
Cukup lama menimbang-nimbang, akhirnya Nia mantap untuk terbang ke negara impiannya. Negara yang ingin sekali ia kunjungi bersama dengan Yazid sewaktu dulu. Bahkan bertahun-tahun wanita itu bekerja ia berusaha menabung untuk berlibur berdua. Sayangnya, kini keduanya telah berjalan masing-masing. Nia berakhir pergi sendirian dan di sinilah ia saat ini. Malam yang indah begitu memilukan hati wanita berparas manis itu. Berdiri memandang beberapa orang pengunjung yang tengah menyantolkan gembok dengan nama yang mereka ukir di sana. Yah, Nia saat ini berada di sana. Kembali lagi harapannya saat dulu untuk menggantung namanya dan Yazid.
“Huh kenapa aku jadi wanita gila seperti ini sih?” gumam Nia kasihan dengan dirinya sendiri.
Tangannya bergerak menulis nama dirinya sendiri dan menggantung di sana. Tanpa ada nama pria yang ia tulis.
“Hahaha ternyata ada yang bernasib sama denganku juga?” seorang pria terkekeh di samping Nia usai melihat gantungan yang wanita itu gembok.
“Kenapa kau juga melakukan hal gila itu?” Sahut Nia melihat apa yang ia lakukan sama dengan pria itu lakukan. Hanya menulis nama mereka tanpa nama pasangan yang ingin mereka jadikan pendamping.
“Namaku Alvaro Abqary, siapa namamu? Em maksudku nama lengkapmu? Di situ hanya ada nama Nia. Aku rasa itu terlalu pendek.”
__ADS_1
Nia tersenyum kikuk mendengar pria di depannya yang senasib dengannya. “Namaku Nia, lanjutnya cari tahu sendiri.
“Oke, aku beri kau nama Nia Senasib. Ayo kita pergi berjalan. Rasanya rugi aku liburan ke negara romantis ini tanpa berjalan-jalan.” Entah mengapa mendengar nasib mereka yang sama Nia justru tak ragu sama sekali untuk menerima ajakan pria tersebut.
Keduanya berjalan ke menara eiffel disana mereka duduk memandangi tower yang tinggi itu. Sungguh indah, namun tak seindah suasana hati keduanya.
“Kenapa cinta itu harus bertepuk sebelah tangan?” Pertanyaan pertama yang Mita ucapkan pada Alvaro.
“Tunggu?” Ia tercengang bersamaan dengan Nia juga yang menatap dirinya heran.
“Kenapa kita pakai bahasa Indonesia?” Suara keduanya terdengar begitu serentak dan saling menunjuk.
__ADS_1
Lantas setelah itu mereka pun tertawa bersama. Itu artinya keduanya pun berasal dari negara yang sama.
Mereka pun malam itu menghabiskan waktu saling berbagi cerita yang menurut mereka sangat konyol namun tak bisa mereka iklaskan begitu saja.
Hati mudah untuk di katakan baik-baik saja. Namun, kekosongan yang terasa di dada begitu sulit untuk tergantikan dengan yang lain.
Di waktu yang sama kini kedua insan tengah beradu peluh. Mita dan Yazid juga tengah berlibur di negara yang menawarkan keindahan dunia. Aurora adalah pemandangan yang mereka pilih saat ini untuk memanjakan mata keduanya di negara Finlandia. Mita tak hentinya mengukir senyum saat mereka mengabadikan momen berfoto berdua. Sesekali Yazid mencium bibir sang istri sembari memegang lampu di tangan. Keduanya begitu terlihat romantis.
Dan foto tersebut langsung Mita dan Yazid unggah di sosial medianya. Banyak teman-teman Mita mau pun Yazid membicarakan keserasian mereka. Sedang Nia yang melihat rasanya ingin berteriak.
“Sudah jangan iri lagi. Kita bisa kok pergi berdua kesana dengan mengadu nasib yang sama. Sepertinya menyenangkan.” Nia menggeleng mendengar ucapan Alvaro menurutnya hanya gurauan semata.
__ADS_1