Kekurangan Istriku

Kekurangan Istriku
Kekesalan Di Puncak Ubun-ubun


__ADS_3

Samar terasa hangat ceruk leher milik Mita pagi itu, beberapa kali matanya nampak mengerjap kala merasakan terpaan hangat napas seseorang yang ia tidak tahu siapa itu. Jelas dalam pikirannya hanya sang nenek yang tidur bersamanya sejak malam. Mita pun merasa masih berat membuka mata sebab menangis membuat matanya masih meninggalkan jejak bengkak. Tubuhnya yang semula membelakangi kini berbalik membalas pelukan dari sang nenek.


"Kamu!" Mita yang tak sengaja membuka matanya sedikit betapa sangat terkejutnya saat mendapati wajah pria yang tak lain adalah sang suami.


"Hem..." Yazid yang enggan beranjak justru menarik tubuh sang istri semakin erat. Pagi ini ia tak ingin berdebat dulu. Hingga beberapa saat Mita terus memberontak barulah pria itu melepaskan dengan wajah kagetnya.


"Astaga, Mita. Ayo kita pulang sekarang." ajakny yang bergegas berdiri dari tempat tidur.


"Pulanglah sendiri. Aku mau tetap di sini." ujar Mita kekeuh.


Lelah jika harus berdebat sebab Yazid bukanlah pria yang suka banyak berbicara. Ia pun mengangkat paksa tubuh sang istri dan membawanya ke mobil. Mita berontak ia terus memukul dada bidang sang suami sembari berteriak tanpa hentinya. Sontak keributan tersebut mengundang perhatian para keluarga. Mereka semua sama-sama saling pandang saat Yazid membawa sang istri melewati mereka tanpa bicara apa pun.


"Dari mana asalnya mereka berdua, Bu?" tanya Hendi pada Fena yang menggeleng kepala melihat tingkah kedua cucunya itu.

__ADS_1


"Dari kamar ibu lah dari mana lagi memangnya?" ujar Fena.


Kini Hendi baru tahu jika penyebab semalam ia terusir dari kasur adalah ulah sang anak dan menantu yang mengambil alih tempat tidur Fena. Datang tanpa permisi, pulang pun tanpa pamit. Yazid dan Mita benar-benar sudah menjadi pemilik rumah mereka sesungguhnya.


Setibanya di rumah niat hati ingin memperbaiki semuanya, justru Mita kembali di buat marah kala tubuhnya di turunkan dari gendongan sang suami dan melihat sosok wanita yang tersenyum pada mereka. Dia adalah Nia, yah wanita itu berpenampilan segar dan rapi sembari menata makanan di meja makan. Sangat menggugah selera makan Yazid tentunya. Sebab sedari lama ia pun sudah sangat mengenal rasa masakan sang sahabat.


"Wah masakan siapa ini?" tanya Yazid yang tak perduli dengan tatapan sang istri.


Pria itu melangkah mendekati meja makan, di sana ada makanan yang memang kesukaannya selama ini.


Niatnya untuk menjelaskan pada Mita pun urung ia lakukan sebab tak mengingat apa pun lagi selain mengisi perutnya. Memang terkadang benar apa yang di katakan banyak orang, jika memanjakan suami bukanlah perihal sentuhan saja, mereka juga sangat membutuhkan sentuhan perutnya dengan masakan yang ia sukai.


Mita menatap keduanya penuh benci terlebih ketika melihat Nia yang tersenyum melayani suaminya. Rasanya Mita tak lagi bisa mentoleransi ini semua. Wanita itu beranjak masuk ke kamar sampai ia membanting pintu kamarnya keras.

__ADS_1


"Kalian bertengkar karena aku?" tanya Nia melihat Mita yang tak suka padanya.


"Astaga, Nia. Aku pergi dulu." Yazid pun meninggalkan Nia begitu saja dengan makanan yang sudah siap untuk ia makan.


Tak perduli bagaimana makanan itu enaknya, di sini ada masalah yang sedang siap menantinya. Di kamar sudah ia lihat sang istri yang justru mengemasi barang-barang hendak pergi entah kemana.


"Mita, Mita tunggu dulu. Kamu mau kemana? Hei." ujar Yazid.


Mita yang begitu kesal melihat sang suami entah rasanya mendapat bisikan setan dari mana tiba-tiba saja tangannya dengan mudah melempar koper mini itu ke tubuh sang suami. Kesabarannya sudah benar-benar habis kali ini.


"Berhenti menginjak-injak harga diriku, Yazid!" teriaknya sampai keluar saat itu.


Untuk pertama kaliny Mita bahkan menyebut pria yang ia cintai dengan nama tanpa ada panggilan kak.

__ADS_1


"Kamu mau kita cerai? oke. Ayo kita bercerai. Aku lelah." Mita hendak bergerak meninggalkan Yazid keluar, namun pria itu dengan gerakan refleks sudah memeluk kedua paha Mita. Ia begitu tak ingin perceraian terjadii. Entah apa yang membuat Yazid sangat takut mendengar kata cerai. Ia menggeleng.


"Tidak, Mit. Aku tidak ingin ada perceraian. Kita bicara dulu okey?" Yazid menengadah menatap Mita dengan tatapan memohon. Namun Mita justru membuang pandangannya enggan untuk mendengarkan ucapan sang suami.


__ADS_2