Keluarga Suamiku

Keluarga Suamiku
penegasan.


__ADS_3

"Kenapa kamu, Alisa? Mengapa kamu diam saja? Apa kamu tidak dengar apa yang aku katakan? Jangan bilang lagi kalau kau tidak punya uang. Padahal aku tidak pernah meminta bantuanmu. Masa sama ipar sendiri Kamu perhitungan!" Mbak Tika kembali berbicara omong kosong.


Padahal sebagai kakak ipar dirinya juga tidak pernah membantuku. Ibu mertua terlihat enggan untuk menjawab kata-kata Mbak Tika.


Karena ibu mertua tadinya juga tidak menyuruhku untuk membantunya. Hanya saja rasanya tidak nyaman ketika ditagih oleh orang di depan umum.


"Kalau Mbak Tika sendiri sudah tahu Alisa bantu ibu, itu artinya Mbak Tika juga tahu kalau aku tidak punya uang. Semua uang yang Alisa punya juga sudah Alisa bayarkan. Alisa pikir Mbak Tika juga masih punya telinga yang sehat untuk mendengarkan kata-kata Bu Tiwi." Aku tidak akan pernah membantunya lagi. Karena Aku curiga kalau Mbak Tika sendirilah yang sudah menyebarkan gosip.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Alisa! Mengapa kamu tidak mau membantuku? Atau jangan-jangan kamu membantu ibu karena ingin Ibu perhatian padamu bukan?" Mbak Tika menunjuk ibu mertuaku yang memilih duduk dan diam di tempatnya.

__ADS_1


"Mengapa kamu menyangkut pautkan hal ini dengan Ibu? Kalau Mbak Tika sedang kesusahan, lebih baik mencari cara untuk menyelesaikannya. Bukankah Mbak Tika masih memiliki suami?" Mas Bagus ikut berbicara. Sangat jelas sekali kalau Mas Bagus masih belum bisa menghentikan kemarahannya.


"Benar apa yang dikatakan Mas Bagus. Mbak Tika masih memiliki suami. Lalu mana suami Mbak Tika? Mengapa harus Mbak Tika sendiri yang mengurus semuanya?" Aku ikut menambahkan.


Karena Mbak Tika selalu saja menyudutkan aku. Bukankah sekarang kesempatan yang bagus untuk menyudutkan dirinya? Ini merupakan balas dendam tercepat yang pernah aku temui.


"Awas kamu, Alisa! Sebagai saudara kamu keterlaluan! Seharusnya kamu sadar diri. Bagaimana bisa kamu membuat orang lain merasakan sakit hati karena penghinaanmu?" Setelah mengatakan hal itu Mbak Tika pun pergi meninggalkan rumahku.


"Kenapa Ibu sedih?" tanya Mas Bagus.

__ADS_1


"Tika sekarang sudah berubah. Benar katamu. Deni masih berstatus sebagai suami Tika. Lalu mengapa Deni tidak berusaha untuk membuat Tita hidup tenang. Padahal jelas-jelasI itu merupakan tanggung jawabnya. Sebenarnya Ibu juga tidak ingin Tika hidup seperti itu. Tapi Ibu tidak punya kuasa untuk membuat keadaan menjadi lebih baik." Ibu mertua sepertinya sangat sedih dan kecewa karena Mbak Tika tidak berhenti membentaknya.


Mas Bagus membujuk ibu mertuaku. Walaupun aku seringkali kecewa karena ibu mertua, setidaknya sekarang aku menjadi lebih dekat dengan ibu mertua.


"Ngomong-ngomong Mbak Alisa, kita jadi liburan kan?" Tiba-tiba saja Lina membahas tentang liburan.


Aduh! Aku belum bersiap untuk ini. Aku melirik ibu mertua. Ah, aku tidak bisa menebak apa yang dipikirkan ibu mertuaku ketika mendengar tentang liburan.


Dengan wataknya yang seperti itu, rasanya sangat sulit mendapatkan izin. Pasti dia meminta uang padaku. Bagaimana ini? Secara mengejutkan aku menjadi gelisah. Jantungku semakin berdebar ketika melihat ibu mertua memandang ke arahku.

__ADS_1


"Sepertinya kamu memiliki banyak uang ya, Alisa?" Ibu mertuaku akhirnya menanyakan uangku.


Aku harus menjawab apa? Apakah semua seperti ini? Ketika menantu memiliki banyak uang maka akan disayang? Aku merasa tidak percaya diri.


__ADS_2