Keluarga Suamiku

Keluarga Suamiku
dikucilkan.


__ADS_3

"Syukurlah kita bisa pergi ke pantai. Tinggal berbicara dengan ibu. Walaupun ibu pasti akan sedikit susah diajak karena memang saat ini ibu tidak punya uang." Aku ingat kalau ibu mertuaku tidak memiliki uang karena jatah bulanan dari suami sudah berkurang.


"Aku sudah memberi uang Ibu. Walaupun hanya Rp300.000. Tapi aku rasa kalau dia tidak belanja lumayan untuk pegangan." Mas Bagus tiba-tiba mengatakan kalau dia sudah memberi uang itu mertua.


Aku mengernyitkan dahi. Sebab Mas Bagus tidak pernah mengatakan apapun tentang uang bulanan untuk ibu mertua. Sebenarnya aku tidak masalah. Akan tetapi tolong jujur padaku. Walaupun saat ini terlambat untuk dia berkata jujur. Setidaknya dia mulai terbuka padaku.


"Tentu saja Ibu tidak punya uang. Karena selama ini memang Mas Bagus yang ngasih uang. Alisha pikir tadinya uang pensiunan dari almarhum Ayah memang bisa digunakan oleh ibu untuk belanja. Tapi ternyata yang ada malah Mbak Tika menilapnya. Bukan Alisa mengeluh. Tapi sudah jelas kalau ibu mertua juga membutuhkan uang untuk kebutuhannya sehari-hari. Apalagi Lina. Padahal merenovasi rumah bukanlah sesuatu hal yang penting. Kita boleh menggunakan uang itu bilamana ada sesuatu yang mendesak. Namun perkara rumah itu rasanya agak gimana ya?" Aku seperti biasa akan saling bertukar pikiran bersama Mas Bagus dan semenjak belakangan ini sehingga hubungan kami membaik.


Jika sebelumnya Mas Bagus akan tersulut oleh emosi, kali ini tidak. Mas Bagus bisa diajak bekerja sama. Dia terlihat merenung. Apakah dia sedang memikirkan kata-kataku? Aku tanpa sengaja melihat kalender.


"Aku lupa kalau besok harus pergi ke arisan. Tapi aku punya uang kok, Mas. Jadi Mas Bagus tidak perlu khawatir." Aku langsung menegaskan bahwa supaya Mas Bagus tidak khawatir tentang uang arisan.


"Aku tidak memikirkan hal itu. Aku hanya berpikir bahwa kenapa suami Mbak Tika tidak pernah dekat dengan kita? Apa karena kita miskin? Rumah kita memang minimalis karena aku membangunnya terburu-buru. Padahal tanah ini cukup luas. Mau bagaimana lagi? Waktu itu kamu bilang ingin punya rumah sendiri ketika menikah." Mas Bagus menerawang.


Kalau dipikir memang benar. Aku tidak ingin tinggal satu rumah dengan ibu mertua. Jadi, Mas Bagus waktu itu membangun rumah ini pun disesuaikan dengan keuangannya.


"Mas Deny ya? Alisa juga selalu tidak nyaman dengannya. Tatapan matanya aneh. Jadi, selama ini Alisa sering menghindarinya," kataku.


"Benar. Dari awal aku juga tidak begitu suka dengannya. Hanya saja, Mbak Tika sangat menyukainya. Jadi, aku bisa apa? Apalagi beberapa waktu lalu, aku ketemu Mas Deny. Padahal aku ini saudara iparnya. Tapi seolah dia tidak mengenaliku dan langsung melewatiku begitu saja." Mas Bagus menundukkan kepalanya dengan lesu.

__ADS_1


Ternyata Mas Deny pun sama keterlaluannya dengan Mbak Tika. Namanya juga jodoh ya? Aku menghela napas panjang. Akhirnya memilih untuk membaringkan diri di atas ranjang. Pun juga dengan Mas Bagus yang bersiap untuk tidur.


Keesokan harinya, seperti biasa aku mengurus rumah dan memasak. Hari ini aku tidak membeli ikan di abang tukang sayur. Lagipula daripada aku mendengar gosip yang tidak enak saja.


"Alisa!" Terdengar ibu mertua memanggilku.


Aku yang sedang memanen terong ungu pun langsung menegakkan badan. Terlihat ibu mertua berjalan tergesa-gesa menuju ke tempatku.


"Kamu ngapain di sini?" tanya ibu mertua.


"Panen terong ungu, Bu. Ada apa? Mengapa Ibu seperti tidak tenang?" balasku.


"Baiklah, Ibu." Aku mengiyakan. Tidak memiliki kuasa untuk menolak.


Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Barulah aku berangkat untuk ke rumah Bu Tiwi. Setelah berpamitan pada ibu mertua aku segera pergi dengan sepeda motor.


Sesampainya di sana, semua ibu-ibu sudah berkumpul. Aku pun memarkir motor dan kemudian mengucapkan salam. Namun, tatapan mata para tetanggaku itu tampaknya aneh.


Entah hanya perasaanku saja atau memang mereka seperti tidak suka dengan kedatanganku? Aku memilih untuk mengabaikan perasaan ini. Segera duduk di samping Mbak Candra. Seseorang yang selalu menyudutkan aku.

__ADS_1


Saat acara belum dimulai, aku pun mencoba untuk mengajak Mbak Candra beramah tamah. Sebab semua orang saling berbicara dan bercanda. Namun, Mbak Candra seperti biasa malah melengos tanpa menyahut.


"Duh, Alisa. Saya pikir kamu tidak datang lo. Ternyata datang ya. Apa kamu sudah dapat jalan terbaik itu? Yah gimana ya, Ibu-Ibu. Bu Juleha saja sampai tidak datang ke acara arisan lo. Bisa-bisa menantu malah meninggalkan ibu mertua dan berangkat sendiri. Apa Neng Alisa tidak takut kualat?" Seorang tetangga yang jarang berinteraksi denganku anehnya kali ini dia justru menyudutkan aku. Bu Mila. Ia duduk di seberang sana.


"Maaf, tapi Ibu sendiri yang tidak ingin pergi. Beliau menitip uang pada saya. Jadi, saya datang sendiri. Kenapa Ibu Mila seperti menuduh saya ya?" Aku yang kesal ini pun membalas dengan nada ketus. Kesal rasanya melihat sikap mereka yang sejak tadi berbisik.


"Siapa yang menuduhmu? Tuh cincin baru. Saya yakin kalau ini hasil malak! Nggak usah mengelak atuh, Neng." Bu Mila tidak mendengarkan aku bicara.


"Malak? Maksudnya apa ya?" Aku benar-benar tidak tahu. Baru saja datang sudah disuguhkan hal yang tidak mengenakkan hatiku.


"Ya, tentu saja malak Bu Juleha! Padahal ya, si Bagus juga baru kerja. Kok bisa dapat duit gede seperti itu? Beli cincin, lagi." Bu Mila semakin gencar mengintimidasiku.


"Memangnya ada hubungannya antara suami saya yang tidak bekerja dan membeli cincin?" kesalku.


"Ya, ada! Karena kamu malak uang pensiunan dari Bu Juleha kan?" tandas Bu Mila.


Apa? Aku terkejut bukan main. Bahkan perkara uang pensiunan dari alm. Ayah mertua sudah sampai di sini? Tidak masuk akal! Siapa yang memfitnahku? Tanpa sengaja aku melebarkan mata. Tampak Mbak Tika tersenyum tipis ketika mata kami tidak sengaja saling beradu.


Mbak Tika!

__ADS_1


__ADS_2