
"Sayur, Neng?" Bu RT menyapaku ketika aku baru saja mau membeli sayur di abang sayur gerobakan.
"Iya, Bu Amy. Bu Amy mau masak apa hari ini?" Aku membalas. Di sampingku juga ada Bu Munaroh dan Bu Tiwi. Ini memang rutinitas setiap pagi ibu-ibu.
"Neng Alisa jarang banget belanja ya?" Bu Tiwi tiba-tiba menegur. Tentu saja membuatku menoleh ke arahnya.
"Iya, Bu. Di kebun sebagian sayur sudah ada. Tinggal beli ikannya saja. Eh iya, besok ada arisan. Apa sudah dimulai arisannya?" Aku ingat yang memegang acara arisan di RT tempatku ini dipegang oleh Bu Tiwi.
"Heleh! Kayak kamu ada uang saja, Alisa. Suamimu kan pengangguran. Memangnya kamu mau bayar pakai apa? Duit darimana juga?" Terlihat Mbak Candra yang baru saja datang itu ikut nimbrung.
Mbak Candra ini merupakan teman Mbak Tika. Memang keduanya sangat dekat. Terlebih terkadang mereka juga sering keluar bersama atau sekedar jalan-jalan.
"Hush! Mbak Candra ini. Jangan seperti itu. Siapa tahu kalau Neng Alisa ini mampu. Kan dulu juga Neng Alisa bekerja di perusahaan besar. Jangan bikin Neng Alisa nggak betah tinggal di desa ini." Bu RT menegur. Sebagai orang baru di desa ini, aku tahu bagaimana sifat warga desa.
Sedangkan Bu RT memang sejak awal sangat baik kepadaku. Padahal Bu RT termasuk orang terpandang di desa. Tapi Bu Amy tidak pernah membanding-bandingkan warganya.
"Alhamdulillah Mas Bagus sudah bekerja, Mbak Candra. Jadi, Mbak Candra bisa tenang. Kalau nanti Alisa ikut arisan. InsyaAllah, Alisa akan amanah," ucapku lembut.
"Kerja apa? Nggak usah sok bergaya, Alisa. Kasihan Bagus. Kerja banting tulang setiap hari tapi istrinya santai di rumah." Mbak Candra semakin saja membuat kesal.
__ADS_1
Walaupun aku hanya di rumah saja bukankah masalah nafkah merupakan kewajiban dari suami yang menafkahi istrinya? Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Mbak Chandra. Tetapi setiap hari memang dia seperti memusuhi aku. Aku juga tidak tahu mengapa dia seperti memiliki dendam sendiri padaku.
"Kan itu mah sudah jadi tanggung jawab Pak Bagus, Mbak Candra. Neng Alisa ini sebagai istri ya di rumah saja toh. Beresin rumah, masak. Yang penting kan tidak menyusahkan suami. Seperti meminta untuk dibelikan barang-barang yang mahal. Tak lihat Neng Alisa ini juga biasa saja." Seperti biasa bu RT membelaku.
"Benar itu, Mbak Candra. Neng Alisa ini juga tak lihat biasa aja toh. Kalau masalah arisan memang sudah jadi agenda rutin setiap bulan di desa ini. Jadi ya wajar kalau Neng Alisa mau ikut arisan. Kalaupun Neng Alisa ini hanya di rumah saja memangnya apa urusannya sama situ? Yang penting kan Neng Alisa juga tidak merepotkan Mbak Candra!" Kali ini Bu Munaroh yang membelaku.
Ibu gemuk yang berjilbab itu memang seringkali mengajakku bercanda. Aku senang kalau rupanya kehadiranku diterima oleh sebagian dari penduduk desa ini. Walaupun ada yang sejenis seperti Mbak Chandra dan Mbak Tika. Tapi yang namanya kehidupan tetaplah harus hidup berdampingan.
"Tidak menyusahkan bagaimana? Tika bilang Bagus kemarin mau pinjam uang pada Tika. Tapi karena Tika harus membayar uang sekolah anaknya jadi ya tidak dikasih pinjam. Itu kan namanya masih menyusahkan suami! Seharusnya sebagai istri ya bekerja membantu suami. Kalau misalnya suami sedang susah! Bukan malah sampai di rumah!" Mbak Candra mulai emosi. Sambil memilih bahan makanan Mbak Candra terus saja menyindirku.
Lagi-lagi perkara uang pinjaman kemarin. Padahal Mas Bagus juga tidak mendapatkan uangnya. Sepertinya Mbak Tika sudah menyebarkannya ke banyak orang.
"Apa Mbak Tika tidak bilang kalau dia pernah berhutang Rp200.000 kepada Alisa? Kalau dilihat dari cerita Mbak Chandra tadi, Alisa pikir hubungan kalian sangat dekat." Aku menambahkan lagi. Wajah Mbak Candra memang sudah melunak. Sepertinya dia memang tidak tahu perilaku Mbak Tika yang sebenarnya.
"Nah itu dia! Mbak Candra jangan asal menuduh. Dengar sendiri kan. Kalau Neng Alisa ini sedang menagih haknya yang dibawa oleh Mbak Tika! Ngomong-ngomong Ibu dengar dulunya Neng Alisa ini bekerja di perusahaan besar ya? Kata Bapak mah namanya accounting!" Bu Munaroh kembali ikut berbicara.
Oh iya. Dulu memang suami Bu Munaroh ini memang satu perusahaan denganku. Hanya saja suami Bu Munaroh berada di bagian karyawan biasa. Sedangkan aku berada di bagian accounting.
"Padahal dulu posisi Neng Alisa ini sangat bagus. Kenapa Neng Alisa Malah keluar?" Bu RT bertanya alasan mengapa aku keluar dari pekerjaan lama aku. Mungkin Bu RT menyayangkan Posisiku yang bagus di perusahaan.
__ADS_1
"Mas Bagus minta Alisa di rumah saja Bu RT. Sebagai istri saya hanya mengikuti permintaan suami saya. Tapi kalau kembali lagi ke perusahaan itu memang tidak mudah. Selain karena posisi sudah terisi oleh orang lain pastinya belum tentu dapat posisi yang bagus. Sebab kabar beritanya memang ada banyak karyawan yang mendapatkan PHK. Jadi saya memilih untuk menerima pekerjaan secara online. Maksudnya jika Alisa memang dibutuhkan, maka pihak perusahaan akan memberikan pekerjaan kepada Alisa." Meskipun itu semua tidak benar. Tapi bukankah aku harus memberikan alasan mengapa aku berada di rumah.
"Pak! Cepat hitung!" Mbak Candra mungkin sudah mual mendengar ceritaku. Maka dari itu dia meminta Abang sayur untuk segera menghitung sayur pilihannya.
"Tiga puluh ribu, Mbak.jl Jangan utang lagi ya Mbak Candra! Lagi seret soalnya! Maklum, anak-anak juga butuh biaya sekolah. Waktunya bayar soalnya." Setelah menyebutkan total belanjaan dari Mbak Candra, tiba-tiba saja Abang sayur membahas perihal utang.
Tentu saja aku terkejut bukan main. Sebab Mbak Candra seolah memojokkan aku perihal yang mungkin saja memiliki utang. Rupanya malah dia sendiri yang berutang kepada tukang sayur.
"Siapa yang mau utang? Nih uangnya! Yang kemarin sudah lunas ya!" Mbak Candra memberikan satu lembar Rp50.000.
Si Abang sayur tentu saja sangat bahagia karena Mbak Candra tidak berutang. Aku sudah selesai memilih ikan mujair. Mungkin ikan mujair 1 kilo ini cukup untuk sehari makan. Aku juga membeli beberapa bumbu dapur yang sudah habis.
"Aku sudah selesai, Bang. Ini saja. Maklum cuma dua orang." Aku memberikan semua belanjaanku. Terlihat Mbak Candra melirik belanjaanku. Namun dia tidak mengatakan apapun dan pergi begitu saja.
"Sebenarnya dia kenapa sih?" Aku sangat bingung dengan tingkah Mbak Candra.
Mengapa hanya padaku saja Dia terlihat seperti tidak suka? Lalu apa yang sudah dikatakan oleh Mbak Tika sehingga Mbak Candra bisa memojokkan aku di saat pagi buta begini?
Sepertinya aku harus mawas diri setelah ini. Takutnya ada fitnah yang tidak aku tahu. Mungkin hari ini aku selamat dari fitnahan Mbak Tika. Lalu bagaimana selanjutnya?
__ADS_1