh Nia. Yah mungkin dengan emosi seperti ini Mita akan jauh lebih mudah mencerna semua cara memasak untuk sang suami.


"Caranya seperti ini menarik isi perutnya. Itu tintanya yang terbungkus jangan di pencet, Mit. Kalau begitu semua bakal berantakan." ujar Nia akhirnya memberi tahu cara-cara pada Mita.

__ADS_1


"Hehehe makasih, Kak." sahut Mita pun mulai mempraktekkan.


Hingga pada akhirnya keduanya mulai bekerja sama memasak dan tepat pada pukul setengah empat sore semua sudah selesai. Meski pun dapur sudah seperti kotoran di pasar namun Mita sangat puas melihat hasil masakannya dengan Nia.


"Wah sudah jadi, Kak. Aku mandi dulu deh. Kakak mau mandi juga? Keburu Kak Yazid pulang." ujar Mita begitu bersemangat.


Sang pelayan hanya bertugas membersihkan dapur saat itu. "Sudah aku mau pulang aja, Mit. Kamu mandi saja." ujar Nia yang tak ingin berada di tengah-tengah mereka yang pasti akan saling menampakkan keromantisan mereka.


Tak ingin menahan sebab Mita pun tahu Nia sangat gerah ingin segera mandi. "Tunggu, kak. Ini buat kakak bawa pulang makan di apartemen. Makasih sekali lagi yah, Kak. Hehehe." Tanpa di sadari trik hari ini justru membuat Mita merasa senang dengan Nia.


Keduanya pun sama-sama tersenyum sampai akhirnya Nia di antar oleh supir untuk pulang ke apartemen. Di saat yang bersamaan, mobil Yazid pun memasuki rumah, namun keduanya hanya berpapasan dengan mobil tak sempat untuk menyapa.

__ADS_1


"Sayang, aku pulang." teriak Yazid ketika tak mendapat sambutan dari sang istri. Aroma berbagai macam masakan tercium begitu tajam di indera penciumannya.


"Nyonya lagi mandi, Tuan." ujar sang bibi yang menyapa Yazid dengan tangan memegang gagang pel lantai.


__ADS_2