
"Ibu! Ibu! Ini Tika!" Suara kakak iparku itu terdengar sampai ke dapur.
Hebat sekali dia. Bertamu ke rumah orang lain tapi tidak memiliki sopan santun seperti itu. Aku dan ibu saling berpandangan. Terlihat ibu mertuaku sedikit kesal karena suara Mbak Tika yang terdengar keras itu.
"Kenapa siang-siang begini kamu berteriak di rumah orang, Tika? Apa kamu pikir kami berdua tidak memiliki telinga? Telinga kami masih normal. Walaupun harus ada hal yang penting seharusnya kau setidaknya mengucapkan salam terlebih dahulu. Bukan main nyelonong ke rumah orang." Ibu mertuaku langsung mengomel ketika melihat Mbak Tika datang masuk ke dapur.
Wajah kakak iparku itu menekuk dan terlihat kesal. Sudah sangat lama sekali aku tidak melihat wajah culasnya itu. Akhirnya dia pun datang juga ke rumahku setelah beberapa hari tidak mengusikku dan Mas Bagus.
"Tika dengar kalau rumah Ibu dikontrakkan?" Baru saja datang tapi Mbak Tika malah menanyakan tentang rumah Ibu yang memang dikontrakkan.
Dahiku mengerut begitu Mbak Tika tanpa basa-basi menodong pertanyaan yang aneh untuk ibu mertuaku. Apa lagi ini?
"Kenapa kamu malah bertanya tentang hal itu? Kamu tidak bertanya tentang keadaan ibu bagaimana. Lalu kenapa kalau rumah Ibu dikontrakkan?" Ibu mertuaku memilih untuk kembali mengupas buah-buahan yang tadi dibeli untuk membuat rujak.
"Kalau begitu. Berarti Ibu punya uang dong? Tika mau pinjam uang satu juta dulu. Tika tidak punya uang lagi. Tolonglah Ibu jangan pilih kasih padaku dan Bagus. Uangnya jangan semuanya diberikan untuk Bagus dan Alisa. Mereka berdua hanya memanfaatkan Ibu saja. Ibu harus tahu kalau Alisa pasti sudah merencanakan itu semua supaya uang hasil kontrakan itu diberikan padanya." Mbak Tika langsung berbicara panjang lebar kepada Ibu.
Mendengar penuturan putri pertamanya itu membuat ibu mertua melotot. Ibu mertuaku seperti terkejut dengan kata-kata Mbak Tika yang kurasa sedikit keterlaluan.
__ADS_1
Aku dan Mas Bagus tidak pernah menanyakan uang hasil rumah yang dikontrakan oleh ibu itu. Bagiku dan Mas Bagus sudah cukup melihat ibu hidup dengan uangnya sendiri. Aku menatap tidak percaya kepada Mbak Tika.
"Kenapa Mbak Tika berpikir seperti itu?" Tanyaku heran.
Ibu mertuaku pun menghentikan aktivitasnya. Ia langsung menatap tajam ke arah Mbak Tika.
"Aku tidak berbicara denganmu, Alisa! Aku sedang berbicara dengan ibu. Kenapa kamu ikut campur? Lebih baik kau diam saja. Ini urusanku dengan ibu kandungku." Mbak Tika membentakku. Padahal aku bertanya dengan satu kalimat saja.
"Kau jangan selalu berpikiran buruk pada orang Tika. Itu tidak baik. Sudah baik Alisa mau menerima Ibu dan Lina di sini. Kamu seharusnya malu sama ibu. Semua uang pensiunan Bapak sudah kamu ambil. Kamu juga bilang kalau akan mencicilnya setiap bulan. Tapi nyatanya kamu tidak pernah mencicilnya sampai saat ini. Bahkan untu sekolah Lina saja ibu harus bertengkar dengan Bagus. Seharusnya uang yang kamu pinjam itu untuk sekolah Lina." Ibu mertuaku terlihat kesal.
"Kok ibu malah mengungkit uang itu sih? Sudah dibilang Tika belum ada uang. Kalau ada uang pasti langsung kasih untuk ibu. Lagian Lina juga sudah lulus SMA. Seharusnya dia tidak menjadi beban Ibu. Kalau tidak mampu ya seharusnya tidak keras kepala untuk kuliah. Sudahlah Bu. Berhentilah berdebatnya. Tika pinjam uang satu juta." Mbak Tika lagi-lagi membantah kata-kata ibu mertuaku. Aku melirik ke arah ibu mertua yang sangat kesal dengan Mbak Tika.
"Kamu pikir Ibu punya uang banyak Tika? Ibu tidak tahu kalau kamu bisa menjadi seperti ini. Bahkan sikapmu pada ibu sudah jauh berbeda dari Alisa. Alisa adalah menantu ibu. Tapi dia bisa menghormati Ibu. Bagaimana denganmu? Kamu ini lebih tua dari Alisa. Mengapa kamu tidak bisa berpikir dengan benar?" Wajah Ibu terlihat memerah.
Aku yakin kalau ibu mertua aku tengah mengeluarkan kekesalan nya. Terlihat Mbak Tika bertambah kesal.
"Sudah dibilang Tika tidak punya uang Bu. kalau Tika punya uang maka saat ini pasti sudah Tika bayar. Bisakah jangan berdebat sekarang? Anak-anakku belum makan. Seharusnya ibu juga memikirkan cucu Ibu. Di sini Alisa juga belum memberikan Ibu cucu. Mengapa Ibu harus memberikan uang Ibu untuk Alisa? Padahal di sini aku yang lebih membutuhkannya." Mbak Tika masih mendebat ibu.
__ADS_1
Apakah Mbak Tika tidak bisa melihat bahwa ibu sangat marah saat ini?
"Kau memiliki suami, Tika. Dia pilihanmu. Seharusnya dia memberimu uang. Itu tugasnya sebagai seorang suami. Bukan malah meminta kepada ibu. Kamu ini tanggung jawab suamimu. Kalau suamimu tidak bisa memberi nafkah, lebih baik kamu mengakhiri pernikahanmu. Selama ini Ibu sudah berkaca dari pernikahanmu dan juga pernikahan Bagus. Nyatanya kehidupan Bagus jauh lebih baik dibandingkan dengan kehidupan rumah tanggamu."
"Sudah dibilang kalau Ibu tidak punya uang. Uang pensiunan Bapak juga sudah kamu ambil. Setelah Ibu tidak punya uang sama sekali kamu juga membuang Ibu. Lalu mengapa sekarang kamu masih bertanya tentang uang kontrakan yang saat ini tengah menjadi satu-satunya sumber kehidupan Ibu dan Lina?" Ibu mertua terlihat sedih.
Mungkin ibu mertua sangat kecewa dengan Mbak Tika. Aku pun menghentikan aktivitasku. Lalu menepuk punggung ibu mertuaku. Aku berusaha menenangkannya.
"Setelah ibu tinggal bersama Alisa, mengapa ibu menjadi pelit? Ibu keterlaluan! Kalau ibu sudah tidak ingin membantuku, baiklah! Jangan pernah berharap aku akan menjadi anakmu lagi. Aku memutuskan hubungan keluarga kita. Teganya kalian mengolok-ngolok Ku Begini!" Setelah mengatakan hal itu Mbak Tika pergi meninggalkan rumahku.
Aku dan ibu terkejutkan main. Namun aku yakin kalau ibu mertuaku saat ini jauh lebih terkejut daripada diriku. Terlihat ibu mertua langsung menundukkan kepalanya setelah mendengarkan pernyataan dari Mbak Tika.
"Ibu. Ibu jangan bersedih. Mungkin Mbak Tika berbicara seperti itu karena dia hanya marah saja. Besok pasti dia akan mengerti keadaan ibu." Aku hanya bisa menghibur ibu mertuaku. Akan tetapi terlihat ibu mertuaku malah menggelengkan kepalanya.
"Kalau itu memang keinginannya tidak apa. Yang seharusnya marah itu ibu. Mengapa malah Tika yang menjadi marah? Ibu sudah banyak merelakan uang pensiunan dari bapak untuk Tika. Tanpa peduli kalau Lina masih membutuhkan dana untuk kuliahnya. Dan juga untuk biaya hidupku. Tika tidak pernah memikirkannya. Berbeda denganmu. Sepertinya lebih baik begini. Kalau keinginannya sudah seperti itu. Aku juga tidak ingin membujuknya. Aku ini ibu kandungnya. Orang yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Pantaskah jika bersikap seperti itu?"
Ibu mertua aku menundukkan kepalanya dalam-dalam. Aku yakin kalau sekarang dia sangat kecewa pada anak perempuan
__ADS_1