Kekurangan Istriku

Kekurangan Istriku
Pertengkaran Nenek dan Nia


__ADS_3

Selama perjalanan pulang Mita nampak duduk tenang tak menunjukkan lagi kekesalannya pada Yazid. Pria itu pun menyetir mobil dengan santai namun perjalanan yang mereka lewati saat ini membuat Mita mengerutkan kening heran. Ia menoleh menata sang suami saat arah mobil bukanya menuju rumah melainkan ke arah jalan tol kota lainnya.


"Kak, kita mau kemana?" tanya Mita heran. Di sampingnya Yazid justru tersenyum pada Mita.


"Kita akan liburan. Memang kenapa? Istriku tidak perlu menunggu cuti bekerja lagi bukan?" tanya Yazid yang membuat Mita terheran-heran.


Benar apa yang Yazid katakan. Ia tidak lagi bekerja, bahkan saat ini mungkin saja Deni akan sangat marah besar mengetahui jika Mita berhenti tanpa memberi tahu padanya. Bukan suatu masalah bagi Yazid tentunya. Sebab ia sudah memberi surat pengunduran diri di kantor Deni melalui orangnya.


"Kak, aku harus mengajukan surat pengunduran diri lebih dulu. Meski pun aku belum tanda tangan kontrak." ujar MIta.


"Semua sudah beres. Sekarang waktunya kita honeymoon. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Oke?" Wajah putih Mita memerah mendengar ucapan sang suami.


Honeymoon? Sungguh Mita sampai sejauh ini tak pernah memikirkan hal itu. Sebab sedari awal menikah bisa tidur berpelukan dengan pria yang begitu ia cintai rasanya sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Dan kini Yazid justru mengajaknya untuk berbulan madu yang entah dimana tempatnya Mita sendiri tidak tahu.

__ADS_1


Keduanya pergi meninggalkan seseorang yang di sini nampak begitu gelisah. Kesendirian membuatnya tak tahu harus melakukan apa. Bahkan untuk menghubungi pun tak bisa ia lakukan sebab ponsel yang ia ingin telepon tidak aktif. Dia adalah Nia, beberapa kali wanita itu nampak mengumpat kesal saat jam sudah menunjuk pada pukul setengah dua belas siang. Dimana waktu makan siang akan segera tiba. Ruangan yang biasa Nia kunjungi pun tak ada sosok pria yang ia cari.


"Kamu dimana sih, Yazid?" tanyanya heran mondar mandir di ruang kerja sendirian. Di tangannya nampak bekal yang ia bawa untuk sang sahabat seperti hari biasanya.


Duduk, berdiri, duduk lagi namun sampai jam makan siang usai Nia tak melihat tanda-tanda kedatangan Yazid. Segera ia pun bergegas untuk menuju kantornya bekerja kembali. Sayang, belum saja ia keluar dari ruangan Yazid seorang wanita tua datang menghampirinya.


"Ne-nenek?" Nia nampak gugup melihat wanita yang berdiri dengan tongkat di depannya saat ini.


Pandangan yang tak pernah berubah dari wanita tua itu selama ini pada Nia. Entah apa yang membuatnya menatap Nia selalu seperti itu. Senyuman kaku yang Nia berikan pun sama sekali tak di balas oleh Fena. Wanita tua itu adalah Fena, nenek dari Yazid yang sudah mendengar kabar tentang sang cucu yang kerap kali mendapatkan makan siang dari wanita di hadapannya saat ini.


"Mulai hari ini berhenti membawakan makan siang untuk cucu ku. Kalau kau masak terlalu banyak, antar untukku saja. Sebab Yazid sudah memiliki istri yang bisa membuatkan makan siang untuknya." ujar Fena menatap tajam Nia.


Selama ini ia hanya diam mendengarkan semua keluhan serta tangisan dari Mita, namun tidak untuk sekarang. Dimana ia mendengar jika Mita siap untuk bercerai dengan cucunya karena wanita di depannya saat ini. Fena tak akan membiarkan hal itu terjadi.

__ADS_1


"Tapi Nek itu kesukaan Yazid. Kalau nenek mau aku akan memasakkan juga untuk nenek. Tidak perlu mengambil milik Yazid. Lagi pula wanita itu tidak bisa-"


"Tidak bisa apa? Kau ingin mengatakan Mita tidak bisa memasak? Tapi dia jauh lebih tahu mana kewajiban dan mana keinginan. Berhenti berlaku seolah kau seperti istri cucuku, Nia. Pergi dari hidup Yazid." Nia meneguk salivahnya kasar mendengar suara lantang sang nenek yang serak. Meski susah payah ia membesarkan suaranya, namun demi menegaskan pada Nia, Fena tak perduli jika esok suaranya akan hilang.


Suasana ruangan itu nampak menegang, Nia yang hanya berdiri tak mengiyakan permintaan Fena pun membuat wanita tua itu semakin geram rasanya. Jelas ia bisa melihat ada tatapan tak suka dari Nia yang berusaha ia sembunyikan dari Fena. Sayang, usia yang begitu senja sudah mengajarkan Fena membaca setiap pikiran lawan yang sedang berhadapan dengannya.


"Aku tidak memiliki siapa pun selain Yazid, Nek. Dia satu-satunya sahabatku." Nia kembali menunjukkan wajah sedihnya.


Ni kembali berusaha mengambil makanan yang Fena gengggam. "Lepaskan, Nia. Lepaskan!" teriakan Fena dan adegan tarik menarik pun terjadi. Nia kekeuh untuk mengambil makanan itu.


Satu hari pun Nia tak mau melewatkan momen mengantar makanan kesukaan Yazid. "Lepaskan, Nek." Nia beruha keras hingga akhirnya Fena kalah tenaga dengan Nia saat wanita itu merampas secara kasar bekal makanan dari Fena.


Dan saat itu pula Fena terjatuh ke lantai marmer ruangan sang cucu. Suaranya yang kesakitan membuat Nia tersentak kaget. "Nenek," Nia hendak membantu namun Fena yang berteriak sontak membuat orang di luar ruangan berlari masuk saat pintu tidak tertutup rapat.

__ADS_1


"Pergi darii sini!" itulah teriakan Fena yang menggema sebelum akhirnya wanita tua itu pingsan tidak sadarkan diri.


__ADS_2