
"Lina! Lina!" Itu suara ibu mertua yang sedang memanggil Lina.
Belakangan ini memang Lina sering ke rumahku. Karena aku sudah berjanji kepadanya untuk mengajarinya materi accounting.
Sedangkan Lina sendiri juga bersemangat dengan ideku ini. Akan tetapi entah hanya perasaanku atau bukan, ibu mertua memanggil Lina dengan penuh amarah.
"Bukannya itu suara ibu, Mbak Alisa?" Lina bertanya ketika ia juga mendengar suara ibu.
"Benar. Ayo kita ke depan." Aku mengajak Lina untuk segera ke depan.
Takutnya Ibu mertua marah karena aku dan Lina tidak cepat muncul. Namun ketika aku dan Lina sudah keluar dari rumah, terlihat Mbak Tika juga ada bersama dengan ibu mertua.
"Lina! Apa yang kamu lakukan di sini? Mengapa kamu tidak segera pulang? Ini sudah jam 7 malam. Mengapa kamu tidak pulang juga? Alisa! Kamu jangan membuat Lina menjadi keluyuran tidak jelas. Seharusnya jam segini Lina sudah ada di rumah." Ibu mertuaku itu terus mengomel.
Aku menebak jika Mbak Tika sudah berbicara yang aneh-aneh kepada ibu mertua. Sebab dari ekspresi wajahnya Mbak Tika terlihat sangat puas dengan ibu yang berbicara kasar di sini.
"Lina sedang mengerjakan tugas, Bu. Mbak Alisa membantu Lina. Jadi Lina bakalan pulang nanti setelah jam 9. malam. Lagian Mas Bagus bisa mengantar Lina pulang," tolak Lina.
Sepertinya Lina masih belum ingin pulang. Aku tahu dia pasti masih ingin mengerjakan tugasnya yang belum selesai. Akan tetapi apakah ibu mertua akan mendengarkannya? Terlebih lagi di sampingnya ada Mbak Tika.
"Kamu sudah mulai berani melawan Ibu, Lina? Kenapa sekarang kamu malah berpihak kepada Alisa? Padahal aku ini Ibu kandungmu! Mengapa kamu tidak mau mendengarkan Ibu? Pulang sekarang!" Ibu mertua tanpa basa-basi langsung mengajak Lina untuk pulang.
__ADS_1
Lagi pula mengapa ibu mertua sangat marah ketika Lina berpihak kepadaku? Padahal aku juga tidak pernah memusuhi Lina ataupun ibu mertua.
"Maaf, Ibu. Bukan karena Lina ingin menjadi anak durhaka. Tapi Lina belum menyelesaikan tugas kuliah. Besok juga harus dikumpulkan. Lagi pula Ibu juga tidak lupa 'kan kalau aku saat ini sedang ujian semester?" Lina masih membela diri.
Aku tahu perasaannya. Tapi apakah ibu mertua akan mau mendengarkannya? Namun aku mulai was-was ketika ibu mertua malah menatap ke arahku. Sepertinya target ibu mertua kini beralih kepadaku.
"Alisa! Apakah kamu sudah meracuni pikiran Lina? Mengapa dia menjadi anak pembangkang seperti ini? Sebagai menantu kamu harus tahu batas! Jangan meracuni pikiran Lina!" Benar juga. Itu mertua langsung menyerangku.
Saat aku ingin membalas itu mertua, Lina tiba-tiba saja berdiri di depan pintu.
"Mengapa Ibu selalu menyalahkan Mbak Alisa? Di sini memang Lina membutuhkan bantuannya, Ibu. Mbak Alisa sudah membantu Lina. Ini keputusan Lina sendiri. Mbak Alisa tidak ada urusannya dengan hal ini. Lagi pula pengaruh apa yang sudah diberikan oleh Mbak Alisa? Justru Mbak Alisa sudah berbaik hati membantu Lina." Lina sepertinya ingin menyelesaikan urusannya dengan ibu malam ini.
Akan tetapi rasanya tidak enak jika berada di tengah-tengah situasi seperti ini. Meskipun aku tahu kalau Lina pasti akan membelaku di depan ibu mertua. Tapi rasanya tetap aneh karena ibu mertua justru semakin membenciku.
"Ibu tidak mau tahu! Kamu harus pulang ke rumah sekarang juga! Kemasi barang-barangmu dan pulang sekarang. Jangan membuat Ibu marah, Lina!" Ibu mertua semakin berapi-api. Matanya menatap nyalang ke arahku.
"Benar! Memangnya apa yang sudah dilakukan Alisa sampai kamu menentang ibu, Lina? Dia itu orang lain! Kenapa kamu malah membelanya? Lina! Sadarlah! Lebih baik kamu pulang bersama ibu!" Mbak Tika ikut berbicara. Kemungkinan Mbak Tika juga yang sudah menghasut ibu mertua.
"Kalau begitu apa Mbak Tika bisa membayar uang semester Lina sebesar 7 juta? Jika memang ibu atau Mbak Tika bisa membayar uang semester Lina, maka Lina akan pulang dan menurut di rumah." Nada suara Lina sedikit menurun.
Aku melirik Lina dengan seksama. Sepertinya dia lebih pandai mengontrol emosinya. Tidak seperti Mbak Tika maupun ibu mertua yang selalu meledak-ledak.
__ADS_1
"Sudah dibilang ibu tidak punya uang! Kalau ibu punya uang maka Ibu sudah memberikannya kepadamu, Lina." Pun juga ibu mertua yang mulai berbicara dengan nada rendah.
Apakah mungkin itu rasa bersalah? Sedangkan kini kulihat Mbak Tika mulai salah tingkah. Benar. Dialah biang kerok ini semua.
"Iya. Lina tahu kalau Ibu tidak punya uang. Lina juga tahu kalau uang pensiunan Bapak juga sudah Ibu berikan kepada Mbak Tika. Untuk itulah Lina harus berpikir keras supaya bisa membayar uang semester. Padahal dulu ibu yang sangat ingin Lina melanjutkan kuliah. Sekarang mengapa semuanya menjadi seperti ini? Jadi apakah salah kalau Lina sekarang lebih memilih untuk di sini dan mengikuti apa kemauan dari Mbak Alisa?" Lina bahkan berbicara sambil tersenyum. Entah aku harus senang atau takut dengan sikapnya yang seperti ini.
"Kenapa kamu harus menurut pada Alisa? Dia ini orang asing, Lina! Dia hanya memiliki hubungan sebagai istri dari Bagus! Selebihnya dia hanya orang asing! Seharusnya kamu lebih mendengarkan apa kata-kata dari Mbak Tika atau Ibu." Mbak Tika menatapku dengan tatapan sinis. Aura permusuhan sangat terasa di sini.
"Karena Mbak Alisa sudah membayar lunas biaya semester Lina. Jadi untuk sementara waktu Lina akan di sini belajar bersama Mbak Alisa. Lagipula Mbak Alisa ini mantan accounting. Jadi kemungkinan besar dia memiliki ilmu untuk mengajari Lina." Akhirnya Lina mengungkapkan bantuan yang sudah kuberikan. Mendadak hatiku berbunga-bunga karena Lina mengakui kebaikanku.
"Apa kamu bilang, Lina? Kamu jangan bercanda Lina! Alisa mana punya uang sebanyak itu!" Mbak Tika langsung menyerobot. Seolah dia tidak terima dengan fakta yang diungkapkan oleh Lina.
"Kalau begitu dari mana Lina dapat uang sebanyak itu? Jika Lina belum membayar uang semester itu, bagaimana dengan dua hari ujian semester yang sudah Lina jalani?" Lina tidak mau kalah. Dia masih bersikeras untuk membelaku.
Mbak Tika terdiam. Wanita itu hanya menatapku dengan tatapan penuh amarah. Tapi, ekspresi ibu mertua terlihat berbeda. Berbanding terbalik dengan ekspresi Mbak Tika.
"Me-memangnya, dari mana Alisa dapat uang, Lina? Jangan berbohong!" Ibu mertua meragukanku.
"Lo, Mbak Alisa kan bekerja dari rumah, Ibu. Masa Ibu lupa kalau Mas Bagus dan Mbak Alisa pernah bilang kalau Mbak Alisa bekerja. Jadi, Mbak Alisa membayar biaya kuliah Lina dengan uangnya sendiri. Tidak seperti seseorang yang ingin menang sendiri!" Rupanya Lina sangat berani.
"Dari tadi kudengar kalian terus saja menyalahkan Alisa. Ibu, Mbak Tika. Apa selama ini cara kalian seperti ini? Menganggap Alisa sebagai orang asing?" Tiba-tiba saja Mas Bagus keluar dari rumah. Tentu saja perhatian kami semua beralih padanya.
__ADS_1
Nah, Mas Bagus keluar. Bagaimana sekarang? Apa Mbak Tika dan ibu mertua akan berbicara jujur?