
Sebuah mobil datang menghampiri villa pagi buta. Pelayan yang bekerja di villa pun sudah tiba saat itu. Ia menyambut kedatangan orang suruhan sang tuan untuk membawakan pakaian baru. Sebab Mita tak membawa apa pun barang untuk ia pakai hari ini.
Sarapan di meja makan sudah terhidang dengan rapi. Kali ini bukan Mita yang memasak. Melainkan pelayan.
“Tuan dan Nyonya sepertinya belum juga bangun.” gumam pelayan itu melihat tak ada sama sekali tanda ada penghuni di villa tersebut kecuali dirinya. Sedangkan semua lampu pun masih menyala padahal kini sudah pukul sembilan.
Matahari di luar pun sudah cerah menyinari sekitaran gunung itu. Peperangan keduanya semalam benar-benar sangat melelahkan di tambah lagi Mita dan Yazid bergadang mengobrol di balkon kamar.
Sesuai hasil keputusan semalam, jika niat Yazid membawa sang istri pindah harus di batalkan. Demi sang nenek dan keluarga mereka akan tetap di kota tersebut. Dan bagaimana cara mengatasi Nia, hanya Yazid yang harus memikirkan hal itu. Sebagai seorang pria Mita ingin melihat bagaimana sang suami menegaskan pernikahan mereka pada Nia setelah bertemu nanti.
“Sayang. Mita, Mit, bangun.” Samar Mita mendengar panggikan di depannya. Usapan lembut di bibirnya siang itu membuat Mita terganggun.
Matanya tampak sipit akibat kurang tidur. Kini ia membuka mata dan melihat lelaki yang membuatnya jatuh hati kini sudah berada di depannya dengan jarak yang begitu dekat.
“Kak, jam berapa?” tanyanya dengan suara serak.
“Mandilah, tidak perlu bertanya jam. Kita sama-sama tidak bekerja bukan?” sahut Yazid yang enggan memberi tahu jam saat ini.
Mita pun bergerak menggeliat merasa malas sekali bangun darin tidurnya. Ia kembali memejamkan mata dan Yazid pun memeluknya usai menarik selimut kembali. Suasana sekitar yang sangat dingin membuat mereka betah bermalasan di kamar.
“Kok tidur lagi?” tanya Yazid yang hanya di balas gelengan kepala oleh Mita.
“Mit, nggak sarapan dulu? Sudah siang loh.” sahut Yazid yang hanya kembali mendapat gelengan kepala dari Mita.
Gemas dengan tingkah sang istri, pria itu pun masuk ke dalam selimut dan membuat Mita membuka lebar matanya. Kantuk yang sedari tadi sulit ia buang seketika hilang saat merasa ada sensasi geli dan nikmat di bagian dadanya saat ini yang tertutup selimut.
“Kak…” keluhnya namun tak menyingkirkan wajah sang suami di dalam sana.
__ADS_1
Gairah yang semula tak ada akhirnya secepat kilat kembali muncul. Yazid kembali meminta haknya pada sang istri siang itu hingga mereka berkali-kali menikmati adegan panas itu. Bangun hanya untuk membersihkan diri dan kembali lagi ke atas kasur.
Pelayan yang sudah menata makan pun terpaksa harus Yazid minta untuk mengantar ke kamar. Ini baru benar-benar namanya honey moon. Dari bulan ketemu bulan. Yah, keduanya keluar dari kamar dengan tubuh segar ketika waktu sudah beranjak pukul setengah tujuh malam. Dimana matahari tak mereka temui sejak kemarin.
Wajah tampan Yazid begitu berbinar menatap Mita yang duduk di depannya menikmati makan malam.
“Malam ini kita harus tidur cepat, besok pagi kita akan pulang, Sayang.” ujar Yazid yang gelisah dengan pekerjaannya.
“Kan harusnya pagi ini kita pulang.” sahut Mita.
Yazid terkekeh, memang dirinya lah yang menyebabkan pulang terlambat.
“Kamu godain kakak terus.” Mita malu mendengar ucapan sang suami.
Andai saja pagi tadi ia bangun dan berpakaian, tentu hal itu tidak membuat Yazid kelaparan memakannya selama satu hari di dalam kamar.
Kini kepulangan keduanya pun akhirnya di kejutkan dengan berita sang nenek yang berada di rumah sakit. Yazid dan Mita yang baru saja ingin masuk ke rumah mendapat informasi dari pelayan di rumah mereka.
“Ayo kak, buruan.” Teriak Mita yang berlari cepat ke mobil.
Keduanya bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang nenek. Sepanjang jalan Mita begitu gelisah. Jangan sampai hal yang paling ia hindari terjadi. Fena begitu sayang padanya, jika wanita tua itu pergi lalu siapa yang akan menjadi tempatnya berkeluh kesah.
“Nenek pasti baik-baik saja. Jangan seperti ini, Mit. Ayah dan Ibu bisa ikut cemas nantinya.” ujar Yazie menenangkan sang istri.
“Kenapa mereka nggak kasih tahu kita sih, Kak? Kalau nenek kenapa-kenapa gimana? Untung kita segera pulang.” ujar Mita penuh ketakutan menatap sang suami.
“Sudah, aku yakin nenek hanya sakit biasa sebab itu mereka tidak ada yang kabarin kita. Kalau keadaan nenek parah pasti ayah dan ibu hubungin kita.”
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Yazid berusaha menenangkan sang istri. Ia nampak sangat bersyukur memiliki istri yang begitu sayang pada sang nenek. Mita memang gadis yang super manja dan labil. Tapi ia memiliki hati yang begitu bersih. Tak ada drama apa pun di dirinya. Seperti yang di lakukan pada Yazid. Ketika hatinya berkata cinta, maka Mita akan sepenuh hati memperjuangkan. Dan ketika ia tidak suka apa pun yang ia ketahui tentu akan di benci.
Sepersekian menit akhirnya mobil pun berhenti di sebuah rumah sakit yang tidak begitu jauh. Mita dan Yazid turun dari parkiran dan berlari menuju ruangan yang sudah di beri tahu oleh sang ayah.
“Yazid,” panggilan dari seorang wanita pertama kali melihat kedatangannya. Langkah Mita tiba-tiba pelan saat melihat siapa yang ada di depannya.
Wanita itu adalah Nia, dia berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Yazid yang berjalan bersama Mita.
“Nenek, Zid. Nenek.” Nia nampak ketakutan sekali saat itu. Ketika ia menggerakkan tangan hendak memeluk Yazid, tiba-tiba saja Yazid memegang pundak Nia sebagai penghalang jarak mereka.
“Tenanglah. Aku akan masuk dengan Mita melihat Nenek.” Nia terdiam ketika melihat reaksi Yazid yang menolak dengan halus pelukan darinya.
Melihat itu Mita tersenyum dalam hati. Kali ini sang suami sudah bertindak benar dari biasanya. Justru pria itu menggenggam tangan istrinya memasuki ruang sang nenek.
Di dalam, Fena tersenyum melihat kedatangan keduanya. Ia merentangkan tangan dan Mita masuk ke dalam pelukan sang nenek.
“Akhirnya pengantin baru pulang juga. Bagaimana apa sudah ada cicit nenek di sini?” Fena tersenyum lebar sembari mengusap perut Mita yang rata.
“Nek, aku bukan monster yang hanya dua malam bisa membuat istriku hamil.” Semua terkekeh mendengar ucapan Yazid.
Mita pun tampak mengusap pipi nenek dengan lembut. “Nenek kenapa sakit sih? Bikin kita takut. Nenek kecapean pasti kan?” ujar Mita begitu perhatian pada Fena.
Semua di ruangan tampak diam. Sedangkan Nia yang berada di bagian dekat pintu ruangan itu segera mendekat dengan wajah takut.
“Zid, maafkan aku. Ini semua gara-gara aku. Aku benar-benar tidak bermaksud melakukan itu pada nenek.” Nia tak menjelaskan apa yang terjadi, Yazid sontak menatapnya heran.
“Kamu? Apa yang kamu lakukan, Nia? Kamu tidak sedang marah denganku sampai membuat nenek seperti ini kan?” Bukan Yazid yang bersuara, melainkan Mita yang mendekati Nia.
__ADS_1