Keluarga Suamiku

Keluarga Suamiku
Tidak terima.


__ADS_3

"Kenapa kalian selalu mempermasalahkan apapun tentang Alisa? Memangnya kenapa kalau Alisa membantu Lina dalam belajar? Alisa memiliki kemampuan. Lagipula Apa yang sedang kalian debatkan ini tidak ada gunanya. Seperti yang Lina katakan Alisa sudah membantu Lina. Bukan seperti Mbak Tika yang malah menilap uang ibu untuk merenovasi rumah." Mas Bagus keluar dengan ekspresi yang tidak bersahabat. Mungkin dia juga marah karena Lina harus pusing memikirkan biaya kuliah sendiri.


"Kenapa kamu malah menuduh Mbak Tika, Bagus? Lagi pula ibu sendiri yang sudah memberikan uang itu kepadaku. Aku tidak salah dalam hal ini. Ingat, Bagus. Aku juga anak ayah dan Ibu. Mengapa aku salah kalau memakai uang pensiunan ayah untuk merenovasi rumah?" Mbak Tika tidak merasa bersalah. Entah bagaimana dia bisa sampai seperti itu. Benar-benar tidak tahu diri.


"Masalahnya, Ibu juga yang ingin Lina melanjutkan sekolah. Dengan uang pensiunan ayah yang berjumlah puluhan juta itu jelas bisa untuk membiayai kuliah Lina bahkan sampai luLus. Mbak Tika sendiri bukannya sudah S1? Mengapa Lina juga tidak boleh?" Mas Bagus memojokkan Mbak Tika.


Mungkin sebagai kakak dia mencoba meluapkan semua kemarahannya di sini. Tapi, ini di luar rumah. Takutnya ada banyak tetangga yang mendengar perdebatan kami.


"Mas Bagus alangkah lebih baik kalau kita berbicara di dalam rumah. Kalau di sini bisa bisa semua orang Mendengar pembicaraan kita." Aku mengingatkan Mas Bagus supaya segera masuk ke dalam rumah.


"Halah! Aku tidak ingin masuk ke dalam rumahmu! Kami di sini ingin membawa Lina pulang ke rumah ibu! Jangan membahas hal yang sudah menjadi keputusan ibu. Kenapa kalian mengungkit hal itu? Atau jangan-jangan Alisa yang sudah mempengaruhimu supaya mengungkit apa yang Ibu berikan kepadaku?" Mbak Tika menantang Mas Bagus.


Padahal di sini ada Lina yang juga membutuhkan dana besar untuk kuliahnya. Ibu sendiri hanya terdiam. Wanita yang biasanya berbicara dengan keras itu ini tidak mampu berbuat apa-apa.


Atau mungkin ibu mertua sedang memikirkan kata-kata Mas Bagus? Aku tidak tahu apa yang sedang ibu pikirkan. Tapi yang jelas, dia tidak semarah sebelumnya.


"Aku mengungkit hal ini karena memang Lina membutuhkan uang untuk biaya kuliah. Uang sebanyak itu tapi tidak ada sisa untuk Lina. Bukankah alangkah lebih baiknya kalau dibagi dua dengan Lina? dia juga anak ibu dan ayah." Mas Bagus terus menyerang Mbak Tika.


Suamiku sepertinya tahu bagaimana baiknya. Ia tidak mengatakan untuk membagi tiga uang pensiunan Ayah itu dengannya. Padahal sebagai anak laki-laki dia juga berhak untuk mendapatkannya. Ternyata seburuk apapun sifat-sifat suamiku, dia tidak gelap mata dengan uang dari orang tuanya.


"Mana bisa begitu? Renovasi rumah membutuhkan biaya besar, Bagus! Masih untung kamu sudah bisa membeli rumah sendiri. Kalau Mbak Tika ini memang harus mulai dari nol! Bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu? Lagi pula waktu itu Lina juga tidak membutuhkan biaya besar. Karena dia sebentar lagi akan lulus sekolah. Siapa yang tahu dia mau melanjutkan sekolah sampai kuliah? Lalu Mengapa sekarang kamu membahas tentang uang pensiunan Ayah ini?" Mbak Tika benar-benar keterlaluan.


Padahal bisa simple saja. Kalau memang dia tidak punya uang kenapa harus renovasi besar-besaran seperti itu? Kemungkinan itu menghabiskan uang lebih dari 100 juta. Entah dari mana dia punya uang sebanyak itu.

__ADS_1


"Lina, Ayo pulang bersama ibu. Maafkan Ibu. Sepertinya Ibu memang tidak berpikir terlebih dahulu. Yang penting sekarang uang semester sudah dibayar. Masalah sudah selesai kan? Ayo ikut pulang dengan ibu." Ibu mengajak Lina untuk pulang.


"Untuk sementara waktu biarkan Lina di sini dulu, Ibu. Di sini ada Alisa yang memiliki kemampuan di bidang accounting. Jadi lebih baik kalau Lina di sini untuk belajar. Aku rasa Lina juga setuju dengan keputusan ini," ucap Mas Bagus.


"Kalau begitu Ibu bakal sendirian di rumah, Bagus! Apa kamu tidak pernah memikirkan Ibu? Selama ini yang menemani Ibu di rumah hanya Lina saja." Ibu sepertinya takut dengan intimidasi dari Mas Bagus. Terlihat dia sangat gelisah sekali.


"Bagaimana kalau Ibu tinggal juga di sini? Kalau nanti Lina sudah libur, Ibu dan Lina bisa balik ke rumah. Nanti biar Alisa bantu beres-beres." Aku menyela. Ikut dengan pembicaraan mereka.


"Memangnya kamu mau memberi Ibu dan Lina makan apa? Mau nambah utang? Bagus saja kerja juga jadi kuli bangunan. Ini malah mau sok-sokan bawa Ibu dan Lina ke rumah!" Mbak Tika memajukan bibirnya. Ia sangat tidak tidak suka dengan ide yang aku berikan.


Akan tetapi, aku terpekur saat melihat ekspresi ibu mertua. Ekspresi wajahnya sedikit melunak. Kenapa? Dia sebelumnya sangat memusuhiku. Ya, aku tahu ibu mertuaku itu sangat menyebalkan. Karena terus menyalahkan aku yang seolah menilap uang anaknya. Jelas-jelas Mas Bagus suamiku.


"Mbak Tika ini bagaimana sih? Kan sudah Lina bilang kalau Mbak Alisa ini bekerja! Jadi, jelas Mbak Alisa punya uang. Yang bayarin biaya kuliah Lina juga Mbak Alisa. Jangan lupa juga Mas Bagus kerja juga," timpal Lina.


Sebelumnya memang ibu mertua tidak pernah akur denganku. Jadi, ke sini pun paling juga meminta uang dari Mas Bagus. Mbak Tika langsung membalikkan badannya dengan cepat.


"Ibu! Apa-apaan, Ibu? Kenapa Ibu tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Mbak Lina.


"Malam ini kita menginap di sini saja, Bu. Mbak Alisa pintar banget masak. Besok kita ambil baju sebagian. Lina juga mau ambil buku. Soalnya ujian semester ini bikin Lina pusing!" Lina berjalan mendekati ibu mertua. Ia bahkan bergelayut di lengan ibu.


"Lina! Jangan mempengaruhi Ibu! Kalau kamu ingin tinggal bareng Bagus ya sudah! Jangan mengajak Ibu juga!" Mbak Tika tidak terima.


"Ya, kalau Alisa tidak keberatan. Ibu mau deh di sini. Daripada ibu sendirian di rumah." Tidak pernah aku pikirkan bahwa ibu mertua bersedia tinggal di rumah.

__ADS_1


Aku menghela napas. Ada kekhawatiran tersendiri di dalam hati. Bagaimana kalau aku dan ibu mertua malah bermusuhan di rumah ini? Rasanya itu menakutkan.


"Tidak masalah, Bu." Entah aku harus bagaimana nantinya. Tapi, aku juga tidak bisa menolak.


"Kamu! Ah! Sudahlah! Kalau nanti Ibu menderita ikut sama Alisa, jangan mencari Tika!" Mbak Tika pun pergi meninggalkan rumahku.


"Ayo, masuk. Kita belum makan malam kan? Setelah sholat isya, kita bisa makan bersama," ajak Mas Bagus.


Akhirnya kami berempat pun masuk ke dalam rumah. Aku merasa sedikit canggung. Tapi, ibu mertuaku terlihat biasa saja. Kami juga memutuskan untuk sholat isya. Setelahnya aku segera menyiapkan makan malam. Ibu dan Lina saling bercerita saat aku baru saja membawa makan malam.


"Kamu masak apa, Alisa?" tanya Mas Bagus.


"Karena Lina hari ini mau menginap, Alisa memasak rendang daging. Terus ada rebusan daun singkong dan pepaya. Kalau Ibu tidak suka, Alisa punya ayam bumbu ungkep di kulkas yang belum digoreng." Aku takut kalau ibu mertua tidak bersedia makan masakanku.


Kalian tahu sendiri bagaimana hubungan kami berdua. Tapi, ibu mertuaku tersenyum? Sungguh ini sesuatu yang langka. Aku membalas senyuman ibu mertua dengan canggung.


"Ya nggak apa-apa. Ini juga bisa bikin kenyang. Tadi juga ibu nggak masak. Kan makan di sini nggak jadi kelaparan!" Ibu mertua menyahut dengan nada yang lunak sejak tadi. Walaupun sedikit cuek tapi rasanya aneh.


"Jadi, uang yang minta Mas Bagus waktu itu sudah habis ya, Bu? Lina punya uang jajan yang Lina simpan. Waktu itu Mbak Alisa kasih uang buat Lina. Besok bisa dipakai buat Ibu bayar listrik." Lina menyela pembicaraan canggung antara aku dan ibu.


Kata-kata Lina membuatku membeku. Pun juga dengan Mas Bagus yang kaget dengan pernyataan adiknya.


"Ibu tidak punya uang sama sekali? Apa uang pensiunan ayah yang dipakai Mbak Tika benar belum dicicil sama sekali?" Mas Bagus terlihat mengeratkan lehernya.

__ADS_1


Ibu tampak menundukkan kepalanya. Jadi, kalau Mas Bagus tidak memberinya uang, dia juga tidak memiliki uang? Selama ini aku selalu berpikir dia memiliki uang banyak. Tapi kenyataannya? Astaghfirullah hal adzim. Rupanya aku sudah berburuk sangka pada ibu mertua.


__ADS_2