Kekurangan Istriku

Kekurangan Istriku
Kesadaran Nia


__ADS_3

Hampir saja dua bola mata pria itu jatuh dari cangkangnya ketika membuka pintu kamar. Suguhan pemandangan yang sangat gila menurutnya. Ketika tubuh terasa sangat lelah, Yazid kecil justru terbangun begitu saja melihat kemolekan tubuh Mita yang duduk membelakanginya saat ini. Lingerie warna merah maroon begitu kontras dengan kulit putihnya di depan meja rias sana. Mita tampak mengoles body lotion di lengan dan kaki jenjangnya.


“Kak Yazid sudah pulang? Mandi gih baru kita makan.” tutur Mita dengan santai.


Namun, pria yang di ajaknya berbicara justru tak bisa lagi santai. Yazid mendekat dan langsung mengurung tubuh sang istri ke dalam dekapannya. Aroma wangi mengeruak begitu saja. Sungguh Mita benar-benar menyuguhkan hidangan terlezat bagi sang suami.


“Sayang, tunggu jangan kemana-mana. Kakak mau bersihin badan dulu.” Secepaf kilat pria itu melempar kesana kemari pakaiannya dan menuju kamar mandi. Mita terkekeh geli melihat sang suami yang sepertinya sudah terkena ramuan ranjang seorang istri.


Tak sampai lima menit akhirnya pria itu pun keluar dan langsung menggendong tubuh Mita. Tanpa babibu lagi serangan pun di layangkan. Mita nampak menikmati sentuhan sang suami yang begitu gila.


Ia menggelinjang tak karuan hingga keduanya berakhir dengan tubuh yang sama-sama kelelahan. Mita berbaring sejenak sebelum akhirnya mereka bergegas menuju kamar mandi membersihkan diri dan berpakaian.

__ADS_1


“Kenapa sih kak, senyum-senyum mulu?” tanya Mita yang sebenarnya sudah tahu itu adalah bentuk kepuasan yang Yazid rasakan.


“Hari ini kamu benar-benar perfect, Sayang.” Mereka berdua berjalan bergandengan menuju meja makan. Yazid benar sangat bahagia. Masakan kesukannya sudah di hidang lengkap.


“Ini hasil masakan aku yang di ajari sama sahabat kakak. Di makan yah?” Yazid semakin terperangah mendengar ucapan sang istri.


“Kamu belajar sama Nia?” tanya Yazid merasa ini semua mimpi.


“Mulai sekarang kakak nggak boleh lagi makan masakan siapa pun selain masakanku. Kakak harus protes apa aja kurangnya masakan ku, titik.” Yazid hanya mengangguk tersenyum.


Istrinya kalau cemburu soal masakan suka lucu sekali. Dan itu membuatnya semakin cinta.

__ADS_1


“Oke sayang. Yasudah ayo makan. Terimakasih yah usaha kamu benar-benar untuk jadi istri yang baik kakak acungi jempol deh.” Yazid mengusap punggung tangan Mita ketika mereka duduk berhadapan di meja makan.


Keduanya pun makan dengan tenang, tidak dengan Nia. Yang justru makan seorang diri di apartemennya. Masakan yang di bawakan Mita menjadi teman sepinya kala ini.


Wajahnya tampak sedih namun terlihat sedang tersenyum.


“Mita anaknya juga seru sih. Meski kadang suka rada-rada. Wajarlah dia kan sedang cemburu. Apa aku terlalu berlebihan yah memperlakukan Yazid? Tapi, bukankah selama ini memang kami seperti itu? Seharusnya Mita paham dong.” tutur Nia bergumam dalam hatinya sembari menikmati makan.


Sepanjang malam setelah pulang dari rumah Mita, Nia terus memikirkan ucapannya sendiri. Menimbang-nimbang tentang dirinya dan Yazid. Ingin menjauh rasanya, tapi Nia tidak siap kehilangan sahabat. Ia tidak siap kehilangan satu-satunya orang yang paling perduli padanya selama ini.


“Huh benar-benar menyedihkan hidupku. Apa memang jalanku akan seperti ini terus? Mengapa apa yang aku miliki selalu kau ambil, Tuhan? Apa berikutnya nyawaku juga akan segera kau ambil?”

__ADS_1


__ADS_2