
Apa pun yang di katakan Yazid, kini Mita tak lagi mau mendengar. Ia mengusap air matanya yang jatuh dan menghempaskan tangan sang suami. Sudah cukup lama rasanya ia berusaha menjadi istri yang di lihat oleh sang suami. Segala perjuangan yang mungkin bagi wanita di luar sana sangat sepele namun tidak bagi Mita. Sebagai anak tunggal dari pengusaha konglomerat, ia rela melakukan hal yang sangat melelahkan baginya semua demi sang suami. Harapannya semua usaha bisa lebih di hargai meski tak bisa mencintai dalam waktu cepat. Sayangnya, kehadiran Nia di pernikahan mereka begitu membuat Mita tak bisa mengontrol amarahnya.
"Mita! Mita, tunggu!" teriak Yazid yang ingin mengejar sang istri namun di tahan oleh Nia.
Merah mata Mita menatap tajam Nia saat melewatinya. Mita sungguh semakin terbakar rasanya kala mendengar suara Nia yang mencegah sang suami mengejarnya. Dengan sangat yakin di belakang sana Nia pasti menghalangi Yazid untuk keluar dari rumah.
Mobil pun melaju saat itu juga meninggalkan rumah pernikahan mereka. Mita benar-benar tak lagi tahan jika tinggal di rumah dengan kehadiran wanita yang menurutnya sudah sangat tidak ia sukai. Pagi itu mobil sangat laju membelah jalanan kota yang padat. Mita tak lagi perduli dengan keselamatannya. Yang terpenting saat ini adalah membersihkan diri di rumah sangĀ mamah lalu bergegas ke kantor.
Persetan dengan janji pada Yazid untuk tidak bekerja. Toh pria itu juga bukan berhenti berhubungan dengan Nia, justru membawanya ke rumah saat ini.
Di rumah nampak Nia menenangkan sahabatnya.
"Tenang dulu. Okey? Sarapan dulu setelah itu kita akan pikirkan jalannya." dengan mudahnya Nia berkata demikian. Tanpa ia sadari jika dirinya bukanlah wanita yang memiliki hak ikut campur dalam masalah rumah tangga Yazid dan Mita. Sang pelayan yang berdiri di belakang sana nampak menggelengkan kepala mendengar Yazid yang justru duduk menuruti perkataan Nia.
Yazid nampak gusar meski ia berusaha menikmati sarapan di depannya. Pikirannya terus gelisah memikirkan Mita yang marah padanya. Ketakutan kala mendengar kata cerai dari bibir Mita sungguh membuat Yazid tak bisa lagi tenang. Baru semalam ia berbaikan dengan sang istri, masalah sudah kembali ia munculkan.
"Hei, ayo di makan lagi." ujar Nia mengusap lengan Yazid yang justru melamun.
__ADS_1
Mendengar itu, Yazid menatap Nia dengan tatapan bingung. Rasanya ingin sekali ia menjauhi wanita baik di depannya ini. Namun, mengingat Nia yang tak memiliki siapa pun sungguh membuat Yazid tak bisa tega melakukannya. Sementara hubungannya dengan Mita akan semakin hancur jika ia tak memperbaiki semuanya dan meninggalkan Nia.
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu ke apartemen. Dan aku akan ke kantor setelah itu." Yazid tak perduli dengan Nia yang terdiam mendengar ucapannya.
Ada kesedihan di mata wanita itu kala mendengar ucapan Yazid yang terkesan sangat tega. Nia tak bisa berkata apa pun sebab Yazid sudah masuk ke kamarnya untuk bersiap seperti yang ia katakan barusan. Sebenarnya bukan untuk bekerja, Yazid akan pergi ke rumah sang mertua demi menjelaskan semuanya.
Meski berat meninggalkan rumah itu, Nia tak ingin membuat Yazid marah padanya. Hanya patuh yang bisa ia lakukan saat ini. Keduanya pun sudah berada di mobil untuk menuju apartemen. Yazid mengantar Nia sampai di dalam apartemen kala itu.
"Jangan takut. Semuanya sudah aman aku jamin itu. Sekarang aku harus pergi, Nia." ujar Yazid begitu buru-buru.
"It's oke." Yazid pelan menyingkirkan tangan Nia dan bergegas pergi. Sebaiknya ia menghindari moment berdua dengan Nia dari pada kembali terjadi salah paham.
Nia terduduk sedih di kamarnya. Hidup seorang diri bukanlah hal yang mudah untuk ia lalui sepanjang waktu. Kepergian Yazid meninggalkannya membuat Nia sangat sedih saat ini. Jika biasa mereka akan bersama hampir setiap waktu, siapa pun yang sedih keduanya akan saling berganti menghibur. Kini tak lagi sama. Nia akan hidup sendiri berusaha menghibur dirinya sendiri.
Pag-pagi Yazid sudah harus di hadapkan dengan masalah. Dimana kini pria itu harus menghadap dengan sang mertua demi bisa bertemu dengan Mita.
"Selamat pagi, Mah. Pah." ujar Yazid menyapa sang mertua. Setidaknya itu tidak terlalu buruk untuk sekedar basa basi di pertemuan pertama mereka setelah beberapa saat berlalu.
__ADS_1
Jika ia pikir akan mendapat amarah, Yazid salah. Justru kedua mertuanya nampak menawarkan sarapan bersama. "Sarapan dulu yok, Zid. Kamu belum sarapan pasti kan? Sebab Mita pagi-pagi sudah di sini." Yazid hanya tersenyum kikuk.
Jika di jawab sudah sarapan, tentu akan muncul pertanyaan siapa yang membuat sarapan? Sementara Mita sibuk pagi-pagi pindah rumah. Akhirnya yang di lakukan hanya bisa menolak saja.
"Nanti saja, Mah. Saya mau bertemu Mita dulu sekarang." ujarnya dengan hati-hati.
"Silahkan ke kamarnya langsung saja yah?" ujar Imah. Segera Yazid pun bergegas menuju kamar sang istri dimana Mita tengah membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Waktu yang sudah sangat siang membuat Mita terburu-buru untuk bersiap ke kantor hingga tak lagi perduli dengan siapa orang yang ada di kamarnya saat ini.
"Apa perlu kita membuat pagi pertama untuk pernikahan kita?"
"Aaaaaa!" Teriakan Mita begitu melengking hingga terdengar ke segala sudut rumah. Handuk yang ia letakkan di kepala dengan tubuh polos membuat Mita kebingungan melihat Yazid begitu jelas menatap tubuh polosnya yang segar pagi itu. Tangan mungil yang ia miliki tak mampu menutup setiap titik sensitif di tubuhnya dari pandangan nakal sang suami. Mita berlari kembali ke kamar mandi. Yazid yang semula sedih dengan kemarahan sang suami tampak terkekeh geli melihat pemandangan yang sangat segar.
"Bagaimana bisa aku menolak wanita cantik ini selama pernikahan kami?" gumamnya tak habis pikir.
Selama ini sepertinya mata Yazid tertutup dengan persahabatannya bersama Nia sampai tak bisa melihat pesona sang istri yang begitu nyata.
__ADS_1