
Berpikir akan menikmati liburan seorang diri, ternyata Nia justru di temani oleh Alvaro yang bernasib sama dengannya. Pria itu nampak setia menghibur Nia selama liburan hingga mereka akhirnya pulang ke negara asal mereka berdua juga. Kini pesawat telah melandas di salah satu bandara Indonesia. Keduanya berjalan beriringan keluar dari bandara.
"Kak Nia," terdengar suara sapaan dari arah lain.
Nia menoleh menatap ke arah sumber suara dimana Mita memanggilnya. Wanita cantik itu tengah bergandengan tangan dengan sang suami yang menarik koper mereka. Mita menarik tubuh Yazid mendekat ke arah Nia yang berdiri bersama seorang pria asing.
"Loh kalian juga sudah pulang?" tanya Nia yang refleks menutup mulutnya.
"Memang kak Nia tahu kalau kita pergi?" sahut Mita yang penasaran dan Nia mau tidak mau harus menganggukkan kepala.
Di sampingnya Alvaro hanya diam memperhatikan percakapan mereka. Kini ia tahu jika pasangan di depannya inilah yang menjadi pembahasan mereka selama liburan hingga akhirnya mempertemukan keduanya di luar negeri.
"Iya aku tahu dari postingan kalian. Kebetulan ternyata kita pulang bareng yah?" celetuk Nia yang merasa sedikit kikuk bertemu mereka di bandara. Terlebih ketika bertemu dengan Mita dan Yazid saat ia sedang bersama dengan Alvaro.
__ADS_1
Jelas pria itu kini mengetahui orang yang ia bahas selama ini.
"Ayo, Sayang. Kita sudah di tunggu di rumah." sahut Yazid yang justru menarik tangan sang istri.
Mita pun bergegas pamitan dengan Nia, melihat Alvaro Mita dan Yazid hanya mengangguk tanda sapa meski tak berkenalan. Tanpa melihat Nia, Yazid berlalu pergi begitu saja bersama Mita. Pria itu benar-benar menjaga jaraknya dengan sang sahabat kali ini.
Sedih tentu saja Nia merasa sedih walau pun tidak sesakit sebelumnya. Sebab kehadiran Alvaro benar-benar sudah merubah harinya.
"It's oke." Alvaro menggenggam tangan Nia dan mereka juga keluar dari bandara.
"Kak," panggil Mita lembut.
"Ada apa, Sayang?" sahut Yazid.
__ADS_1
"Kenapa Kakak tidak menyapa Kak Nia?" Mita nampak penasaran sebab sang suami bahkan tak mengeluarkan suara sama sekali kata pada Nia.
Mendengar pertanyaan sang istri, Yazid tersenyum dan mencium kening sang istri. "Sapaan kakak sudah di gantikan sama istri yang cantik ini kan? Itu sudah cukup kok." ujar Yazid yang membuat Mita bingung.
Jika benar begitu pasti sebagai wanita itu tahu rasanya di cuekin dengan sahabat yang sangat dekat dengannya. Jujur Mita merasa senang namun rasa tidak tega justru lebih mendominasi saat ini. Apalagi ia dengar jika Nia hidup sebatang kara di kota ini. Pasti wanita itu akan merasa sangat kesepian sekali.
"Kak Nia itu baik, Kak?" tanya Mita lagi lagi.
Yazid hanya mengangguk tanpa memberikan komentar apa pun. Ia tak ingin membuat sang istri justru cemburu jika menceritakan sosok Nia yang sesungguhnya benar-benar wanita baik. Namun, entah mengapa sang nenek sampai segitunya membenci wanita itu.
"Bertemanlah dengannya dan cari tahu sendiri. Itu jauh lebih baik. Kakak hanya ingin fokus menjadi suami yang baik dan kerja keras mulai sekarang." Mikta tersenyum bangga mendengar ucapan sang suami.
Masakannya yang tidak enak tak perlu lagi Mita takutka, kini pria tampan di sampingnya sudah masuk dalam pesonanya.
__ADS_1
"Terimakasih yah, Kak." keduanya berpelukan sangat erat hingga akhirnya mobil pun tiba di halaman rumah milik mereka di mana para orangtua dan keluarga lainnya sudah berdiri menyambut kedatangan mereka dengan wajah tersenyum bahagia.