
"Jadi Mbak Tika sudah memutuskan hubungan dengan keluarga kita?" Mas Bagus bertanya dengan nada yang tidak percaya.
Sepulang Mas Bagus dari bekerja aku sudah menceritakan kejadian tadi. Aku tahu sebagai adik Mbak Tika pasti merasa sakit hati karena tiba-tiba saja Mbak Tika memutuskan hubungan kekeluargaan.
Terlihat Mas Bagus sangat kecewa dengan keputusan yang diambil oleh Mbak Tika. Jika di posisi saat ini mungkin aku juga pasti akan merasakan hal yang sama.
"Lalu apa yang akan Ibu lakukan sekarang? Ibu sudah tahu kalau Mbak Tika sendiri yang sudah memutus hubungan dengan kita. Terlebih hanya perkara uang yang dia minta tidak Ibu berikan. Uang hasil kontrakan rumah Ibu juga tidak banyak. Cukup untuk uang saku ibu dan juga Lina. Karena memang kontrakan itu dihargai murah sebab berada di desa. Mungkin kalau di kota akan sedikit lebih mahal." Mas Bagus sepertinya tahu kalau ibu mertuaku ini sedang kecewa terhadap putrinya.
Tampak sekali guratan kekecewaan itu terpampang nyata di wajahnya. Wanita berusia paruh baya itu hanya terdiam cukup lama. Ibu mertua tidak banyak berbicara seperti biasanya.
"Kalau aku sih lebih baik dibiarkan saja, Ibu. Selama ini juga Mbak Tika tidak pernah membantu kita. Aku tahu dia saudaraku juga. Tapi kalau sikapnya seperti itu kita juga yang akan repot nantinya. Belum apa-apa Ibu sudah dimintai uang satu juta. Sedangkan dia sudah meminjam uang Ibu juga dalam jumlah banyak. Kalau Ibu tua nanti memangnya Ibu mau hidup pakai apa? Mas Bagus punya kehidupan sendiri. Aku juga nanti akan punya kehidupan sendiri."
__ADS_1
"Bukan Lina mau menyingkirkan Ibu nanti, bukan. Tapi pastinya kita juga harus berjaga-jaga untuk kedepannya belum. Rezeki juga kadang ada di atas dan di bawah. Kita tidak selamanya berada di atas seperti Mas Bagus itu. Sekarang Mas Bagus juga hidup pas-pasan." Kata-kata Lina ada benarnya.
Ibu sewaktu nanti berusia lanjut pasti juga membutuhkan banyak biaya. Untuk berjaga-jaga. Ada baiknya kalau kami memiliki tabungan. Entah apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh ibu mertuaku itu. Terlihat itu Mertuaku menghela nafas panjang.
"Kalau Ibu ingin tinggal di sini terus apa bagus bakal keberatan?" ibu mertua bertanya dengan berhati-hati sambil melirikku.
Sebenarnya aku tidak masalah kalau ibu mertua tinggal bersama kami. Lagipula ibu mertuaku juga sudah berubah. Mulutnya tidak pedas seperti sebelumnya.
"Bukannya Alisa malah menawari Ibu supaya tinggal di sini?" Tidak masalah bagiku bila hidup bersama ibu mertua. Aku mengulum senyuman supaya ibu mertuaku percaya padaku.
Aku ingin sekali tertawa saat melihat bibir Lina mengerucut tajam. Sepertinya Lina kesal dengan kata-kata suamiku.
__ADS_1
"Mas Bagus! Memangnya selama ini Lina tidak tahu aturan? Lina pulang dari kampus juga langsung ke rumah. Kenapa Mas Bagus berpikiran buruk pada Lina?" Lina sepertinya kesal karena kata-kata Mas Bagus itu seolah menuduhnya.
"Sudah! Ibu senang kalau kalian bertiga aku begini. Ngomong-ngomong, Alisa. Sebelumnya aku ingin minta maaf kepadamu. Ibu dulu benar-benar kurang ajar padamu. Padahal kamu sudah sangat baik kepada aku dan Lina. Semoga saja ke depannya kamu juga mau memaafkan sikap ibu dan Lina. Karena mungkin saja ibu dan Lina akan tinggal di rumah ini untuk waktu yang lama." Ibu mertuaku meminta maaf padaku.
Hebatnya lagi ibu mertua juga meminta maaf karena akan tinggal di rumah ini bersamaku dan Mas Bagus. Padahal ibu mertua juga berhak tinggal di rumah ini karena Mas Bagus putranya.
Tapi apapun itu aku senang kalau hubungan itu dan itu mertua sudah lebih baik dari sebelumnya. Semoga saja ke depannya aku tidak akan bertemu dengan orang yang memiliki karakter sama seperti Mbak Tika.
Akhirnya kami berempat mulai menikmati rujak buah yang sudah kami siapkan. Sesekali kami saling bercanda karena hari Minggu seperti ini jarang sekali berkumpul.
Mas Bagus biasanya bekerja sebagai kuli bangunan. Sedangkan Lina sudah pasti berada di kampus selama jam-jam seperti ini. Untungnya ini menjadi momen yang menyenangkan bagi kami semua.
__ADS_1
Kalau seandainya ibu mertuaku tidak menyadari kesalahannya, bagaimana ya yang kehidupan itu ke depannya? Apapun itu aku bersyukur dengan apa yang sudah aku dapatkan saat ini.
The End