Keluarga Suamiku

Keluarga Suamiku
diejek.


__ADS_3

"Mbak Alisa!" Suara Lina kembali terdengar.


Aku yang masih di kebun depan rumah seketika langsung menoleh. Gadis itu berlari terburu-buru ketika turun dari motornya.


"Mbak di sini, Lina!" teriakku.


Lina berhenti. Kemudian dia berbelok mendekat ke arahku. Senyumannya melebar begitu ia melihatku.


"Mbak Alisa! Mbak Alisa beneran bayarin uang semester Lina? Tadi soalnya aku masuk daftar yang akan ikut ujian, Mbak!" Lina kini berada di depan pagar kayu kebunku.


"Oh, syukurlah. Ingat, nanti datang ke rumah mbak buat belajar. Mbak nggak mau nilai kamu jeblok, Lina." Aku berbicara sambil mencari cabe di kebun.


"Sip! Kalau kayak gini, Lina nggak jadi buat ikut les! Mbak Alisa ngapain di sini?" Lina membuka pintu pagar kayu kebunku. Matanya terlihat melebar seolah dia terkejut.


"Kenapa mukamu seperti itu? Mau ngejek mbak lagi?" Aku sudah memasang ekspresi kesal.


"Kok di sini subur-subur ya, Mbak? Mana sayurnya pada sehat-sehat. Mau Lina bantuin? Ngambil apalagi?" Lina terlihat bersemangat. Tapi, aku sudah selesai sekarang.


"Sudah selesai. Setelah ini mbak masak dulu. Kamu tadi baru dari kampus?" Kulihat dia terlihat rapi.


Gadis itu menganggukkan kepalanya. Aku pun keluar dari kebun. Lina mengikutiku. Ya setidaknya dia sedikit lebih sopan dari sebelumnya. Apa mungkin karena ibu mertuaku? Ah, pikiranku ini selalu saja mengitariku. Padahal ini tidak baik.


"Tadi aku beli bakso. Mas Bagus sebentar lagi pulang kan? Buat ibu sudah kuantar duluan." Lina menghampiri motornya lagi. Ternyata dia mengambil bungkusan plastik.


"Mbak masih mau bikin sambel dulu." Tadi aku sudah menggoreng ayam bumbu ungkep. Tinggal membuat sambalnya saja.


"Makan dululah, Mbak." Lina memaksa.

__ADS_1


Akhirnya kami berdua menikmati bakso itu bersama. Sambil tanganku bergerak mengupas bawang untuk dibuat sambal. Sesekali Lina mengajakku berbicara. Gadis itu sangat bersemangat karena tahu kemampuanku.


"Wah! Kenapa kalian makan bakso tapi tidak memberiku? Eh ada satu!" Tiba-tiba saja Mbak Tika main serobot.


"Ini buat Mas Bagus!" Lina langsung merebut seporsi bakso itu. Padahal di sana Mbak Tika sudah duduk untuk menikmati bakso.


"Apa-apaan kamu, Lina! Alisa saja kamu kasih! Kenapa mbak enggak? Kamu mau jadi adik durhaka ya?" Mbak Tika mulai berbicara dengan nada keras.


Kalau mengingat Mbak Tika datang ke rumah ini, untungnya ayam ungkep tadi sudah kumasukkan ke dalam kamar. Sedangkan sembako yang biasa ada di kamar belakang, sudah kusembunyikan di bawah kolong tempat tidur.


"Soalnya Mbak Alisa sudah bantuin Lina. Kalau Mbak Tika? Bukannya sudah dapat uang pensiunan almarhum bapak? Kita semua anak bapak. Kenapa hanya Mbak Tika saja yang dapat? Sedangkan Lina nggak ada yang bantuin! Mbak Alisa, ini simpan saja di kamar." Lina memberikan satu plastik bakso itu kepadaku.


Sebenarnya aku tidak ingin bertengkar perihal makanan ini. Hanya saja melihat Lina yang seperti ini mau tak mau aku memilih mengalah saja. Mengikuti kemauannya yang mungkin saja dia sedang merasa tidak adil.


"Lina! Apa-apaan kamu? Ya itu terserah ibu dong! Mau kasih ke siapa! Makanya jadi anak yang pintar! Jangan menyusahkan ibu!" bentak Mbak Tika.


"Iya. Cuma Mbak Tika yang pintar. Tapi, ngomong-ngomong kenapa Mbak Tika tidak pernah lulus ujian pegawai negeri? Itu memalukan loh. Buat orang yang mengaku pintar!" Lina tersenyum. Dengan tenangnya ia menikmati bakso yang dibelinya.


Tampak Mbak Tika masuk ke dalam rumah. Aku memutar bola mata kesal. Entah apa yang akan dia lakukan. Untungnya kamarku sudah aku kunci. Aku dan Lina menikmati bakso dan mengabaikan Mbak Tika.


"Alisa! Kenapa kamu tidak punya apa-apa?" Mbak Tika kembali lagi. Aku yakin dia berniat untuk mengambil sembako.


Kemarin Mas Bagus juga sudah memindahkan lemari es ke dalam kamar. Mungkin sekarang sedang sesak di kamar. Tapi kami berniat akan membobol kamar belakang yang terhubung dengan kamarku. Supaya lebih luas lagi nantinya.


"Mbak Tika, Mas Bagus bukan karyawan ataupun pegawai negeri yang memiliki gaji besar. Masih untung Mas Bagus bisa kerja." Aku mulai kesal. Bisa-bisanya dia membentakku hanya karena gudang belakang yang kosong itu.


"Masa beras saja kamu tidak punya? Kalau begitu pinjam uang Rp. 200.000. Aku tidak punya beras. Ibu juga tidak punya. Kenapa kalian semua pelit sekarang?" Mbak Tika semakin menjengkelkan. Padahal sendirinya tidak punya beras.

__ADS_1


"Aduh, Mbak Tika. Kalau sudah tahu kami ini miskin kenapa malah minta pinjam uang? Suami Mbak Tika kemana? Pegawai negeri malah pinjam uang sama kuli bangunan. Nggak malu, Mbak Tika?" Balasan dari Lina sangat menohok. Ingin sekali aku tertawa melihat ekspresi Mbak Tika yang marah itu.


"Kurang ajar kamu, Lina! Siapa yang mengajarimu seperti itu? Mengapa kamu menjadi kurang ajar kepada mbak seperti ini? Apa karena Alisa yang sudah meracuni otakmu?" Di luar dugaan Mbak Tika ternyata malah menuduhku.


Padahal jelas-jelas Lina sendiri yang sudah memilih untuk membelaku daripada membelanya. Rasanya sekarang Lina semakin diambang batas. Tampak sekali dari raut wajah Lina yang sudah memerah menahan amarah.


"Kenapa Mbak Tika selalu memarahi Alisha?" Suara Mas Bagus terdengar.


Kami semua menoleh ke arah pintu depan. Terlihat Mas Bagus berdiri di sana. Aku bernapas lega. Ingin sekali mengakhiri drama ini.


"Baguslah kamu sudah pulang, Bagus! Aku mau pinjam uang Rp200.000, Bagus! Beras Mbak habis." Lagi-lagi tanpa tahu malu Mbak Tika meminta uang kepada Mas Bagus yang bahkan belum duduk.


"Tidak ada. Sudah jelas kalau Bagus juga tidak punya uang untuk meminjami Mbak Tika. Karena jelas kalau Lina juga membutuhkan uang. Bukan hanya Mbak Tika saja. Atau Mbak Tika berpikir bahwa aku dan Alisa tidak makan?" Mas Bagus meluapkan kekesalannya. Sekarang Mbak Tika tidak ada yang membela.


"Mbak Tika ini pinjam uang, Bagus! Bukan minta uang ataupun mengemis! Jangan mentang-mentang kalian punya uang. Akhirnya kalian bersikap seperti ini kepadaku! Seharusnya sebagai saudara kalian harus membantu saudara yang sedang kesusahan!" Mbak Tika berbicara dengan omong kosongnya.


Padahal waktu itu Mbak Tika sendiri yang sudah menghinaku dan Mas Bagus di kedai makanan. Dengan berdalih kalau aku dan Mas Bagus meminta uang hanya untuk membeli makan. Padahal kami berdua hanya ingin meminta hak kami yang sedang dipinjamnya.


"Bukannya uang pensiunan Bapak juga sudah Mbak Tika tilap? Bahkan untuk membayar biaya kuliah Lina saja sampai tidak bisa! Seharusnya Mbak Tika bisa adil! Kenapa hanya Mbak Tika yang mendapatkan uang itu? Padahal Lina jelas sangat membutuhkannya untuk masa depannya." Mas Bagus akhirnya mengungkapkan apa yang sudah ia ketahui.


Namun ekspresi apa yang sedang Mbak Tika berikan? Seolah Mbak Tika sendiri kaget karena Mas Bagus tahu apa yang sudah dia sembunyikan.


"Kenapa, Mbak Tika? Mbak Tika tidak tahu kalau aku sudah tahu semuanya?" Mas Bagus menantang Mbak Tika.


Suamiku itu tersenyum menyaring setelah melihat Mbak Tika yang mulai panik. Namun yang lebih menjengkelkan adalah Mbak Tika tiba-tiba saja pergi meninggalkan kami semua.


"Dia benar-benar hebat!" Lina tampak terkejut dengan kelakuan mbaknya yang satu itu.

__ADS_1


Sedangkan aku yang sudah hafal betul dengan tiga bersaudara itu hanya menggelengkan kepala. Manusia memang ada banyak jenisnya.


__ADS_2