Keluarga Suamiku

Keluarga Suamiku
apakah harus jujur?


__ADS_3

Hari ini aku sangat senang karena itu karena hari Ia merupakan hari bonus tamat dari salah satu novel turun. Buru-buru aku mengambil handphone-ku untuk melihat apakah gajiku sudah masuk atau belum. Rasanya aku mau pingsan. Karena uang yang aku dapatkan sekitar 5 juta.


"Kamu ngapain? Dari pagi cengengesan seperti itu? Ini aku lagi bingung karena uang yang kita punya sudah mulai menipis. Tadi aku sudah ke rumah Mbak Tika. Aku mau pinjam uang karena biasanya dia selalu meminjam uang padaku." Suamiku itu baru saja duduk di samping itu sudah membicarakan Mbak Tika. Yang mana membuat kesal adalah pasti Mbak Tika tidak akan pernah memberikan pinjaman kepadaku ataupun Mas Bagus.


"Lalu gimana, Mas? Apa Mbak Tika mau meminjam uangnya? Uang kita juga masih ada di tempat Mbak Tika 200.000. Ambil uang kita saja daripada kita berhutang. Sedangkan Mas Bagus saja belum bekerja." Aku mengingatkan Mas Bagus kalau Mbak Tika sendiri memiliki utang pada kami sekitar 200.000.


Bagi kami yang saat ini tidak memiliki penghasilan apapun nominal itu cukup besar dan lumayan. Apabila digunakan untuk keperluan sehari-hari.


"Boro-boro aku mendapatkan uang itu. Malah Mbak Tika pura-pura lupa kalau dia memiliki utang kepada kita. Mas Dani juga begitu. Utang istrinya juga tidak mau membayar. Padahal hari ini Mas Danu sudah gajian. Pastinya memiliki uang kalau hanya Rp200.000. Selama ini aku juga tidak pernah pelit padanya. Kenapa saat aku ingin meminta bantuannya saja dia malah pura-pura buta?" Suamiku sepertinya sudah menahan kekesalannya.


Mas Bagus sepertinya mulai marah. Padahal uang hanya tersisa beberapa ribu saja. Namun ketika kami ingin meminta uang kami sendiri saja malah seperti ini.


Satu tahun yang lalu mungkin saja Mas Bagus masih memiliki pekerjaan yang baik. Memiliki gaji setiap bulan yang bisa diandalkan. Sedangkan sekarang Mas Bagus tidak memiliki pekerjaan. Sehingga semakin hari Mas Bagus tahu bagaimana perilaku keluarganya sendiri.


Aku tersenyum tipis. Masih teringat jelas Mas Bagus selalu membela saudara maupun ibunya. Sedangkan sekarang Mas Bagus terlihat lebih kalem denganku. Mungkin karena selama ini dia tertutup oleh keluarganya.


"Uang kita tinggal segini. Rp 34.000. Kamu pikir apa ini cukup untuk satu minggu?" Mas Bagus mengeluarkan uang sisa Rp100.000 kemarin.


Bagaimana ya? Apa aku jujur saja kepada Mas Agus? Kalau aku mendapatkan gaji dari menulis novel? Tapi aku takut kalau Mas Bagus semakin kehilangan arah dan dia tidak ingin bekerja lagi.


Tunggu sebentar. Aku memiliki dua rekening yang tidak diketahui oleh Mas Bagus. Satu rekening yang aku buat ketika masih perawan dulu. Kalau rekening yang kedua aku buat saat baru menulis novel. Sepertinya aku perlu membagi gajiku itu.


Aku langsung mengambil handphone-ku dan mentransfer dari rekening yang baru saja terisi. Tentu saja masuk ke rekening yang kubuat ketika perawan dulu. Aku mentransfer hanya 500.000. Tidak banyak memang. Supaya Mas Bagus tidak terlalu menekanku supaya menulis banyak.

__ADS_1


"Alisa, Mas Bagus sedang mengajakmu berbicara! Kenapa kau malah tersenyum seperti itu? Kau membuatku kesal. Bisa jadi dua hari lagi kita berdua tidak makan!" Mas Bagus mulai frustrasi.


Aku yakin itu dikarenakan dia mulai kehabisan rokok. Itulah mengapa dia semakin marah dan frustasi.


"Alisa baru saja dapat rezeki." Aku mulai berdebar ketika membicarakan rezeki. Tapi di saat yang bersamaan aku juga penasaran. Bagaimana reaksi suamiku itu.


"Rezeki bagaimana?" tanya suamiku.


"Sekarang Mas Bagus antar Alisa ke ATM. Alisa hari ini baru saja dapat gaji dari menulis. " Aku mulai berdiri.


Akan tetapi suamiku itu masih tidak bergerak. Laki-laki itu terus menatapku bingung.


"Ini gaji dari menulis novel. Belakangan ini karena Mas Bagus seringkali membuatku kesal jadi aku menulis novel. Apa Mas Bagus sekarang sudah tahu kalau Alisa hari ini gajian? Sekarang ayo kita ambil uang." Aku Berusaha menjelaskan sebaik mungkin kepada Mas Bagus.


Bagaimana jadinya kalau dia tahu gajiku hari ini senilai 5 juta? Tapi aku tidak akan mengatakannya.


"Tergantung mereka yang membuka kunci dari tulisan Alisa yang digembok. Bulan ini cair sebesar 500.000. Ayo kita ambil mas! Kenapa Mas Bagus tidak percaya sama Alisa? Ayo! Alisa juga sudah lama tidak beli bakso!" Aku sangat bersemangat untuk mengambil gajiku.


Ekspresi wajah Mas Bagus masih saja tidak percaya. Tapi kali ini Suamiku mulai berdiri.


"Aku ambil jaket dulu." Meskipun suamiku Itu tampak tidak percaya, pada akhirnya Mas Bagus tetap bersedia mengantarku.


Kami pun berangkat dari rumah begitu selesai bersiap. Kemudian kami pergi menuju ke ATM terdekat. Mas Bagus tidak mau ikut denganku. Tapi aku memaksanya supaya dia tahu berapa nominal yang ada di rekening.

__ADS_1


Biar saja Dia mengira aku jujur kepadanya. Akhirnya suamiku mau mengantarku masuk ke dalam. Mas Bagus dan aku mulai mengambil Uangnya Rp500.000. Mas Bagus terkejut ketika dari rekening lamaku itu memang terisi uang Rp500.000.


"Ini gajimu dari menulis novel?" Suamiku masih bertanya lagi.


"Alisa sudah mengatakannya tadi. Ayo keluar. Alisa tidak sabar mau membeli bakso di warung Pak Man!" Aku sangat bersemangat ketika membayangkan semangkuk bakso yang lezat itu. Mas Bagus pun kini sudah tersenyum.


"Jadi kita tidak pinjam tetangga? Alhamdulillah! Memang ya kalau rezeki itu Allah Maha Tahu! Kamu pintar, Dek! Mas malah nggak tahu kalau kamu menulis novel! Kalau begitu Mbak Tika tidak boleh memanggilmu pengangguran lagi!" Mas Bagus sepertinya tidak terima saat Mbak Tika memanggilku pengangguran.


Aku tersentuh mendengar penuturannya. Akan tetapi bagaimana kalau justru Mbak Tika malah mengejekku habis-habisan? Terlebih lagi aku takut kalau Mbak Tika malah meneror dan meminta pinjaman padaku.


"Jangan, Mas! Bagaimana nanti kalau dia malah minta pinjaman seenaknya kepada Alisa? Mas Bagus saja masih belum bekerja Lurah. Uang Rp500.000 ini juga tidak banyak. Ya walaupun setidaknya bisa untuk kita makan beberapa waktu. Tapi tetap saja uang segini tidak cukup untuk makan sebulan. Belum lagi Listrik kita bulan ini." Aku mengingatkannya supaya kami berdua tidak terlalu gegabah. Sebab Mbak Tika selama ini selalu meminta uang seenaknya saja. Suamiku itu mulai berpikir keras.


"Benar juga, Dek! Mbak Tika memang selama ini selalu meminta uang dengan seenaknya. Entah sudah berapa banyak uang Mas Bagus diambilnya. Ya sudah. Ayo kita beli bakso di tempat yang kamu sukai, Dek!" Mas Bagus mulai menyalakan motornya.


Aku duduk di kursi jok bagian belakang. Tak lama kemudian mobil pun mulai melaju menuju ke warung bakso Pak Man. Begitu sampai di sana kami berdua mencari meja yang kosong.


Setelah mencari beberapa lama akhirnya aku dan suamiku sudah mendapatkan meja. Akupun memilih untuk memesan kepada penjualnya. Lalu aku pun kembali ke tempat di mana Mas Bagus sudah menunggu.


"Eh kalian di sini juga?"


Ketika aku baru saja duduk di kursi bangku tiba-tiba saja suara familiar menyapa kami berdua. Itu Mbak Tika bersama suami dan anak-anaknya.


"Bukannya tadi pagi kamu ke rumah Mbak mau pinjam uang, Bagus? Kok sekarang malah makan bakso di sini! Jangan-jangan kamu pinjam uang disuruh Alisa buat beli bakso di sini ya? Dasar Alisa! Kamu benar-benar istri durhaka karena memaksa Bagus!" Mbak Tika menunjuk wajahku.

__ADS_1


Sebenarnya dia ini bicara apa sih?


__ADS_2