Keluarga Suamiku

Keluarga Suamiku
gaji pertama


__ADS_3

"Ini, Mas. Bekal makan siangnya hari ini spesial!" bisikku lembut di telinganya.


Aku sangat bersemangat hari ini. Karena aku sudah mendapatkan gaji dua hari lalu. Juga hari ini suamiku akan menerima gaji pertamanya. Aku meminta suamiku supaya gajinya diambil dalam waktu 2 minggu sekali. Jadi lumayan uangnya sedikit terkumpul.


"Alisa, hari ini mas gajian lo! Kamu mau minta dibelikan apa?" Mas Bagus terlihat bersemangat. Aku semakin menyukainya bila dia begini.


"Asal Mas Bagus sehat selalu dan bisa bekerja dengan baik. Alisa akan senang karena hari ini Mas Bagus akan menerima gaji pertama setelah satu bulan menganggur. Rasanya Alisa sangat bersyukur, Mas." Aku mengusap lengannya. Senyum cerah tentu saja tersemat di bibirku.


"Kamu tidak ingin mengatakan apa yang kamu inginkan, Dek? Mas banyak uang lo!" Suamiku itu menepuk dada bidangnya. Sepertinya ia sedang membanggakan diri.


Aku sukses tertawa. Tidak menyangka kalau dia akan sangat bersemangat karena menerima gaji pertama dari pekerjaannya sebagai kuli bangunan.


"Kalau begitu mas berangkat dulu, Dek. Kamu kalau menulis novel jangan terlalu dipaksa. Kamu sudah membantu mas saja, mas sangat senang. Tapi, mas nggak mau kamu terlalu mengejar gaji itu. Takutnya kamu sakit dan mas akan merasa gagal membahagiakan kamu." Mas Bagus mengusap pipiku dengan lembut.


Mas Bagus, bagaimana bila aku jujur padamu jika gajiku bulan ini jauh lebih besar dibandingkan gajiku bulan yang lalu? Apakah kau akan tetap bekerja atau malah bermalas-malasan? Lebih baik aku tetap menyembunyikan semuanya darimu. Mungkin aku akan mengambil uang secukupnya saja.


"Kok diam?" Mas Bagus menegurku. Membuatku tersadar seketika.


"Menulis novel juga tidak capek kok, Mas. Jadi Mas Bagus tenang saja. Alisa bisa jaga diri," ucapku menenangkannya.


"Baiklah kalau begitu. Assalamualaikum." Mas Bagus pun berjalan menuju ke sepeda motornya.


"Waalaikumsalam, Mas. Hati-hati ya!" teriakku ketika Mas Bagus sudah menarik gas.

__ADS_1


Aku berharap Mas Bagus tidak lagi berubah. Aku ingin dia tetap seperti ini. Aku menghela napas panjang. Lagi-lagi aku teringat cucian yang menumpuk.


Semenjak Mas Bagus bekerja sebagai kuli bangunan, cucianku semakin banyak. Sebab pakaian kerja suamiku setiap hari pasti terkena kotoran tanah ataupun semen.


Entah sudah jam berapa, akhirnya aku selesai juga mencuci baju. Meskipun lelah, tapi puas juga rasanya cucian seabrek kini sudah selesai.


"Mbak Alisa! Mbak Alisa!" Sebuah teriakan terdengar dari teras rumah. Aku terpekur mendengarnya. Takutnya salah dengar.


"Mbak Alisa!" Lina kini sudah memasuki rumahku dengan wajah kusutnya.


Tidak biasanya dia seperti itu. Aku yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian pun, segera berjalan menuju ke ruang tamu. Terlihat gadis itu sudah duduk dengan gusar di sofa.


"Kenapa kamu, Lin? Kok kusut banget?" tanyaku sambil duduk di sofa yang lain.


Tumben sekali dia datang ke rumahku dengan kondisi yang seperti itu. Biasanya dia sangat rapi dan kali ini apa mungkin dia habis menangis? Aku ingin sekali bertanya dengannya. Tapi, hubungan kami tidak sedekat itu.


"Mas Bagus belum pulang, Lin. Kenapa?" Aku masih bertanya dengan tenang. Tampak gadis itu memejamkan mata sejenak. Kemudian memandang ke arah lain.


"Apa kamu memiliki masalah?" Aku mendesaknya. Bukan karena apa. Akan tetapi kondisi gadis itu terlihat tidak baik-baik saja.


"Mas Bagus punya uang nggak ya, Mbak? Aku … Mau bayar kuliah. Uang semester." Kulihat dia menatapku dengan mata yang memerah.


"Mas Bagus paling punya uang pun tidak banyak, Lina. Kan dia baru bekerja dan kerjanya juga kuli bangunan. Kamu tahu sendiri kalau Mas Bagus pontang panting bekerja dengan gaji yang sedikit." Aku menjelaskan dengan lembut. Sebab, mau marah pun percuma karena dia sendiri tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Begitu mendengarkan aku, kepalanya tertunduk lesu. Sepertinya dia ingin menangis. Aku berdiri dan berjalan mendekatinya. Lalu duduk tepat di samping gadis yang berusia 20 tahun itu.


"Kenapa nggak minta sama ibu? Kalau untuk bayar uang semester, memang Mas Bagus tidak punya uang, Lina. Tapi kalau untuk uang jajanmu mungkin ada." Aku berbicara lembut. Siapa tahu dia mau berbicara tentang masalahnya.


"Ck! Mbak ngomong kayak gitu belum tahu bagaimana ibu!" Lina mulai meninggikan suaranya. Air matanya pun kembali turun.


"Ibu kan punya perhiasan, Lina. Siapa tahu bisa dijual untuk bayar uang semestermu. Lagipula, kan ibu punya uang pensiunan setiap bulan. Pasti bisalah buat bantu uang semestermu. Kalau urusan makan, jangan khawatir. Mbak nggak masalah jika Mas Bagus ngasih sebagian gajinya buat makan kamu dan ibu." Aku berlapang dada. Mungkin lebih baik gaji suamiku selama 2 minggu bekerja itu dibagi dua sama ibu mertua.


"Apaan sih? Uang pensiunan almarhum. Bapak itu sudah cair dari beberapa bulan yang lalu! Puluhan juta! Semua uang itu sudah dipinjam oleh Mbak Tika buat renovasi rumahnya! Bukan uang pensiunan yang dikirim tiap bulan, Mbak Alisa! Aturan sudah berbeda. Dan begitulah uang pensiunan pegawai negeri sekarang ini! Jadi, ibu nggak punya uang sekarang ini!" Lina membentakku. Gadis itu semakin menangis terisak.


Aku terkejut bukan main. Kepalaku terus mengingat aturan baru dari pemerintah tentang pegawai negeri. Pernah sekali aku mendengar kasak kusuk tentang ini. Tapi karena aku bukan pegawai negeri, aku pun tak pernah mencari tahu.


"Uangnya sudah dikasih Mbak Tika untuk renovasi. Kalau begitu, bukannya itu sudah lama sekali? Apa Mbak Tika belum membayarnya?" Aku berdebar menunggu jawaban dari Lina.


"Hiks! Alasan kenapa ibu dan aku selalu minta uang sama Mas Bagus. Pikir sendiri, Mbak. Bukannya Mbak Alisa yang paling tahu?" Lina sesenggukan. Ia tidak menceritakan secara detail tapi aku sudah mengerti apa maksud dari perkataannya.


"Jadi, Mbak Tika belum mengembalikan uang yang dipinjam dari ibu? Itu sebabnya ibu selalu minta uang sama Mas Bagus? Kamu pun juga begitu?" Sungguh, aku terkejut bukan main ketika kepala Lina mengangguk.


"Iya. Ibu bilang, jangan sampai uang Mas Bagus dihabiskan sama Mbak Alisa. Jadi, aku juga minta uangnya sama Mas Bagus. Kupikir, Mbak Tika bakalan ngembaliin pelan-pelan uang ibu. Jadi, tadi aku ke tempat Mbak Tika. Tapi, malah Lina yang dimarahi! Hua! Padahal dua hari lagi ujian semester dan aku harus membayar lunas biaya yang menunggak!" Lina menangis keras. Aku tahu bagaimana kondisinya saat ini. Pasti sangat pusing karena dia harus segera melunasinya selama dua hari. Sedangkan ujian semester sudah di depan mata.


"Lalu, bagaimana dengan ibu?" Aku teringat ibu yang selalu membanggakan Mbak Tika.


Lina menoleh ke arahku. "Bukannya sudah jelas? Mbak Tika itu guru honorer. Dia tidak mau bekerja sebagai guru karena gajinya yang sedikit. Jadi itulah alasan dia tetap di rumah. Begitu saja ibu masih memilih untuk memberikan uang pensiunan bapak pada Mbak Tika. Padahal aku juga butuh uang buat biaya kuliah!"

__ADS_1


Astaga! Jika begini ibu mertuaku itu benar-benar pilih kasih. Padahal Lina jauh lebih membutuhkannya untuk masa depan gadis itu. Mbak Tika benar-benar keterlaluan!


__ADS_2