
Aku sampai di rumah dengan hati yang dongkol. Selain karena membayar utang ibu mertua aku juga harus diejek habis-habisan dengan Mbak Tika. Saat Mbak Tika bertanya dengan pertanyaan aneh itu aku menjawab seadanya dan langsung pergi.
"Assalamualaikum." Aku mengucapkan salam ketika sudah sampai di dalam rumah. Terlihat Mas Bagus sudah pulang karena motornya di dalam rumah.
"Sudah pulang, Alisa?" Ibu mertua datang dekat.
Sikapnya yang aneh membuatku curiga. Ibu mertua tiba-tiba menarik tanganku sedikit menjauh dari dalam rumah tangga. Tampak ibu mertua juga menjulurkan lehernya untuk melihat keadaan di dalam rumah.
"Bagaimana? Bu Tiwi tidak tanya utang ibu kan?" Tanya ibu mertuaku. Jadi tadi ibu mertuaku tidak ikut arisan karena ingin menghindari hutang.
"Alisa sudah bayar, Bu." Aku tidak tahu. Apakah ibu mertua akan membayar uang yang sudah aku pakai untuk membayar dua kali cicilan utangnya itu. Akan tetapi mau tidak mau aku jelas harus merelakannya karena ibu mertua tidak memiliki uang.
"Kamu membayar utang itu?" Ibu mertua malah memastikan apakah aku sudah membayarnya atau belum.
"Sudah Bu. Alisa yang bayar. Dua kali cicilan bukan?" Lebih baik aku mengikhlaskan uang yang aku pakai untuk membayar hutang Ibu.
"Apa? Kenapa kamu malah membayarnya? Kamu kan tidak memiliki uang banyak. Kalau sampai uangmu dan Bagus habis bagaimana? Lagian uangmu juga sudah kamu belikan cincin dan bayar ujian semester Lina. Jangan boros, Alisa. Kalau masalah utang itu kan bisa ditunda." Di luar dugaan ibu mertuaku malah mengomeliku. Padahal aku sudah membayar dua kali cicilannya. Bukankah seharusnya dia senang? Aku tidak habis pikir.
__ADS_1
"Karena Ibu sudah menunggak selama 2 bulan. Jadi Bu Tiwi menagihnya. Sudahlah Bu. Yang penting uang untuk makan masih aman." Tadinya aku ingin jengkel. Karena harus membayar 2 cicilan utang ibu mertuaku.
Tapi ternyata ibu mertuaku malah khawatir kalau aku tidak punya uang. Apakah selama ini penilaianku terhadap ibu mertuaku sudah salah? Aku menghela nafas panjang.
"Kalau aman ya sudah! Ingat ibu dan Lina ada di rumah ini. Jangan sampai Ibu dan Lina kelaparan." Setelah mengatakan hal itu ibu mertuaku langsung pergi meninggalkanku dengan kesal.
Mengapa dia harus kesal? Seharusnya aku yang kesal karena Mbak Tika terus-terusan menyerangku ketika di acara arisan tadi.
"Mbak Alisa. Kenapa ada di sini? Hari sudah sore. Bukankah kalau lebih baik mbak Alisa ganti baju dulu?" Suara Lina menegurku. Terlihat dia juga sepertinya baru pulang.
"Kamu baru pulang?" tanyaku.
Kalau dia seperti ini tidak sia-sia aku membayar uang kuliahnya. Semuanya sudah lebih baik. Ibu mertua dan Lina mulai menerimaku. Walaupun ibu mertua terkadang juga masih galak dan omongannya menyakitkan.
Saat aku hendak melangkah masuk, tiba-tiba Mbak Tika datang. Wanita itu lagi-lagi masuk ke rumah orang tanpa izin. Ya ampun, jangan-jangan dia mau ikutan makan lagi! Aku berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
"Kamu ngapain di sini, Mbak?" Lina langsung menuding Mbak Tika yang sudah duduk di kursi.
__ADS_1
"Lah kenapa? Mbak juga kan keluarga ini! Alisa, kamu punya banyak sayur dan lauk. Aku minta sedikit ya!" Terlihat Mbak Tika mengeluarkan kantong kresek. Astaga. Kapan dia menyiapkannya. Mbak Tika mulai mengambil piring yang berisi lauk.
"Aduh! Jangan, Mbak! Kamu nggak bisa hitung itu ayam goreng cuma 4 potong?" Langsung saja aku kembalikan ayam goreng itu ke meja.
"Jangan pelit sama aku, Alisa. Ini buat keponakan Bagus! Kamu kan belum punya anak. Seharusnya kamu sadar kalau itu teguran dari Allah buat kamu!" Mbak Tika kembali mau mengambil piring berisi ayam goreng.
"Ih! Di sini ada aku dan ibu! Kenapa Mbak Tika seenaknya? Jangan pelit sama aku dan ibu, Mbak! Nanti kualat sama Ibu!" Lina menyingkirkan piring itu dan menaruhnya di dekatnya.
"Lina! Jangan kurang ajar kamu! Itu buat keponakanmu!" teriak Mbak Tika.
"Keponakan aku ada bapaknya kan? Mas Deny kerja juga, Mbak. Dua keponakan aku kan tanggung jawab Mas Deny. Nah ini sedangkan aku ini anak yatim. Jadi Mas Bagus yang menafkahi Lina! Ini jatah Lina dan ibu." Lina sepertinya sangat pandai membalikkan keadaan.
"Kamu!" Mbak Tika terlihat akan meluapkan kemarahannya ada Lina. Namun, sepertinya urung.
Aduh! Kenapa Mbak Tika malah menoleh ke arahku? Perasaanku tidak enak.
"Alisa! Kamu pasti punya uang. Aku mau pinjam uang! Jangan alasan! Jelas-jelas kamu punya uang buat bayarin utang Ibu!"
__ADS_1
Hah?