
Sebuah cafe yang menjadi tempat pertemuan antara Nia dan Alvaro malam ini tentunya membuat wajah pria itu berseri-seri. Setelah lama mendapat penolakan untuk makan malam, akhirnya Nia menghubunginya kembali dan mengajak makan malam. Rasanya Alvaro sedikit tak percaya jika Nia yang menelpon bahkan sampai memilih cafe yang nuansanya lebih romantis.
“Terimakasih yah, ajakannya. Jujur aku pikir kamu nggak akan mau makan malam denganku lagi setelah kejadian tersebut.” ujar Alvaro merasa hilang muka di depan Nia.
Nia tampak tersenyum lebar menatapnya. Tatapan mata wanita itu malam ini entah mengapa begitu beda sekali bagi Alvaro.
“Apa ada yang salah denganku, Nia?” tanyanya memeriksa wajah sampai berkaca di vas bunga yang ada di depan mereka.
Nia menggeleng. “Al,” panggilnya pelan.
“Iya, Nia?” sahut Alvaro dengan jantung yang entah seperti ingin meledak saja rasanya.
“Apa tawaran malam itu masih berlaku untuk aku jawab saat ini?” Pertanyaan Nia sukses membuat Alvaro membulatkan mata syok.
Mungkinkah yang di maksud Nia sama dengan yang di pikirkan pria itu? Malam dimana Alvaro mengutarakan Niat untuk menjalin hubungan serius dari ikatan sah dengan Nia. Yah, hanya itu hal yang bisa sinkron dengan ucapan Nia malam ini.
“Maksudnya? Yang menikah itu?” Nia mengangguk membenarkan pertanyaan Alvaro. Dan pria itu pun tersenyum ketika merasa ada angin segar untuknya malam ini.
“Tentu masih, Nia. Mau kah kau menikah denganku?” Pria itu pun kembali mengutarakan keinginannya.
Bukan tanpa alasan, setelah Nia pikir-pikir Alvaro seorang pria yang sudah cukup dalam kriteria suami yang baik. Nia tak ingin terus larut dalam hatinya yang keruh akan cintanya pada Yazid.
Sekali pun Alvaro bukan pria idaman, tetapi untuk menjadi seorang suami ia bukanlah pria yang kekurangan dalam segala hal. Kedewasaan pun Nia rasakan ada pada diri Alvaro.
__ADS_1
Mantap memutuskan untuk menerima pria yang bertemu dengannya di Paris.
“Yes, aku mau, Al.” ujar Nia mengangguk dan membuat Alvaro senang bukan main.
Pria itu lantas menarik genggaman tangan Nia dan mencium punggung tangan sang wanita. Tak perduli bagaimana hebohnya meja mereka malam ini sampai membuat Nia malu.
“Al, hentikan. Semua orang melihat kita.” tutur Nia menegur namun pria itu acuh.
“Bulan depan kita nikah. Minggu depan kita lamaran. Oke?” Mata Nia membulat sempurna kaget mendengarnya.
“Nggak secepat itu juga, Al.”
“Patuh sama calon suami, Nia.” Keduanya terkekeh bersama sungguh lucu rasanya.
***
Pagi harinya sebelum berangkat ke kantor, Nia memutuskan untuk menuju kediaman Yazid lebih dulu. Ia mengutarakan niatnya untuk meminta keluarga sang sahabat mendampinginya untuk menikah.
“Wah Kak Nia mau nikah? Selamat yah kak. Kita juga akan punya anak.” Mita begitu heboh bersuara membuat semua ikut tersenyum pagi itu di meja makan.
Sebab Nia datang tepat pada waktu mereka ingin sarapan alhasil Nia pun bergabung.
Karena alasan hamil, Mita terpaksa di minta keluarga untuk tinggal bersama mereka agar mereka semua bisa mengontrol segala aktifitas wanita itu.
__ADS_1
“Iya, Mita. Semoga lancar yah buat kita berdua.” sahut Nia dengan tulus.
Yazid yang tak bersuara apa pun terus sibuk mengusap punggung tangan sang istri sembari menyuapi Mita makan. Tak percaya rasanya jika pria yang sedari awal pernikahan terus menjelekkan sang istri kini terlihat bucin sekali.
Dan tak terasa hari bahagia yang di nantikan pun tiba. Tepat satu bulan momen di terimanya Alvaro oleh Mita, kini mereka berdua telah sah menyandang status suami istri.
“Selesai sudah rasa bersalahku, Nia. Kita akan bahagia bersama pasangan kita masing-masing. Dan Alvaro yang akan menggantikan aku menjagamu ke depannya dan aku akan menjaga istri dan anakku.” gumam Yazid dalam hati tersenyum menatap Nia yang begitu cantik.
Mita yang sadar akan tatapan sang suami pada Nia segera menyenggol lengan sang suami.
“Apa sayang?” sahut Yazid.
“Kakak jangan genit yah matanya!” ancam wanita itu begitu tajam dan Yazid hanya tersenyum lucu.
Sepulang dari acara pernikahan Nia, Mita pun kembali memasak makan malam untuk semua keluarga.
“Selamat makan, Nenek.” serunya saat meletakkan menu terakhir yaitu sup asparagus.
“Kok nenek saja, Mit?” tanya Yazid heran.
“Kakak makan masakan Kak Nia aja. Dari tadi liatin dia kan? Kenapa apa karena aku sudah hamil jadi jelek? Kak Yazid mau liatin Kak Nia terus? Sana makan sama-sama Kak Alvaro saja.”
Semua terkekeh mendengar kemarahan Mita yang terdengar kembali cerewet seperti dulu. Selama ini wanita itu sudah berubah kalem dan sekarang entah setan apa yang masuk ke tubuh ibu hamil tersebut.
__ADS_1
Tamat