
Fena nampak menghela napas kasar mendengar cerita sang cucu menantu. Pikirannya seolah menolak apa yang ia dengar barusan, tapi bagaimana mungkin jika Mita mengarang cerita. Rasanya hal yang mustahil terjadi. Pada akhrinya Mita pun tidur di kamar itu bersama Fena yang memeluknya. Sesenggukan lantaran terlalu lama menangis masih terdengar hingga Mita terlelap dalam tidurnya. Tak habir pikir dengan permasalahan sang cucu, Fena menggeleng kepala.
"Mengapa pernikahan anak muda jaman sekarang sangat dramatis sekali sih?" gumamnya bertanya-tanya.
Apa benar Yazid dan Nia memiliki hubungan spesial sampai berpelukan seperti itu? Rasanya tidak mungkin. Selama ini mereka sangat dekat namun tidak lebih dari sahabat. Lama Fena memandangi wajah Mita yang terpejam dengan kelopak mata sembabnya. Wanita cantik yang manja ini sudah sangat ia sayangi seperti cucu kandungnya sendiri. Sikap mana Mita justru membuat Fena selalu merasa di butuhkan oleh gadis ini. Di usapnya pelan rambut Mita yang panjang. Hingga pada akhirnya kembali jantung nenek tua gaul itu di buat hampir melompat. Kala pintu terbuka dengan tanpa ketukan.
"Astaga Yazid!" geramnya melihat sang cucu yang datang memasuki kamarnya.
__ADS_1
Di depan pintu itu Yazid berkacak pinggang sembari menghela napasnya kasar kala kedua mata miliknya menatap wanita yang membuatnya cemas bukan kepalang. Beruntung ia bisa melihat mobil Mita di depan halaman rumah sang nenek. Dengan begitu ia mudah mengetahui keberadaan sang istri jika ada di rumah ini. Meski pada awalnya ia bingung saat tak mendapati Mita di kamarnya.
"Nek, bisa tolong pindah kamar nggak?" kening Fena mengerut dalam mendengar permintaan sang cucu.
"Cucu durhaka? Yazid, bagaimana bisa kamu mengusir nenek mu sendiri dari kamarnya sendiri pula? Bagaimana kalau Nenek yang mengusirmu dari rumah ini? Rasanya itu lebih pantas." tatapan sinis sang nenek Yazid dapatkan.
Sadar jika dirinya salah dalam menyusun kalimat, Yazid pun menghela napas kasar. "Maaf, Nek. Aku terlalu panik tadi. Kalau sekarang Mita aku bawa ke kamar pasti dia akan terbangun. Tolong satu malam ini saja Nek kita bertukar kamar boleh?" mendengar ucapan sang cucu Fena pun paham. Ia tak ingin ikut campur terlalu dalam masalah keduanya. Sebaiknya biarkan mereka berdua berbicara masalah mereka agar mudah selesai dan menjadi pelajaran ke depannya.
__ADS_1
"Ini cukup kan buat penggantinya, Nek?" tanya Yazid saat melihatkan layar ponsel di mana sebuah transferan ia kirim ke rekening Fena.
"Sudah setimpal kalau begitu. Tidurlah, ingat jangan menaruh bekas mu di atas spreiku." ujar Fena yang tidak tahu saja jika keduanya sampai detik ini pun belum pernah melakukannya.
Yazid terdiam mendengar ucapan sang nenek yang sudah berlalu menutup pintu kamar tersebut. Pelan pria itu mendekati Mita dan tidur di sampingnya. Mata bengkak jelas ia lihat saat ini. Yazid paha pasti sang istri tengah salah paham dengannya. Dan Yazid juga sadar akan kesalahannya yang sudah mengingkari janji untuk menjauhi Nia.
"Ibu, ngapain di sini?" tanya Vita yang kaget melihat sang mertua masuk ke kamarnya dan memasuki selimutnya. Sontak Vita pun bergeser ke arah sang suami.
__ADS_1
"Hendi suruh di sofa sana. Ibu mau tidur di sini." tutur Fena yang tak mau tidur di kamar Yazid.
Di tengah malam itu juga Vita meminta sang suami pindah, meski rasanya Hendi enggan beranjak namun ia tetap menuruti untuk tidur di sofa.