
Di rumah sakit seluruh keluarga berkumpul dengan wajah begitu cemasnya setelah salah satu karyawan di perusahaan memberi tahu perihal jatuh sakitnya Fena di ruang kerja sang presdir, di sana juga Nia berdiri dengan wajah cemas. Ketakutannya jika sampai Fena kenapa-napa dan dirinya akan di musuhi seluruh keluarga Yazid. Jika mereka memusuhi Nia juga, lalu siapa yang akan perduli padanya lagi? Tidak. Nia tidak mau ini terjadi.
Gadis itu duduk di kursi tunggu sembari menjatuhkan air mata lantaran terlalu takut.
Dari arah lain, Vita mendekati Nia. Ia tahu apa yang Nia rasakan saat ini. Bahkan sejak lama pun ia tahu jika Nia dan Fena memanglah tidak saling cocok.
“Jangan nangis. Ibu baik-baik saja. Tinggal nunggu dokter yang akan menangani nanti. Sudah, tenanglah.” Nia menahan gemetar di tubuhnya. Ia tak ingin mengeluarkan suara tangis di kala keluarga juga tengah cemas memikirkan keadaan Fena di dalam sana.
“Aku takut, Bu. Aku takut membuat Nenek kenapa-napa. Yazid pasti akan marah besar padaku.” ujar Nia membayangkan sang sahabat yang akan benar-benar menjauhkan dirinya.
Vita nampak menghela napas kasarnya. Sekarang saja mereka tak ada yang memberi tahu tentang kabar Fena pada anaknya itu. Sebab sang suami melarang. Mereka semua tahu jika saat ini Mita dan Yazid tengah melakukan perjalanan untuk liburan.
__ADS_1
Sedangkan Nia yang sedih membuat Vita semakin tak tega rasanya. Kedekatan mereka memang sudah tak ada jarak lagi.
“Dokter, bagaimana ibu saya dok?” Suara Hendi menggema di depan ruang pemeriksaan Fena saat ini. Dokter yang baru saja keluar dari ruangan pun menjelaskan jika sang ibu hanya mengalami tensi darah yang naik akibat emosinya. Saat ini wanita tua itu sudah sadarkan diri di dalam.
Mendengar hal itu Hendi bergegas masuk ke dalam ruangan tanpa menunggu sang istri dan juga Nia.
Nyatanya kabar ini terdengar sampai ke telinga Wahid, sang besan. Saat baru saja Vita ingin melangkah masuk langkahnya terhenti kala mendengar suara pria tersebut.
Ia datang ke rumah sakit seorang diri tanpa membawa sang istri sebab mendadak sekali. Jatuh sakitnya Fena membuat Wahid sangat kaget dan tak memberi kabar lagi pada sang istri.
“Sudah sadar saat ini, Pak. Hanya tekanan darahanya saja yang membuatnya seperti itu.” sahut Vita masih tetap ramah.
__ADS_1
Meski ia tak begitu menyukai Mita, namun sopan santun harus tetap ia jaga sesama kalangan atas. Jangan sampai nama sang suami rusak karenanya.
Semua pun masuk ke ruangan dimana Fena langsung menatap tajam pada Nia.
“Nek, saya minta maaf. Saya benar-benar tidak sengaja.” Nia sadar akan kesalahannya hingga ia takut sekali jika keluarga mereka akan membuatnya masuk ke penjara.
Bukan menjawab, Fena justru membuang wajah enggan melihat Nia saat ini.
Hal yang berbeda terjadi di perjalanan. Kini Yazid belum juga tiba di tempat tujuan. Perjalanan yang cukup jauh membuat Mita tak tahan lagi untuk membuka mata. Wanita itu terlelap dengan nyenyak di samping sang suami.
Yazid terseyum. Wajah imut dan lucu milik Mita baru kali ini bisa ia sadari. Selama menikah saat tidur ia selalu membelakangi sang istri tanpa sadar jika yang tidur di sampingnya adalah sosok bidadari utusan sang nenek.
__ADS_1