Keluarga Suamiku

Keluarga Suamiku
munafik!


__ADS_3

Aku melihat Mbak Tika malah berbisik dengan yang lain. Tapi, aku yakin dia tadi sempat tersenyum. Atau hanya perasaanku saja? Dia menyebalkan. Mengapa dia harus memfitnah begini? Padahal dia sendiri yang sudah menghabiskan uang itu.


"Saya pikir Bu Munaroh waktu itu sudah ditegur Ibu Mertua saya? Kemarin loh, Bu. Waktu Bu Munaroh belanja di abang sayur. Kan Ibu Mertua saya sudah bilang kalau saya tidak tahu apa-apa. Kok masih dibahas di sini ya. Kenapa Anda sekalian tidak bertanya pada Mbak Tika saja?" Aku berbicara sambil tersenyum lebar.


Lihat, Mbak Tika! Aku tidak akan mengalah! Semua tetangga yang ada di sini kaget dan langsung melihat ke arah Mbak Tika.


"Yang bener, bagaimana, Tika?" tanya Bu Shofiah.


"Ah, ya mana saya tahu, Bu! Saya ini kan sibuk! Di rumah sudah ada anak-anak. Ribet tahu. Ngapain saya ngurusin uang pensiunan alm. Ayah saya? Lawong saya ini sudah dicukupi Mas Deny kok!" Tampak Mbak Tika melengos saat aku menatapnya dengan tajam.


Semua orang berbisik. Mereka bahkan melirik ke arahku dengan pandangan aneh. Dasar. Orang-orang ternyata lebih mempercayai Mbak Tika. Apa karena aku miskin? Aku tetap tersenyum. Namanya manusia, aku tidak boleh terlalu berharap pada mereka bukan? Aku menghela napas.


"Ya, sudah. Kalau begitu kita mulai yuk arisannya." Bu Tiwi memilih mengganti topik pembicaraan.


Satu persatu orang-orang dipanggil oleh Bu Tiwi. Begitupula dengan mereka yang terpanggil langsung membayar. Sampai pada akhirnya Bu Tiwi memanggil namaku dan ibu mertua.


"Ini, Bu." Aku pun membayar dengan milik ibu mertua.

__ADS_1


"Lalu cicilan utangnya Bu Juleha, Neng?" Bu Tiwi menanyakan utang atas nama ibu mertua.


"Hah?" Aku yang tidak tahu permasalahan utang ini hanya bisa melongo. Masalahnya ibu mertua tidak memberikan pesan perihal utang.


"Iya, utang. Biasanya kan memang ada utang-piutang ini. Em, uang PKK maksudnya. Biasanya dibayar pas sama arisan begini. Bu Juleha tidak kasih pesan?" Bu Tiwi sepertinya tahu kalau aku tidak mendapatkan pesan.


"Duh, sudah pamer cincin. Bilang mau bayarin uang arisan ibu, sekarang kok malah diam saja? Malu dong. Sudah pamer cincin! Tapi nggak mampu bayar utang ibu!" Mbak Tika lagi-lagi memojokkan aku.


"Kalau begitu, Mbak Tika tahu Ibu punya tanggung jawab di sini. Sebagai anak kenapa tidak membantu membayar?" Saking kesalnya aku reflek membalas.


"Bisa bayar via transfer, Bu Tiwi?" tanyaku. Aku mengabaikan kata-kata Mbak Tika. Jelas kalau dia tidak akan sudi untuk membayarnya.


"Bisa, Neng. Karena kemarin nunggak, jadinya sekitar Rp. 500.000. Percicilan itu Rp. 250.000." Jawaban dari Bu Tiwi membuatku menautkan kedua alisnya. Sebanyak itu? Tapi, kenapa ibu mertua tidak berpesan padaku? Aku tersenyum canggung.


"Bagaimana, Neng? Kalau jadi dibayar ya, ini nomor rekeningnya." Bu Tiwi memberikan hpnya. Di sana terdapat nomor rekening.


"Halah! Nggak usah sok mau bayar, Alisa! Besok, pun masih bisa bayar kok. Iya kan, Bu Tiwi? Kamu bisa jual cincin kamu besok. Jadi, kamu tidak perlu takut lagi," kata Mbak Tika.

__ADS_1


Aku tak mendengarkannya. Kemudian meraih hp milik Bu Tiwi. Aku pun membuka aplikasi rekening bank-ku. Biasanya aku menggunakannya untuk mengintip gaji dari menulis novel.


"Ini, Bu. Sudah ya, dua cicilan punya Ibu Mertua saya." Aku menunjukkan bukti transfer pada Bu Tiwi. Tampak Mbak Tika menjulurkan lehernya. Sepertinya dia juga penasaran.


"Baik banget atuh, Neng. Utang mertua saja dibayarin!" Sally memujiku. Dia tetangga yang baik.


Mendengarnya aku hanya bisa tersenyum. Kulirik ke arah Mbak Tika. Dia lagi-lagi melengos begitu saja. Acara pun dilanjut. Sampai akhirnya semuanya selesai.


Tidak ingin terus berada di tempat itu, aku pun kemudian mengendarai motor dan pulang. Bisa-bisa aku malah tambah kesal karena Mbak Tika.


"Heh tunggu, Alisa!" Sayangnya, Mbak Tika malah berteriak memanggilku.


"Iya, Mbak Tika?" Aku harus menahan diri.


Namun, Mbak Tika menoleh ke arah kanan dan kiri terlebih dahulu. Lalu menyapa orang yang berjalan melewatinya. Entah apa maksudnya tapi firasatku tidak enak.


"Dapat duit dari mana kamu? Kok bisa punya banyak uang?" Pertanyaan Mbak Tika lagi-lagi membuatku miris. Apakah aku tidak boleh memiliki uang?

__ADS_1


__ADS_2