Keluarga Suamiku

Keluarga Suamiku
keceplosan.


__ADS_3

"Aneh deh. Kenapa semua orang bilang aku suruh hati-hati?" Suara Lina terdengar menggerutu dari dalam rumah.


Aku yang masih membuat sambal hanya bisa melirik sebentar. Sebab aku masih belum selesai membuatnya. Sebentar lagi Mas Bagus pasti akan pulang.


"Mbak Alisa. Apa Mbak Alisa dengar kabar yang beredar?" Lina duduk di kursi sambil menuang air putih. Gadis itu kemudian minum.


"Kabar apa?" tanyaku heran.


"Katanya aku suruh hati-hati di rumah ini. Memangnya ada hantu di rumah ini?" Pertanyaan Lina membuatku ingin tertawa. Kalau begitu Lina pasti sudah dihasut oleh tetangga yang mendengar gosip tentang uang pensiunan itu.


"Kamu sudah menginap di rumah ini hampir 1 minggu. Memangnya ada hantu? Ngomong-ngomong bagaimana ujian ini? Hampir selesai bukan?" Aku ingat kalau Lina sebentar lagi akan selesai ujian.


"Sedikit lagi, Mbak. Nanti tolong bantuin ya. Setelah ini akan ada liburan. Mana liburannya panjang. Apa kita akan tetap di rumah Mbak?" Lina membicarakan tentang liburannya.


Biasanya memang liburan setelah ujian semester itu pasti satu bulan lebih. Sebenarnya ini waktu yang tepat untuk liburan. Tapi kita mau liburan ke mana? Kalau nanti aku gajian lagi pasti cukup untuk dipakai berlibur. Hanya saja kita mau ke mana? Mungkin aku perlu berbicara dengan mas Bagus.


"Bagaimana, Mbak? Kalau seandainya kita berlibur ke pantai? Lina sudah lama sekali tidak liburan ke pantai. Mas Bagus pasti bisa diajak pergi. Dia sekarang tidak terikat jam kerja kantor." Lina semakin bersemangat ketika teringat Mas Bagus yang tidak lagi bekerja di kantor.


"Lalu ibu bagaimana? Apa Ibu bakal setuju? Mbak tidak mau membuat masalah. Bisa-bisa ibu memusuhi aku lagi." Aku sudah selesai membuat sambal. Kemudian aku taruh di sebuah wadah dan terakhir kubawa ke meja makan.


"Ibu pasti setuju. Lagi kita bisa liburan bersama. Tapi apa kita punya uang nanti? Aduh! Kenapa aku tidak ingat kalau Mbak Alisa sudah kasih uang semester? Udahlah Mbak. Lebih baik kita main di rumah saja. Atau di pasar malam!" Tiba-tiba saja Lina tidak lagi membahas perihal hiburan ke pantai. Ia tidak memilih mengajak ke pasar malam.

__ADS_1


Sebenarnya kalau hanya untuk liburan ke pantai, aku memiliki uang. Akan tetapi Mas Bagus pasti akan bertanya lagi dari mana uangku itu. Lagipula ini bukan waktunya tanggal gajian.


"Bujuk saja ibu dan Mas Bagus. Mas Bagus juga pasti punya uang. Perkara sewa mobil, biar jadi urusan mbak nantinya," ucapku.


Terlihat Lina tersenyum lebar. Dia memegangi tanganku yang menaruh lauk di atas meja. "Beneran, Mbak? Kita bisa liburan ke pantai?"


Aku menganggukkan kepala. "Iya. Asal kamu nurut sama mbak, mbak oke saja kamu butuh apa."


"Yey! Akhirnya! Ya ampun! Sudah lama lo, aku nggak ke pantai!" Lina berseru riang. Gadis itu kembali bersemangat lagi. Sebelumnya dia padahal menggerutu tidak jelas.


"Lina! Anak gadis kok cerewet sekali? Mulutnya itu lo! Baru pulang sana mandi, Lina. Bukan kok malah bikin ribut di sini!" Ibu mertua menarik telinga Lina.


"Janji deh, Bu. Nggak teriak-teriak lagi. Lepasin, Bu," rengek Lina.


Ibu mertua melepaskan tarikan tangannya di telinga Lina. Gadis itu langsung berlari meninggalkan ruang makan. Ibu mertua terlihat kesal saat Lina pergi. Wanita berusia paruh baya itu kemudian memperhatikan meja makan. Raut wajahnya sulit untuk kutebak.


"Pakai ada buah segala. Punya banyak duit?" Ibu mertua menatapku.


"Alhamdulillah, Bu. Sesekali beli buah. Mas Bagus suka sekali sama anggur," kataku dengan tersenyum.


"Halah! Anggur mahal, Alisa. Lain kali jangan beli anggur. Buang-buang uang saja. Masih mending Bagus kerja. Coba kalau enggak? Pusing juga kamu nanti!" omel Ibu mertua.

__ADS_1


Aku menarik napas. "Itu pakai uang Alisa kok, Bu."


"Alisa, Alisa! Jangan mentang-mentang kamu punya uang, terus buang-buang uang. Kerjaan Bagus itu cuma kuli bangunan. Kamu baru kerja sebentar. Udah sok gaya begini. Lain kali jangan beli buah yang mahal-mahal!" Ibu mertuaku tidak berhenti mengomel. Walaupun begitu ia malah mengambil buah anggur itu.


Aku memilih mengalah. Sampai akhirnya Mas Bagus pulang dan mengucapkan salam. Laki-laki itu berjalan memasuki dapur. Ia tersenyum padaku. Aku pun mendekat padanya dan mencium tangannya.


"Cepat ganti baju, Bagus! Ibu tidak sabar mau makan malam! Jangan mesra-mesraan di sini. Pamali! Cepat ganti baju!" titah ibu mertua.


"Iya, Bu." Mas Bagus pun tidak bisa mengelak. Ia lalu pergi meninggalkan dapur.


Kutarik kursi tempat biasa aku duduk. Sambil menunggu Lina dan Mas Bagus, rasanya waktu seperti sangat lambat. Masalahnya aku tidak nyaman duduk berdua bersama ibu mertua.


"Ada apa, Bu?" Aku bertanya saat melihat ekspresi ibu berubah. Wanita itu bernapas berat.


"Itu, Lo. Tadi kan ibu mau tanya kapan arisan ibu-ibu di sini diadakan. Terus di rumah siapa. Kan waktu itu ibu tidak ikut. Tapi, ibu merasa aneh." Ibu mertua tidak melanjutkan pembicaraannya. Ia malah lagi-lagi menghela napas panjang.


"Apa ada masalah?" tanyaku memastikan.


"Ada yang bilang ibu suruh hati-hati sama kamu. Katanya kamu mau minta uang pensiunan alm. Ayahnya si Bagus. Masalahnya kan uang itu sudah ibu kasih ke Lina semua. Terus kamu mau minta uang apa sama ibu? Aneh kan? Kenapa belakangan ini masih saja dibahas perihal uang pensiunan ayah Bagus ini," terang ibu mertua.


"Yang tahu perihal itu hanya kita dan Mbak Tika saja, Bu. Masa Mbak Tika yang ngomong ke tetangga?" Aku menjadi waspada ketika tanpa sadar mengatakannya. Benar-benar keceplosan. Takutnya ibu mertuaku malah menuduhku ingin memojokkan Mbak Tika. Tapi…mengapa ibu mertua diam saja?

__ADS_1


__ADS_2