
"Jadi semua itu benar, Lina?" Mas Bagus langsung membahas perihal apa yang sudah diceritakan oleh Lina siang tadi.
Lina tampak terduduk lesu di tempatnya. Gadis itu terus menundukkan kepalanya seolah ia tidak berani untuk menatap suamiku.
"Lina, katakan saja pada kakakmu. Tidak ada salahnya kita membahas ini sekarang. Karena apa yang kamu alami sekarang ini sedang terdesak. Ingat tentang biaya kuliahmu." Aku kemudian menegaskan tentang biaya kuliah Lina. Gadis itu terlihat mulai berani melihat Mas Bagus.
"Memang benar apa yang sudah diceritakan sama Mbak Alisa. Ibu selalu memarahiku. Padahal jelas-jelas aku masuk ke bagian accounting ini juga karena permintaan ibu. Ibu ingin aku menjadi pegawai bank. Terus Ibu juga memintaku untuk menghemat. Sedangkan aku tidak mendapatkan uang dari ibu sama sekali. Selama ini aku selalu minta uang kepada Mas Bagus. Kalau Mas Bagus tidak punya uang lalu aku bagaimana?" Lina akhirnya menceritakan bebannya selama ini.
Terlihat Mas Bagus frustasi lantaran Lina menceritakan perihal desakan dari ibu. Supaya gadis itu bersedia untuk mengikuti permintaannya.
Memang jika dipikirkan waktu itu Mas Bagus memiliki gaji yang lumayan. Pasti cukup untuk menumpang seluruh beban yang ada. Jika sekarang, tentu tidak bisa. Karena Mas Bagus sendiri hanya seorang kuli bangunan.
"Uang semesternya sekitar 6 juta. Jelas Mas Bagus tidak punya uang untuk membantuku bukan? Apa aku diambil cuti saja ya?" Lina akhirnya mengambil satu keputusan besar.
"Jangan! Apa yang kamu pikirkan? Pendidikanmu sudah berjalan selama 2 tahun! Apa kamu tidak sayang dengan semua pengorbanan yang sudah kamu lakukan?" Aku berapi-api ketika Lina hendak menyerah.
Gadis itu kembali tertunduk lesu. Mungkin memang Lina sudah tidak memiliki harapan lain. Sebenarnya aku memiliki uang untuk membantunya. Namun melihat sikapnya yang selama ini arogan padaku, aku sedikit perhitungan.
Akan tetapi jika melihatnya seperti ini aku juga tidak tega. Pasalnya Lina menjadi keras kepala dan arogan karena desakan ibu mertua.
Yang mana ternyata ibu mertua juga menekan Lina supaya mengganggu keuangan rumah tanggaku dengan Mas Bagus. Sebab Lina selama ini selalu meminta uang kepada Mas Bagus.
"Kalau tahu akan begini aku mungkin tidak akan sudi untuk melanjutkan sekolah lagi. Padahal dulu Ibu menjanjikan bahwa semuanya akan berjalan lancar sampai aku lulus. Kalau sudah begini aku harus bagaimana? Seandainya aku bekerja juga pasti membutuhkan waktu sampai aku mendapatkan gaji. Itu sangat mustahil." Lina terlihat mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Bahkan Mas Bagus juga terlihat melakukan hal yang sama. Mungkin dua kakak beradik itu sedang kesal dan marah karena Mbak Tika yang bertindak seenaknya.
"Apa kamu mau bersungguh-sungguh untuk belajar Lina?" Aku bertanya kepadanya dengan serius. Aku ingin melihat sebatas mana Lina ingin berusaha.
"Kata Mbak Alisa tadi aku sudah membuang waktu selama 2 tahun. Aku juga pasti tidak mungkin bisa mundur kan? Jadi mau tidak mau aku harus tetap belajar bersungguh-sungguh. Walaupun sekarang ini aku juga tidak tahu apakah aku masih memiliki kesempatan untuk ikut ujian semester itu atau tidak." Kedua mata Lina tampak berkaca-kaca.
Kalau seperti ini pun aku juga tidak tega melihatnya. Seumur aku menikah dengan Mas Bagus, aku belum pernah melihat Lina sampai seperti ini.
Mungkinkah selama ini dia hanya didesak oleh ibunya? Sehingga ia tidak peduli apakah sudah berlaku adil kepadaku atau tidak.
"Kalau kamu mau membantu Mbak Alisa nanti, Mbak Alisa akan bantu kamu." Akhirnya Aku memberanikan diri untuk memberikan tawaran kepadanya.
Terlihat sekali Lina tidak bersemangat. Mungkinkah dia berpikir bahwa aku tidak mampu? Ternyata dia masih memiliki hati juga untuk melihat situasi.
"Uang 6 atau 7 juta itu besar lo, MbakAlisha!" Lina memberikan peringatan kepadaku. Ternyata dia memiliki sisi yang seperti itu juga.
"Aku mau membantumu. Tapi selama ini sikapmu kepadaku selalu tidak sopan. Terkadang aku bingung dengan sikapmu, Lina. Kalau seandainya kamu mau mengikuti apa saja yang Mbak Alisa tetapkan, mungkin Mbak Alisa bisa membantumu. Tapi itu semua tergantung denganmu." Aku tersenyum dan terus saja terus tenang.
"Kamu memangnya punya uang, Dek?" Mas Bagus bertanya kepadaku.
"Kalau memang Mbak Alisa bisa membantu Lina, maka Lina akan menurut dengan apapun yang Mbak Alisa katakan. Memangnya benar Mbak Alisa punya uang sebanyak itu?" Kini Lina terlihat mulai bersemangat. Lina bahkan terus menatapku lekat-lekat.
"Kirim saja nomor rekening di mana Mbak bisa membayar semua uang semestermu. Nanti Mbak akan berikan semuanya. Dengan catatan kamu harus mengikuti apa yang Mbak Alisa katakan. Membantu Mbak Alisa mungkin di rumah ini." Aku akhirnya memberikan titik terang untuknya. Siapa tahu dia bersedia untuk membersihkan rumah ini atau membantuku.
__ADS_1
"Alisa! Apa kamu berniat untuk membuat Lina seperti pembantu?" Mas Bagus tampak tidak terima karena aku meminta Lina untuk membantuku. Aku tahu memang dia tidak akan menyetujui begitu saja.
"Mas Bagus, aku bisa memberikan Lina uang karena aku meminjam uang temanku. Uang sebanyak itu, tidak mungkin Alisa punya. Untuk mendapatkan uang sebanyak itu kemungkinan Alisa juga harus bekerja keras. Kalau Alisa tidak bisa membersihkan rumah dan memasak untukmu karena Alisa harus bekerja apa Mas Bagus akan menerimanya? Lagipula hanya membantu beres-beres rumah saja." Aku memberikan penjelasan. Sekaligus Aku ingin memberikan pelajaran kepada Lina supaya dia bisa bersikap lebih sopan kepadaku.
"Jadi benar Mbak Alisa bisa membantu Lina?" Lina kembali bertanya dengan kedua mata yang berbinar.
Sebenarnya bohong jika aku akan berhutang untuk membayar uang semesternya. Tapi aku juga tidak ingin disalahkan oleh Mas Bagus. Lagipula itu merupakan tabunganku pribadi.
Masa iya aku berikan secara cuma-cuma kepada Lina? Tentu saja aku harus memberinya sedikit pelajaran. Terlebih perihal tata krama.
"Ya sudah. Memang benar apa yang dikatakan oleh mbakmu, Lina. Mbakmu juga harus bekerja keras untuk membayar uang sebanyak itu, Lina. Kalau kamu mau ya silahkan saja ikut dengan Alisa." Mas Bagus akhirnya memberikan semua keputusan kepada Lina. Akan tetapi tanpa perlu berpikir lebih lanjut Lina sudah terlihat menyanggupi semua permintaanku.
"Kalau begitu aku kirim sekarang nomor rekening pihak kampus ya, Mbak Alisa!" Kini senyuman Lina mulai terlihat di bibirnya.
Mas Bagus tersenyum melihat adiknya mulai bersemangat kembali. Setelah ini aku akan memberikan pelajaran kepada Lina supaya dia bisa lebih kompeten di bidang accounting.
"Nanti malam aku akan mengirimkan bukti transfer pada Lina. Sekarang lebih baik kamu pulang dulu. Takutnya ibu mencarimu. Mulai besok kamu ke sini bawa laptop dan semua buku-buku yang kamu perlukan untuk belajar. Aku tidak mau membiayai seseorang yang tidak berguna." Aku mengedipkan satu mata kepada Lina.
Namun di luar dugaan gadis itu justru langsung memeluk itu saja. Rasanya ini pelukan pertama yang aku dapatkan dari adik iparku. Karena sebelumnya Lina selalu bersikap dingin dan meremehkan aku.
"Terima kasih Mbak Alisa!" Lina mengucapkan rasa terima kasihnya padaku. Entah mengapa rasanya aku sedikit bangga mendengarnya.
"Aku memang tidak salah memilih istri, Alisa!" Mas Bagus juga tampaknya senang dengan rencanaku. Ya, siapa tahu bila nantinya Lina akan memperbaiki dirinya. Kita tidak tahu bagaimana masa depan. Tapi, kita bisa menentukan jalan menuju masa depan.
__ADS_1