Kekurangan Istriku

Kekurangan Istriku
Kesadaran Nia


__ADS_3

Dua bulan berlalu sejak momen liburan Mita dan Yazid, kini pagi-pagi sekali Mita merengek membanginkan sang suami meminta untuk di antar ke apartemen Nia. Memang sejak terakhir kali bertemu di bandara, Nia mau pun Yazid tak pernah berkomunikasi lagi. Mereka nampak sibuk dengan kerjaan mereka masing-masing. Terlebih Nia yang terlalu banyak libur membuat pekerjaannya semakin menumpuk dan saat ini membuatnya tak bisa bersantai sejenak pun. Ada perasaan heran ketika mendengar rengekan sang istri di pagi hari.


"Kak, ayo bangun cepatan. Antar aku ke apartemen Kak Nia. Nanti keburu dia pergi lagi ke kantor." perih rasanya kedua mata Yazid ketika rasa kantuk masih ia rasakan akibat pertempuran malam tadi yang panjang. Tentu semua keinginan sang istri.


Ada perasaan bahagia memiliki istri yang begitu manja dan banyak sekali maunya. Mita yang bertekad untuk berubah nyatanya hanya sebentar. Sebab rengekan setiap hari terdengar di telinga Yazid.


Profesi sang nenek yang menjadi pendengar setia pun kini sudah menganggur. Mita tak pernah lagi merengek pada sang nenek mertua hanya bertelpon sekedar untuk menanyakan kabar.


"Iya, Mita. Iya tunggu sebentar yah. Kakak mandi dulu." ujar Yazid yang membuat Mita langsung menggeleng tak setuju.


"Sekarang, Kak." tuturnya lagi.


Mau tak mau Yazid pun bergegas untuk bangun dan mencuci wajah. Setelah memakain pakaian barulah ia bertanya pada sang istri sembari melangkah menuju keluar rumah.


"Memangnya kamu mau apa sih, Mita? Ini masih sangat pagi. Nanti sore bisa kan setelah Nia pulang kerja kalau mau belajar masak?" tanya Yazid namun Nia hanya menggeleng tak setuju.

__ADS_1


Kali ini ia sangat ingin datang ke apartemen sahabat sang suami. Entah apa yang ingin di lakukan yang jelas ia begitu menginginkan kesana sejak subuh tadi berusaha ia tahan-tahan.


Beberapa menit mereka mengendarai mobil, di sinilah akhirnya sepasang suami istri itu berdiri. Tangan Yazid berusaha menekan bel apartemen seolah tidak tahu password kamar itu. Sebab ia ingin menjaga perasaan sang istri.


Tak lama kemudian pintu pun terbuka dari dalam. Di sana wajah manis milik Nia terlihat begitu natural meski ia belum mandi pagi ini. Dengan wajah setengah mengantuk Nia menatap Mita dan juga Yazid bergantian.


"Mita? Yazid? Ada apa?" tanyanya dengan heran.


Yazid hanya diam enggan menjawab justru Nia yang hanya tersenyum kikuk. "Ayo masuk dulu." ajak Nia berikutnya.


"Kakak ada masak apa?" tanya Mita dengan santainya menatap ke arah meja makan.


"Aku pengen banget sarapan masakan Kak Nia." lagi Mita berucap dengan santai. Nia tak hentinya melongo mendengar ucapan Mita.


"Mit, kamu hamil?" pertanyaan yang membuat Mita menggeleng seraya tersenyum sementara Yazid menoleh menatap sang istri.

__ADS_1


Senyum pria itu terbitkan begitu saja kala mendengar pertanyaan Nia.


"Sayang, kamu bener hamil?" tanya Yazid yang segera menangkup wajah sang istri agar menatapnya.


Mita masih menggeleng tak membenarkan pertanyaan mereka. Baginya ia hanya ingin makan masakan Nia.


"Mau makan apa, Mita? Biar aku masakin sekarang. Di meja nggak ada makan sama sekali soalnya." Nia berdiri menuju dapur di susul oleh Mita yang tersenyum-senyum menatapnya.


"Aku nggak hamil, Kak. Kakak jangan seneng gitu dong." sahut Mita yang menjauh dari sang suami. Sebab dirinya memang merasa tidak hamil saat ini.


"Sayang itu benar kata Nia. Kamu hamil. Setelah ini kita ke dokter yah?" ujar Yazid.


Mita masih kekeuh bertahan dengan pemikirannya jika dirinya tidak hamil. Mmendengar perdebatan suami istri itu, Nia hanya menggeleng sambil terus memasak apa yang di minta oleh Mita. Kebetulan bahannya juga tersedia di kulkas.


Yazid sangat yakin jika sang istri sudah mengandung saat ini apalagi mengingat Mita yang tidak ada mendapatkan tamu bulanan sejak mereka pulang liburan.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari ada yang terluka di tengah kebahagiaan mereka, namun ia berusaha terlihat baik-baik saja.


"Ternyata aku memiliki rasa dengan mu, Zid. Tapi aku salah. Dan aku tidak akan membiarkan perasaan itu merusak persahabatan kita. Mita benar jika tidak menyukai aku dulu, perasaan seorang istri pasti sangat peka." gumam Nia baru sadar dengan waktu dua bulan ini ia menjauhi Yazid dan cinta itu semakin menyeruak di dadanya kala ia berusaha menahan diri untuk tak bertemu dengan pria tersebut.


__ADS_2