Kekurangan Istriku

Kekurangan Istriku
Berkunjung Ke Rumah Mertua


__ADS_3

Makin pusing saja rasanya kepala Yazid saat mengikuti sang istri diam-diam di mobil dari luar. Ia tak berani masuk ke restauran yang menjadi pilihan dari Deni bersama sang istri makan siang dan juga meeting. Keduanya dari jauh sama sekali tak terlihat. Yazid memilih mengutus orangnya untuk memantau sang istri di dalam sana. Sembari melakukan panggilan video, ia bisa melihat Ayuna makan dengan tenang. Namun, beberapa lama kemudian yang ia lihat saat ini sang istri tampak mendapat usapan tisu dari sang rival. Yah, Deni sudah menjulurkan tangannya yang menggenggam tisu hendak mengusap ujung bibir wanita cantik yang tak lain adalah Mita.


"Maaf, Pak. Biar saya saja." Mita di sana sudah lebih dulu menjauhkan wajahnya dan mengusap bibirnya. Ia sudah bisa menerka dari apa yang Deni gerakkan di tangan. Hal itu bukan rahasia umum lagi jika tangan seseorang menjulur dengan tisu, artinya ada sesuatu di wajahnya yang perlu di bersihkan.


Hening keduanya kembali melanjutkan makan namun seseorang tampak menghampiri meja mereka saat itu. Di sini Yazid tampak semakin tegang melihat dari ponsel. Bahkan jantungnya berdetak kian tak beraturan. Beberapa kali ponselnya berdering terus ia abaikan dan memilih melanjutkan panggilan video pada sang anak buah.


Panggilan dari kantor, panggilan dari sang ayah sama saja terus ia abaikan. Di sana Mita duduk dengan dua pria tampan yang baru saja tiba salah satunya. Semua tampak berkelas. Dan itu membuat Yazid sulit sekali menenangkan diri.


"Kalau saja mereka tidak mengenalku, Mita pasti aku tarik pulang saat ini. Huh sialan!" umpatnya begitu kesal sekali.


Di tengah-tengah pria tampan dan berkelas Mita begitu pandai membawa diri dengan pembahasan soal pekerjaan. Semua tampak berjalan lancar saat itu apalagi Mita yang menjadi pembicara saat meeting. Deni tampak menatapnya tanpa putus. Sungguh, sekertaris langka menurutnya yang sangat perfect.


Singkat waktu berlalu, Mita pulang ke rumah dengan di jemput sang suami. Terasa heran tentunya kala melihat pria tampan itu sudah menghentikan mobil tepat saat ia melangkah keluar loby perusahaan.


"Kita mau kemana, Kak?" tanya Mita heran melihat mobil yang justru mengarah berbeda dari rumah mereka.

__ADS_1


Yazid sama sekali tak berkata apa pun. Ia fokus mengemudikan mobil dengan kecepatan sedikit laju. Mita memilih acuh ia duduk dengan tenang sembari memejamkan mata. Hal itu justru menambah kekesalan di diri Yazid. Ia menoleh ke samping di lihatnya Mita memejamkan mata tanpa merasa bersalah sedikit pun. Tidak. Ini tidak bisa di biarkan. Kemana wanita yang biasanya sangat banyak bicara sampai membuatnya ingin marah?


"Ini benar-benar keterlaluan." gumamnya kesal setengah mati saat tahu Mita justru terlelap di sampingnya. Hingga beberapa menit berlalu mobil pun berhenti di sebuah pelataran rumah yang begitu luas dan megah. Yah, rumah sang ayah menjadi tempat tujuan Yazid saat ini. Selain memang tak mengangkat panggilan sang ayah, ada yang ingin ia bawa menghadap pada keluarga sore ini.


Namun, ketika melihat Mita yang tidur tanpa bangun sama sekali, Yazid memilih untuk menggendong tubuh sang istri keluar mobil dan masuk ke kamarnya. Ia berjalan tanpa mengucapkan apa pun pada keluarganya.


"Ada apa dengan Mita?" tanya Hendi menatap heran.


Ia berpikir sang menantu sedang sakit hingga membuat sang anak tak turun kerja hari ini. Satu klien penting yang harus Yazid temui justru ia wakilkan sebab sang asisten menghubungi Yazid tak kunjung di jawab juga. Berbeda halnya dengan tatapan sinis Vita kala melihat wanita yang tak bisa melakukan apa pun saat itu justru di bawa ke rumah oleh sang anak. Vita sangat tak suka melihat Yazid menggendong istrinya ke kamar.


"Apa lagi yang di buat si gadis manja itu? Selalu saja merepotkan." gerutunya pelan namun jelas terdengar oleh sang suami serta mertuanya.


"Bu, cukup!" Suara tegas milik Hendi terdengar menghentikan ucapan sang ibu yang ingin membuka luka lama bagi Vita lagi.


Jelas bagi Fena mengingat masa lalu sang menantu yang dengan lapang dada ia terima menjadi menantu dengan segala kekurangan yang menurutnya sangat sulit untuk di terima di keluarga. Berkat kasih sayangnya pada Hendi, Fena menerima Vita yang sudah tak lagi suci setelah di tinggal oleh sang mantan kekasih yang tak lain juga adalah teman dekat Hendi. Dengan meminta belas kasih, Vita memohon pada Hendi untuk menikahinya. Sungguh malang nasib Hendi yang menjadi pria baik. Ia menerima Vita dengan segala kekurangannya untuk menjadi wanita pendamping hingga masa tua.

__ADS_1


Teringat akan masa lalunya, Vita pun menunduk tak berani bersuara di hadapan sang mertua. Sebesar apa pun penolakannya pada Mita sama sekali tak berpengaruh untuk Yazid. Sebab ketakutannya pada sang ibu mertua yang bisa kapan saja membuangnya. Meski pun itu tak mungkin di lakukan oleh seorang Fena. Wanita yang memiliki tata krama dengan baik dan pikiran yang jauh lebih baik pula.


Sejak sore hari hingga malam kini Yazid dan Mita tak kunjung keluar dari kamarnya. Mita tampak tertidur lelap tanpa sadar jika ia sedang berada di rumah mertuanya. Sebagai hari pertama bekerja tentu rasanya Mita sangat lelah kali ini. Ia benar-benar tidak tahu jika dirinya bukanlah di mobil lagi.


"Dimana aku?" Mita beranjak dari tidurnya kala melihat kamar yang berbeda dari kamarnya. Suara percikan air di kamar mandi pula menjadi fokusnya saat ini. Kening Mita mengerut dalam tak tahu harus melakukan apa saat ini.


"Mandi dan segera turun ke bawah." itulah ucapan dingin yang Mita dengar dari pria yang ternyata sang suami.


"Hah? Sejak kapan aku di sini? Dan bagaiman..." berbagai pikiran memenuhi kepala Mita saat itu. Ia bertanya-tanya hingga bagaimana bisa ia di kamar dalam keadaan masih tertidur.


Bertanya pada Yazid rasanya sangat membuatnya malas. Segera Mita bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan ikut turun dari dalam kamar sang suami dengan piyama yang sudah di lemari entah sejak kapan.


Semua keluarga menatap Mita dengan tatapan hangat kecuali sang suami dan juga ibu mertuanya yang super duper singa itu. Tak tahu saja dirinya jauh lebih rendah dari Mita yang sebagai anak seorang konglomerat setara dengan suaminya. Sungguh Vita benar-benar memalukan.


Tentu saja Mita merasa sangat malu saat ini, terlebih matanya beralih pada meja makan yang sudah siap dengan berbagai menu untuk di santap. Kedudukannya sebagai menantu benar-benar seperti tak berarti ketika ia hanya menghabiskan waktu untuk tidur saja.

__ADS_1


"Apa begini peran menantu di rumah mertua?" ucapan ketus itu terdengar dari bibir Vita. Kedua tangannya ia lipat di depan dada menunjukkan aura sangat tak suka.


"Mita, ayo duduk di sini. Kemarilah dengan nenek." panggil Fena tak ingin perduli pada menantunya yang sangat sulit di nasihati. Memang sepertinya kehidupan Vita berada di lingkungan yang kurang baik hingga membuatnya berwatak seperti itu.


__ADS_2