Keluarga Suamiku

Keluarga Suamiku
Menyebalkan.


__ADS_3

"Eh, Alisa! Mau belanja?" Bu Munaroh menegurku ketika aku baru saja mau berbelanja di abang sayur. Sebenarnya sangat malas kalau ketemu orang itu. Pasti bakalan ngajakin berghibah.


"Iya, Bu Munaroh. Bu Munaroh bagaimana? Mau masak apa hari ini?" Aku membalas pertanyaan Bu Munaroh sambil melihat ikan. Ibu mertuaku ingin memasak ikan gurame dengan sambal terasi.


Belakangan ini hubungan kami lebih baik dari sebelumnya. Ibu mertua ternyata mau membantuku mengurus rumah. Tidak seperti bayanganku sebelumnya. Aku baru sadar. Tidak boleh menilai seseorang tanpa tahu latar belakangnya.


"Eh, Neng Alisa. Emang bener ya, Bu Juleha tinggal di rumah situ?" tanya Bu Munaroh.


"Iya, Bu. Sudah satu minggu ini ibu tinggal di rumah. Makanya satu minggu ini Alisa banyak sembako." Aku curiga dengan pancingannya ini.


Mengapa tiba-tiba bahas ibu mertuaku? Aku tidak ingin berpikiran buruk. Tapi melihat gelagat Bu Munaroh ini aku semakin curiga.


"Kok tumben ya, Bu Juleha mau tinggal di rumah si Bagus? Padahal kan selama ini kamu musuhan sama ibu mertua kamu itu. Kamu kan iri sama ipar kamu yang rumahnya lebih bagus. Oh, ibu mah tahu. Kamu nyuruh Bu Juleha tinggal sama kamu supaya rumah Bu Juleha itu dikontrakin dan dapat uang. Terus uangnya buat kamu karena kamu sudah nampung Bu Juleha sama Lina kan?" Bu Munaroh kembali berbicara aneh.


Memang belakangan ini Mas Bagus sudah menempel plang papan nama yang memberitahukan bahwa rumah ibu mertuaku dikontrakkan. Tapi, apa maksudnya itu? Padahal jelas-jelas uang itu nantinya juga diambil oleh ibu mertua.

__ADS_1


"Alisa tidak mengerti apa maksud Bu Munaroh. Bang, ikan guramehnya 3kg ya. Sama terasinya Rp. 5.000." Aku tidak ingin menambahi apapun. Kesal karena Bu Munaroh yang terkenal sebagai ratu gosip menuduhku.


"Sok nggak tahu lagi. Dasar mantu sakit! Sama ibu mertua kok tega!" Bu Munaroh langsung menggeser tubuhku dan meminta abang tukang sayur menghitung belanjaan.


Aku bersabar. Lalu tersenyum pada Bu Tiwi yang ada di ujung lain gerobak. Setelah memberikan uang, Bu Munaroh langsung pergi begitu saja. Entah gosip apa yang sudah menyebar di desa ini. Sehingga Bu Munaroh berani berbicara seperti itu.


"Memang benar ya, Neng Alisa. Kalau Bu Juleha tinggal di rumah situ?" Kali ini Bu Tiwi yang bertanya. Sedangkan ibu-ibu yang lain hanya melirik sesekali.


"Iya, Bu. Ibu juga tidak keberatan tinggal di sini. Habisnya, kan Lina perlu belajar waktu itu. Jadi dia belajar sama Alisa. Nah ibu mertua karena sendiri pilih ikut ke rumah." Aku menjelaskan dengan hati-hati.


Namun, ekspresi wajah Bu Tiwi dan ibu-ibu lain berbeda. Aku segera memberikan belajaanku dan memilih untuk pergi setelah membayar. Belum sempat aku pergi, ibu mertua datang mendekat.


"Bu Juleha, mau beli apa?" tanya Bu Tiwi.


"Ini mau cari teman buat bikin rujak. Jambu air, Alisa!" Ibu mertua mengambil jambu air dan dua buah lain.

__ADS_1


"Mas Bagus suka ini, Bu. Buah nanas. Pasti segar. Aku juga suka ini." Aku ikut memilih buah nanas.


"Jangan!" Ibu mertua mengembalikan buah nanas ke tempatnya. "Kamu sementara jangan makan buah itu. Panas di perutmu. Kamu lagi program. Mendingan buah alpukat ini. Kamu bikin jus saja." Ibu mertua memilihkan buah untukku. Suasana menjadi hening. Aku pun melirik ke arah ibu-ibu yang lain.


Aku baru sadar kalau para tetangga tengah melihatku dan ibu mertua. Mengapa mereka terlihat terkejut? Meski begitu, aku terus menjawab kata-kata ibu mertua yang sejak tadi mengoceh.


"Bu Juleha ternyata sangat akrab ya sama Alisa. Saya baru tahu!" Mbak Candra akhirnya bersuara.


"La? Alisa kan menantu saya, Candra. Apa salahnya kalau akrab sama menantu sendiri? Justru kamu yang aneh. Kok malah tanya-tanya gitu? Kaya nggak punya mertua saja! Bang! Ini tolong dihitung! Alisa, kalau ada yang ngomong aneh-aneh jangan ditanggepin! Tutup telinganya! Aneh banget!" Ibu mertuaku marah. Lalu ia mengeluarkan selembar uang merah dan membayarnya pada tukang sayur.


"Ambil kembaliannya, Alisa! Setelah itu masuk rumah!" Kemudian ibu mertua pergi meninggalkan kami semua.


"Ini, Neng kembaliannya." Tukang sayur iru memberiku kembalian. Aku pun melirik Mbak Candra yang terlihat kesal. Tatapan sinisnya kubalas dengan senyuman.


Yah, itu lebih parah. Langsung kena mental dari ibu mertua. Apa begini rasanya disayang ibu mertua?

__ADS_1


"Alisa! Kenapa kamu melamun?" teriak ibu mertua.


"Iya, Bu!" Walaupun galak. Tapi, ibu mertua sudah berubah. Semoga ke depannya hubungan kami juga semakin membaik.


__ADS_2