
"Alisa," panggil ibu mertuaku.
Jantungku berdegup lebih kencang ketika aku merasakan ibu mertuaku sudah berada tepat di belakangku. Aku yang baru saja selesai mencuci piring itu segera membalikkan badan. Rasanya sudah lama sekali ibu mertua tidak memanggilku dengan suara yang ramah.
"Ada apa, Bu?" Aku berusaha untuk menyembunyikan rasa ketakutanku.
Takutnya ibu mertua akan mengomeli dan mengatakan kalau aku sudah menghasut Lina. Akan tetapi Ibu mertua tak kunjung juga menjawab pertanyaanku.
Mengapa ibu mertua masih harus berpikir? Di sini tidak ada siapapun kecuali aku dan ibu. Aku yakin Mas Bagus sedang bermain handphone di kamar. Sedangkan Lina aku tahu kalau gadis itu masih sibuk dengan ujian semesternya.
"Kamu yakin punya uang untuk membiayai kuliah Lina?" Pertanyaan Ibu lagi-lagi membuatku tidak nyaman.
Apakah ibu mertuaku masih meragukan ku? Setelah Lina menjelaskan semuanya? Aku berusaha untuk tetap tenang. Jangan sampai aku emosi dan membuat ibu mertuaku semakin marah.
"Alisa sudah membayar lunas uang semester Lina. Memangnya ada apa ya, Bu?" Aku pun menjawab dengan santai. Walaupun dalam hati jantungku tidak santai.
"Apa itu semua dari uangmu hasil bekerja yang dibilang Bagus dan juga Lina?" Ibu mertua masih dengan pertanyaan yang jelas meragukanku.
"Tentu, Ibu. Memangnya Alisa punya uang dari mana? Alisa hanya berniat untuk membantu Mas Bagus saja. Tapi Alisa tidak tahu kalau pada akhirnya Lina yang lebih membutuhkan daripada kami berdua. Apakah ada yang salah itu?" Aku mencoba menyelidiki apa maksud dari pertanyaan ibu mertua tersebut.
Selain kami berdua tidak memiliki hubungan yang baik, takutnya ibu mertua masih saja berpikiran buruk padaku.
"Bukannya uang yang Lina butuhkan lebih dari 5 juta?" ibu mertua kembali mengatakan biaya yang dibutuhkan oleh Lina.
Entah apa yang sedang dipikirkan oleh ibu mertua. Hanya saja aku takut dia tidak mau mengakui pengorbananku.
__ADS_1
"Memang benar, Ibu. Tapi Alisa meminjam uang sebagian dari teman Alisa. Nanti kalau Alisa punya uang bulan depan Alisa bisa membayarnya. Lagipula Lina memang sangat membutuhkannya untuk biaya sekolahnya. Sedangkan waktunya sangat mepet sekali. Untungnya teman Alisa mau meminjami uang." Penjelasanku tetap sama dengan apa yang sudah aku katakan pada Mas Bagus maupun Lina.
Aku memicingkan mata. Terlihat sekali kalau ibu mertuaku bernapas lega. Mungkinkah dia baru saja mempercayaiku? Kalau begitu baguslah.
"Apa kau juga tidak keberatan jika ibu dan Lina tinggal di sini?" Ibu mertua mengalihkan pandangan matanya dariku. Sepertinya ibu mertuaku masih menjunjung harga dirinya yang tinggi.
"Selama Ibu dan Lina ingin tinggal di sini juga tidak masalah. Lagipula Mas Bagus juga punya uang untuk kebutuhan sehari- hari. Kalau untuk uang jajan Lina, Alisa masih punya uang," tekanku.
Tanpa berbicara lagi ibu mertuaku malah pergi begitu saja meninggalkan aku. Rasanya bingung mengapa ibu mertua malah pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun?
Meski begitu aku juga tidak ambil pusing. Memang wataknya sangat keras kepala sekali. akan tetapi hari ini sifatnya berbeda. Aku tidak mengerti apakah ini menandakan bahwa dia mulai menerimaku atau tidak. Hanya saja ibu mertua tidak pernah lagi mengejekku atau menyindirku.
Aku menyadari bahwa malam sudah semakin larut. Segera saja aku memutuskan untuk kembali ke kamar setelah menyelesaikan pekerjaan rumahku.
Kalau dilihat di jam dinding, ini sudah pukul Jam 9 malam. Mungkin Lina sudah menyelesaikan waktu belajarnya. Aku tidak mau menengoknya. Karena di sana jelas pada ibu mertua. Lebih baik aku segera masuk ke kamar dan tidur.
Kemudian harus memasak untuk sarapan. Terlebih lagi di rumah ini ada dua anggota keluarga yang ikut bergabung. Menu sarapan pagi ini tidak begitu rumit.
Karena abang sayur juga masih belum terlihat. Biasanya memang aku masak dua kali sehari. Biasanya aku tidak memasak banyak. Hanya saja hari ini ada ibu mertuaku yang biasa memusuhiku.
"Mbak Alisa, aku tidak sarapan hari ini. Karena Lina harus datang lebih pagi ke kampus. Kemarin lupa mau bilang. Ibu sudah bangun. Mbak Alisa nanti bisa ajak ibu makan. Maaf ya Mbak. Padahal Mbak Alisa sudah repot-repot memasak. Kebiasaan Lina memang jarang sekali makan di rumah. Ya sudah. Kalau begitu Lina pamit dulu." Lina langsung berpamitan kepadaku. Padahal dia belum mengucap salam.
Gadis itu sangat terburu-buru. Mungkin memang dia memiliki jadwal lebih pagi. Aku tahu bagaimana rasanya. Karena aku sendiri sudah pernah merasakannya.
"Kamu sudah selesai menyiapkan sarapan? Padahal Abang sayur belum lewat." Tiba-tiba saja ibu mertua mengejutkanku. Wanita berusia paruh baya itu langsung duduk di kursi tanpa menunggu jawabanku.
__ADS_1
"Sudah, Bu. Alisa memasak naget ayam, tempe, tahu dan sambal. Lina tidak sarapan di rumah. Dia sudah berangkat ke kampus." Aku pun ikut duduk di kursi.
Suasana sangat tidak nyaman bagiku. Mas Bagus mungkin sedang mandi. Biasanya sebentar lagi dia juga akan ikut sarapan. Untuk bekal makan siang aku sudah menyiapkannya di kotak makan.
"Sayur!" Suara abang sayur membuyarkan lamunanku.
"Eh, Ibu. Ada sayur. Alisa mau belanja dulu ya!" Aku sangat senang dengan situasi tidak terduga ini. Abang tukang sayur pas sekali lewat.
"Kamu mau belanja apa, Alisa?" tanya ibu mertua.
"Ibu ingin dimasakin apa?" balasku.
"Apa saja. Tapi ibu ingin makan tumis pare. Kamu bilang kemarin masih punya ayam. Bisa dipakai buat menu makan siang dan malam kan?" Ibu mertuaku sepertinya memiliki ingatan yang bagus.
"Baik, Ibu." Aku terburu keluar dari rumah. Tidak ingin mendengarkan suaranya lagi. Terlihat ibu-ibu sudah berkumpul melingkari abang tukang sayur.
"Eh, Neng Alisa. Kemarin aku dengar Ibu Juleha nginep di sini ya?" Bu Munaroh secara tidak terduga langsung menodongku dengan pertanyaan.
Sebuah pertanyaan yang cukup menggangguku. Bukankah baru malam ini ibu mertua tinggal di rumahku? Lalu, bagaimana bisa Ibu Munaroh mengetahuinya? Situasi ini cukup menyebalkan.
"Dari mana Ibu Munaroh tahu kalau ibu menginap di sini? Perasaan semalam di sini tidak ada orang. Apa Bu Munaroh menguping? Tidak baik loh, Bu. Itu namanya kan mencuri. Mencuri dengar!" sarkasku.
"Halah! Neng Alisa ini. Nggak penting ibu dapat dari mana. Yang jelas, Neng Alisa ini ingin merayu Bu Juleha supaya mau memberikan uang pensiunan suaminya ke suami Neng Alisa kan? Si Bagus! Makanya diajak menginap di sini! Jahat banget sih!"
Deg!
__ADS_1
Gosip apa-apaan ini?