
"Mbak Tika bisa tidak bicaranya tidak usah seperti itu?" Mas Bagus menegur Mbak Tika yang mengejekku.
Padahal kami berdua makan di sini juga bukan dari uang pinjaman. Aku sadar kalau menggunakan uang pinjaman itu hanya akan habis terbuang sia-sia. Belum lagi nanti perkara mengembalikan pinjaman itu sendiri.
"Hei, Bagus. Kenapa istri seperti itu masih kamu bela juga? Padahal dia ini sudah menjadi istri durhaka. Baru tadi pagi kan kamu mau pinjam uang? Ternyata uangnya untuk membeli makanan di sini. Malu, Bagus!" Mbak Tika justru meninggikan suaranya.
Sehingga beberapa pelanggan di warung makan bakso itu mulai melirik ke arah kami. Rasanya manusia satu ini seperti sengaja mengganggu kami berdua.
"Tapi kami beli makanan ini pakai uang kami sendiri. Kalau Mbak Tika merasa punya uang, bisa kembalikan uang Rp200.000 yang Mbak Tika pinjam waktu itu?" Akhirnya aku ikut bicara.
Setelah beberapa orang di antara pelanggan yang sedang menikmati bakso ikut berbisik. Mendengar aku menagih uang yang dipinjam Mbak Tika membuat beberapa orang tidak lagi memandangku remeh. Akan tetapi Mbak Tika tampak marah.
"Kenapa kamu malah membahas itu di sini Alisa? Atau kamu sengaja mau membuat malu Mbak Tika ha?" Mbak Tika terlihat marah.
"Bukannya Mbak Tika yang memulai terlebih dahulu membahas masalah utang di tempat umum? Jadi aku juga mengikuti apa yang Mbak Tika lakukan! Apa aku salah mengikuti juga mengikuti apa yang Mbak Tika lakukan? Apa aku salah, Mas?" Aku membalas kata-kata Mbak Tika. Biar saja dia kesal.
Akhirnya Mbak Tika yang tidak bisa membalas kata-kataku itu pun memilih untuk mencari tempat lain. Aku tahu dia akan menjadi dendam padaku. Lantaran aku sudah membuatnya malu di sini.
Aku terus mengawasinya. Beberapa saat ia ditegur oleh suaminya. Entah apa yang mereka perdebatkan. Mas Bagus menyentuh tanganku sehingga membuatku tidak lagi memperhatikan Mbak Tika dan keluarganya.
"Biarkan saja Mbak Tika berbicara seperti itu. Yang jelas uang yang kita pakai bukan uang pinjaman. Maafkan Kakakku ya! Sekarang lebih baik kamu menikmati bakso yang enak ini. Setelah itu kita pulang dan aku akan mencari pekerjaan baru." Mas Bagus tersenyum.
Ia kemudian memberikan aku segelas es jeruk yang memang sudah kupesan tadi. Mungkin ia memintaku untuk mendinginkan kepalaku setelah berdebat dengan Mbak Tika.
Aku cukup tersentuh mendengar kalimatnya. Mas Bagus akhirnya memiliki rencana untuk mencari pekerjaan lagi.
"Apa Mas Bagus sudah memiliki rencana selanjutnya?" Aku bertanya karena memang penasaran.
__ADS_1
Belakangan ini banyak sekali PHK besar-besaran di perusahaan maupun di pabrik. Bahkan banyak tetangga yang tadinya merantau ini justru pulang ke desa ini. Untuk itulah aku bertanya kepada Mas Bagus lantaran memang saat ini sangat sulit untuk mencari pekerjaan.
"Mau bagaimana lagi? Mungkin mencari pekerjaan yang ada saja. Sudah, sekarang lebih baik kita makan dan pulang. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang akan membuat kita kehilangan harapan." Mas Bagus mulai menikmati semangkuk bakso panas itu.
Aku begitu tersentuh mendengar kata-katanya mantan itu benar juga. Jika kita terlalu memikirkan sesuatu dan membuat kita berpikiran dulu maka itu bisa saja membuat kita kehilangan harapan. Setidaknya aku senang kalau suamiku itu berniat untuk mencari pekerjaan.
"Apa kamu setiap bulan juga bisa mendapatkan uang?" Tiba-tiba saja Mas Bagus bertanya padaku.
Untung saja aku sudah menyisihkan sebagian sehingga dia benar-benar melihat bahwa di rekeningku itu terdapat uang Rp500.000.
"Tidak tentu Mas. Terkadang ada yang tidak mendapatkan uang karena memang tidak ada pembaca satupun. Ini mungkin mereka sedang menyukai cerita yang Alisa buat. Nanti aku mau coba lagi supaya lebih ramai. Dan bulan depan semoga saja kita mendapatkan yang lebih sedikit lebih besar dari ini." Aku mencoba menahan diri.
Jangan sampai kami berdua harus bertengkar masalah keuangan lagi. Mas Bagus tampak tersenyum. Kemudian ia tidak bertanya apapun lagi.
Setelah kami menikmati semangkuk bakso itu aku membayar ke kasir dan memilih untuk membeli beberapa bungkus lagi. Bakso itu akan aku bawa ke rumah ibu mertua. Sedangkan Mas Bagus menunggu di atas sepeda motornya.
"Ini untuk Ibumu Mas. Masa kita makan enak tidak ingat ibu?" Aku mengatakan alasan mengapa aku membungkus. Sebab adik ipar dan ibuku ada di rumah yang tidak jauh dari rumahku. Suamiku tampak terdiam. Namun setelahnya ia tersenyum begitu aku selesai menjelaskan.
"Kau memang istri yang pengertian." Kemudian suamiku menyalakan motornya.
Kemudian kami berdua pun pulang. Dalam perjalanan aku dan suamiku mengenang masa-masa pacaran. Ternyata kami berdua hanya tidak peka satu sama lain.
Aku sibuk menyalahkan keluarganya, dia sibuk mempercayai keluarga. Akhirnya kami berdua berujung maaf-maafan di atas sepeda motor. Tapi sungguh melegakan.
"Lo! Bagus! Kamu ke rumah ibu kok tidak bilang-bilang?" Ibu menyambut kami. Tapi hanya Mas Bagus saja yang dihampiri. Kedua matanya terus melirik ke arah kantong kresek yang aku bawa.
"Habis dari mana?" tanya ibu mertua.
__ADS_1
"Ibu, ini Alisa bawa bakso buat Ibu dan Lina." Aku meraih tangan dan hendak bersalaman.
Namun, ibu mertuaku itu menepis tanganku dan malah mengambil kantong kresek yang aku bawa. Wanita itu melirik ke dalam. Senyuman tersungging di bibirnya.
"Makasih lo, Bagus. Sudah beliin ibu bakso." Ibu mertua malah berterima kasih pada Mas Bagus. Senyumannya sangat cerah.
"Itu tadi Alisa yang beliin, Bu. Bagus nggak ada uang buat beliin," kata Mas Bagus.
Senyuman ibu mertuaku hilang. "Kok bisa? Jangan-jangan ini dari uang pinjaman? Istrimu ini kan nggak guna, Gus! Dia ini kan nggak kerja! Dari mana si Alisa dapat uang? Halah! Paling duit minjem! Nih, baksonya ibu balikin. Pulang sana!"
"Bu! Alisa sudah kerja! Dia sudah bisa membantu Bagus! Kenapa sih Ibu selalu memojokkan Alisa? Masih mending Alisa tidak pernah memiliki utang, Bu. Apa kabar Mbak Tika yang punya utang bank emok? Mas Danu juga sudah pegawai negeri!" Mas Bagus membelaku. Membuatku tersenyum kecut.
"Kerja apa? Ibu lihat dia di rumah aja kok! Jadi bener ini bukan duit utangan? Ya sudah! Kalau gitu ibu ambil lagi! Kalau masalah Tika, dia kan memang anaknya 2, Bagus! Jelas butuh duit banyak! Kamu mah belum punya anak ya belum ngerasain!" bentak ibu mertua.
"Bagaimana sih, Bu? Kan selama ini Bagus juga yang sekolahkan Lina. Itu sama saja kan, Bu? Kenapa Ibu seolah-olah selalu memojokkan Alisa perihal anak?" Mas Bagus mulai lepas kendali.
Aku tahu kemarahannya ini dipicu karena ia tidak lagi bekerja dan perlahan alam menunjukkan keegoisan keluarganya. Tapi, ini membuatku takut. Bagaimana jika Mas Bagus semakin membuat ibu mertua membenciku?
"Haduh! Mending pulang deh kamu, Gus! Kamu juga sudah nggak kasih ibu uang kok! Pulang sana. Kalau di sini cuma ujung-ujungnya kamu ngeselin!"
Brak!
Aku dan suamiku berjingkat kaget saat ibu mertua menutup pintu dengan keras. Kami berdua lalu saling berpandangan.
"Ibu wataknya memang keras, Alisa." Mas Bagus tampak kecewa.
Padahal dia dulunya diagung-agungkan karena sering memberikan uang bulanan yang besar pada ibu. Belum lagi uang sekolah Lina. Sekarang, Mas Bagus seperti dikucilkan sendiri setelah ia mengalami PHK.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita pergi ke pertanian, Mas. Alisa pengen beli benih sayuran!" Aku mengalihkan fokusnya. Dia terlihat lesu.