Keluarga Suamiku

Keluarga Suamiku
lebih baik.


__ADS_3

"Mbak Alisa kan memang sudah bekerja, Ibu. Makanya Mbak Alisa punya uang buat bayarin uang kuliah Lina. Sekarang uang jajan Lina juga dikasih sama Mbak Alisa. Tapi, Lina harus belajar lebih giat lagi. Kata Mbak Alisa, dia nggak mau kasih uang buat orang nggak berguna. Jadi, ini alasan Lina tinggal di sini selama ujian kemarin." Lina memberikan penjelasan untuk ibu mertua.


Terlihat ibu mertua menatapku tajam. Namun, detik berikutnya tatapannya berubah sedih. Ibu mertua juga tampak bernapas lega. Entah apa yang sedang mengganggu pikirannya. Sehingga ibu mertua memasang ekspresi seperti itu.


"Ibu, kenapa sedih?" tanya Lina.


"Ibu tidak sedih. Ibu cuma malu. Karena selama ini ibu berpikir Alisa yang terus mengeruk uang Bagus. Ibu takut kalau Bagus lupa pada ibu. Sedangkan ibu cuma memiliki Bagus dan kamu, Lina. Tapi ternyata ibu salah. Justru ibu sudah merampok uang Bagus selama ini. Ibu berpikir, uang yang diberikan pada ibu hanya sebagian dari gaji Bagus. Tapi ibu tidak menyangka kalau 80% gaji kakakmu ibu yang ambil. Padahal ibu sudah jahat. Tapi, Alisa malah bantuin kamu." Ibu mertua menjawab dengan suara yang terbata-bata. Wanita itu terisak pelan. Membuatku termenung dengan kata-katanya.


Selama ini aku berpikir bahwa ibu mertuaku memiliki uang setelah mendapatkan uang pensiunan ayah mertua. Di sisi lain ibu mertua juga berpikir kalau gaji Mas Bagus besar dan yang diberikan untuknya, aku juga memiliki yang lain. Begitukah?


"Tika bilang Bagus memiliki gaji 10 juta sebagai seorang manajer di perusahaan. Jadi, ibu terus mengganggu Alisa. Bagus, apa kamu marah sama ibu?" Ibu mertua menatap suamiku itu dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.


"Ibu seharusnya minta maaf pada Alisa. Karena selama ini, Alisa sudah sangat bersabar dengan keegoisan kita semua. Dek, kalau Ibu ingin minta maaf, apa kamu mau maafin Ibu?" Mas Bagus kini beralih kepadaku. Membuatku merasa bimbang. Untuk pertama kalinya tiga orang itu secara lekat memandangku. Aku pun lalu mendekat ke ibu mertua.

__ADS_1


"Sepertinya kita salah paham ya, Bu? Tanpa kita sadari kita saling berpikir buruk. Membuat kita semua menyakiti satu sama lain. Apa Ibu juga memaafkan Alisa? Alisa juga sudah berburuk sangka pada Ibu soalnya." Aku berlapang dada untuk memaafkan ibu mertuaku. Sepertinya kami tidak harus selalu mengedepankan ego.


Walaupun hatiku masih terasa sakit. Tapi aku tidak peduli. Aku ingin hidup tenang. Aku tidak ingin selalu diganggu oleh perasaan kesal, iri dan amarah. Meskipun belum tentu ibu mertua juga akan bersikap lebih baik dari sebelumnya.


"Ibu maafkan kamu, Alisa. Justru ibu sangat berterima kasih. Walaupun ibu dan Lina sudah jahat sama kamu. Tapi, kamu masih mau membantu Lina. Ibu bersyukur kamu dan Bagus memiliki hidup yang lebih baik dari kemarin. Kalau benar kamu sudah bisa membantu Bagus, ibu juga sudah senang. Walaupun ibu sedikit bingung dengan kebutuhan ibu dan Lina nantinya." Ibu mertuaku itu bercerita sambil menangis sesenggukan.


Aku tidak bersuara. Melainkan memilih untuk mendengarkan bagaimana ibu mertua selama ini berpikir tentang rumah tanggaku dan Mas Bagus. Mungkin saja ini kesempatan supaya kami semua saling terbuka. Lina terlihat mengambilkan tisu untuk ibu mertuaku.


"Seharusnya memang ibu bisa berpikir lebih panjang lagi. Uang pensiunan ayah kalian mungkin bisa untuk hidup ibu dan Lina. Bodohnya ibu malah memberikannya pada Tika," sesal ibu mertua.


Tapi, bagaimana kalau nantinya ibu mertua lagi-lagi ikut campur pada rumah tanggaku? Sebenarnya aku juga tidak keberatan kalau ibu mertua dan Lina tinggal di sini. Hanya saja aku takut mereka ikut campur keuanganku dan Mas Bagus seperti sebelumnya.


"Ibu, ibu jangan khawatir." Mas Bagus melirik ke arahku. Membuatku menundukkan kepala. Aku takut kalau Mas Bagus akan minta ibu mertua untuk tinggal di sini.

__ADS_1


"Ibu boleh tinggal di sini. Tapi, dengan syarat semua urusan rumah diatur oleh Alisa. Jadi, ibu dan Lina tidak boleh ada yang ikut campur bagaimanapun aturan Alisa di rumah ini. Kalau ibu dan Lina bersedia. Maka, silahkan tinggal di rumah ini dan rumah ibu peninggalan ayah, bisa kita kontrakkan. Kebetulan kan ada pabrik besar di sekitar sini. Pasti akan ada yang cari kontrakan. Bagaimana?" Mas Bagus akhirnya mengambil bagian tengah. Sepertinya Mas Bagus paham akan kegelisahanku.


Sebenarnya aku tidak masalah tinggal bersama ibu mertua. Tapi, aku tidak ingin kalau ibu mertua yang lebih berkuasa di rumah ini. Setidaknya aku harus memiliki kuasa sebagai seorang istri di rumah ini. Walaupun ibu mertua yang paling tua di rumah ini nantinya.


"Aturan bagaimana?" tanyaku untuk memastikan.


"Ya apapun. Kamu bisa memberitahukannya pada ibu dan Lina. Semua tergantung padamu. Jadi, kalau ibu dan Lina tidak ingin tinggal di sini, juga aku tidak memaksa. Semua tergantung kalian bertiga." Mas Bagus memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada kami bertiga mengutarakan pendapat.


Ibu mertua dan aku saling berpandangan. Sungguh membuatku sedikit canggung karena ini pertama kalinya aku dan ibu mertua dekat setelah berkali-kali bertengkar.


"Kalau memang boleh, ibu mau tinggal di rumah ini. Ibu berjanji. Tidak akan mengganggu rumah tangga kalian. Asal ibu dan Lina juga bisa hidup tenang." Untuk pertama kalinya ibu mertua tersenyum ramah padaku. Membuatku kaku seketika.


"Nah, Alisa. Bagaimana sekarang?" tanya Mas Bagus.

__ADS_1


Sekarang, aku harus menjawab apa ya?


__ADS_2