
Suasana kamar malam yang berhiaskan bintang di jendela kaca sana menambah sensasi yang tiada duanya. Untuk pertama kali tubuh yang baru terjamah itu bergetar kala merasakan tangan bergerak di bagian leher hingga turun ke dada. Tangan kekar dan besar milik Yazid tampak menari indah di dua bongkahan lembut milik sang istri. Mita berdiri mematung, entah apa yang harus ia lakukan saat ini. Berdiri di samping tempat tidur membiarkan sang suami beraksi sendiri. Yazid benar-benar tak mau melewatkan kesempatan ini. Ia menelusuri setiap lekuk tubuh Mita sungguh benar-benar malam yang sangat di nantikan sebagai pria.
Pelan pelan samar terdengar napas yang mulai sulit beraturan. Yah, Mita kesulitan bernapas saat ini. Matanya sudah terpejam larut terbawa permainan sang suami. Cukup lama Yazid membiarkan suasana semakin sulit terkendali, hingga pakaian yang di pakai Mita pun terlepas begitu saja dan kini wanita itu hanya bisa menahan malu ketika sadar dirinya tak memakai apa pun lagi.
“Aku akan melakukan dengan lembut. Jangan takut.” bisik Yazid ikut berdiri saat sadar sang istri nampak berkeringat dingin.
Tak ada suara yang Mita ucapkan hingga akhirnya lama Yazid memeluk tubuh polos itu dan membawanya ke atas kasur. Benar apa yang Yazid katakan. Jika ia memang melakukan semua dengan pelan dan penuh kelembutan. Mita yang semula meneteskan air mata karena rasa sakit yang luar biasa akhirnya kini memejamkan mata kembali saat rasa nikmat terus menghujam tubuhnya. Keduanya mulai bergerak tak beraturan.
“Panggil namaku, Mita.” pintah pria itu berbisik sembari menggigit daun telinga putih milik sang istri.
Mita melakukannya. “Kak, Kak Yazid!” Teriaknya dengan suara yang sangat seksi.
Permainan pun berlangsung tak hanya sekali saja. Maklum ini adalah hal pertama bagi mereka dan tentunya akan sangat ketagihan. Hingga waktu berputar pada pukul sebelas malam barulah permainan berakhir benar-benar.
Jika sebelumnya mereka hanya beristirahat sejenak lalu kembali melakukan, kali ini Mita merasa perutnya sangat lapar.
“Tunggu di sini. Biar aku yang ambilkan makan.” Segera Yazid pun menuju dapur.
Tak tega rasanya melihat Mita yang kelelahan di tambah lemas akibat kelaparan. Malam ini Mita begitu sangat bahagia. Senyum di wajahnya terus mengembang melihat pria yang ia cintai kini berjalan ke arahnya dengan makanan hasil buatan Yazid sendiri.
__ADS_1
Indomie kuah dengan telur yang di padukan serta cabai dan jeruk nipis. Di luar sedang sangat dingin tentu makanan yang pas adalah makan berkuah.
“Terimakasih, Kak. Ini sangat enak dari masakan yang aku masak berjam-jam.” Mita merasa malu dengan kemampuan dirinya yang sangat buruk dalam hal dapur.
Mendengar itu Yazid merasa bersalah. Selama ini ia selalu menghina hasil kerja keras sang istri. “Maafkan aku, yah?” ujarnya menatap Mita dengan penuh sesal.
“Maaf kenapa, Kak?” tanya Mita heran.
“Selama ini semua kerja kerasmu tidak ada yang aku hargai. Tapi jujur saat kamu berubah, kakak merasa sangat kehilangan. Jangan berubah lagi yah? Tetap jadi Mita yang sebenarnya.”
Yazid mengecup kening Mita penuh sayang, Mita pun tertawa mendengarnya. Rasanya begitu bahagia sekali, kini Mita tak lagi merasa perjuangannya sia-sia. Ia sudah berhasil menjadi istri seutuhnya. Yazid memperlakukannya dengan sangat baik.
Malam pun semakin larut, keduanya justru memilih untuk duduk bersantai di balkon kamar, lagi-lagi Yazid yang bergerak membuat coklat hangat dua gelas.
“Ada apa, Sayang?” panggilan yang Yazid sematkan rasanya memporak porandakan hati Mita di dalam dada saat ini.
“Terimakasih sudah menerima semuanya.” ujar Mita bersyukur. Kini rumah tangga mereka sudah seperti rumah tangga pada umumnya.
“Dan kakak minta maaf untuk semuanya. Mulai saat ini kita akan bangun rumah tangga kita dengan kebahagiaan. Kakak janji untuk menebus semua kesalahan kakak, kita akan pindah dari kota ini.” Mita benar-benar kaget mendengar keputusan sang suami.
__ADS_1
Ia sontak menoleh dan menatap Yazid kaget. “Iya, kita harus pindah dan memulai semuanya berdua. Setelah kakak pikir tinggal berdekatan dengan keluarga akan sulit membuat kita mandiri, Mit.”
Mata Mita berkaca-kaca mendengarnya. Pindah dan menjauh dari keluarga. Itu artinya ia akan sulit bertemu nenek dan kedua orangtuanya.
“Apa harus pindah, Kak? Lalu bagaimana dengan nenek yang usianya sudah begitu tua? Apa kita akan menyia-nyiakan waktu berjauhan dengannya?” Yazid menghela napas tak tega mendengar ucapan sang istri.
Yang pertama kali Mita pikirkan bukan dirinya melainkan nenek mertua yang seharusnya justru Yazid lah yang memikirkan semua itu.
“Aku nggak tega ninggalin nenek, Kak.” Lama Yazid terdiam.
Di satu sisi hanya menjauhlah cara yang bisa ia lakukan untuk membuat Nia tak lagi mengusik mereka. Berkata terus terang untuk tidak dekat dengannya, sungguh Yazid tak tega. Bagaimana pun wanita itu adalah sahabatnya sejak lama. Namun, di sisi lain ada Nenek yang begitu menyayanginya dan sang istri.
Usia yang sudah sangat banyak di miliki Fena tentu membuat Mita berjaga-jaga kapan pun sang kuasa bisa memanggil wanita tua yang begitu menyayanginya. Mita tidak akan mau jika sampai waktunya terbuang begitu saja ketika sang nenek mertua masih hidup.
“Kenapa? Kakak takut jika dia membuat hal lagi? Dan kita bertengkar lagi?” Mita bertanya pada Yazid seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran sang suami saat ini.
Ragu Yazid pun mengangguk. “Batasi kedekatan kalian, Kak. Hanya itu saja permasalahannya. Seorang wanita tidak ada yang selalu mengantar makan setiap hari seperti memperlakukan suaminya. Kalian sahabat dua orang yang sama-sama sehat. Bukan dua orang cacat yang harus saling melengkapi.” Penuturan Mita begitu terdengar menohon di pikiran Yazid.
Benar, apa yang Mita katakan. Hanya batasan saja yang menjadi permasalahan.
__ADS_1
“Dua orang dewasa yang hanya bersahabat, rasanya tidak perlu untuk bersentuhan fisik dalam hal apa pun itu. Apa lagi sampai menceritakan keburukan pasangan dengan sahabat.” Yazid yang menunduk kini mengangkat wajahnya menatap Mita.
Lagi-lagi ucapan Mita sangat menampar wajahnya saat ini.