Keluarga Suamiku

Keluarga Suamiku
curiga


__ADS_3

Aku tersenyum mendengar jawaban Bu Munaroh. Rasanya seperti dia memang sedang menyerangku. Lebih baik aku memilih ikan apa yang akan aku masak hari ini. Lagipula untuk apa aku memikirkan gosip yang tidak benar.


"Neng Alisa. Kenapa tidak menjawab?" Mbak Candra terlihat ingin tahu reaksiku.


"Memangnya kenapa?" Aku balik bertanya kepadanya. S


ambil memilih ikan tuna yang akan aku masak bersama tambal kemangi. Ini kesukaan ibu mertua. Lalu aku juga memilih tempe dan tahu untuk teman ikan tuna.


"Itu artinya Neng Alisa mengakui kalau memang minta si Bagus untuk mendapatkan jatah dari uang pensiunan bapaknya!" Bu Munaroh kembali bersuara. Padahal aku memang tidak berniat untuk menjawab gosip murahan yang tersebar itu.


"Aku tidak tahu gosip apa yang sudah tersebar. Entah itu benar atau tidak tergantung orang yang mendengar berita itu. Bagian mana yang salah dari saya dan suami saya menerima Ibu mertua tinggal bersama kami? Padahal Ibu mertua juga ibu kandung Mas Bagus." Aku langsung menghentikan kata-kataku saat ibu mertuaku tiba-tiba bergabung.


"Kamu masak apa? Tadi ibu mau memintamu untuk memasak sambel pete." Ibu mertua lalu memberikan pete yang sudah dipilihnya padaku.


"Bu Juleha! Hati-hati sama si Alisa! Kalau ada apa-apa lebih baik Bu Juleha tidak usah percaya dengan Alisa. Zaman sekarang mantu memang kurang ajar!" Bu Munaroh langsung mendekati ibu mertuaku.


"Memangnya kenapa, Bu Munaroh?" Ibu mertuaku bertanya lantaran bingung dengan kata-kata Bu Munaroh. Sama sepertiku ibu mertua pasti bingung karena tiba-tiba dihadapkan dengan gosip yang aneh itu.

__ADS_1


"Aduh! Kenapa Bu Juleha tidak tahu? Mantu Ibu Juleha itu pasti sedang mengincar uang pensiunan almarhum suami ibu! Jangan mau menginap di rumah si Alisa! Nanti bisa-bisa Bu Juleha malah tidak dapat apa-apa. Menantu zaman sekarang itu selalu saja begitu. Kalau punya diam saja tapi kalau tidak punya pasti mepet-mepet!" Bu Munaroh membahas tentang menantu yang selalu ada maunya ketika dekat dengan ibu mertuanya.


Memang sudah mendarah daging tentang hal itu. Tapi bedanya Aku bahkan tidak peduli tentang itu semua. Sebab itu juga bukan karakterku.


"Kok saya jadi bingung apa yang dibahas? Bu Munaroh ngomongin apa ya? Kalau masalah uang pensiunan mah, Alisa memang nggak tahu apapun tentang itu. Saya 'kan di sini memang mau sama Lina. Alisa kasih bantuan buat Lina. Soalnya Lina lagi ujian semester. Alisa ini pernah bekerja di bagian accounting. Jadi pas sekali buat bantuin Lina belajar." Jawaban ibu mertuaku sukses membuat Bu Munaroh terdiam. Bahkan wanita itu mengusap lehernya yang tidak gatal. Ia sepertinya kaget karena Ibu mertuaku menjelaskan tentang alasan mengapa ia dan Lina ada di rumahku.


"Ibu tidak ingin beli jajanan? Mumpung ada jajanan dari pasar." Aku mengalihkan topik pembicaraan. Sebab sedikit canggung karena Bu Munaroh salah sangka terhadap ibu mertuaku.


"Kan sudah dibilang ibu tidak punya uang! Kalau dibelikan juga tidak apa-apa." Meskipun bernada sewot, tapi ibu mertuaku sudah membelaku.


Aku memilihkan jajanan dari pasar kesukaan ibu mertua. Tetangga yang lain pun ikut berbasa-basi dengan ibu mertua. Setelah membayar semua belanjaan, aku mengajak ibu mertua pergi. Akan tetapi, ibu mertua malah sibuk berbicara dengan Bu Tiwi yang entah membahas apa.


"Beneran, Bu Juleha? Kalau si Neng Alisa ini tidak tahu tentang uang pensiunan almarhum Ibu?" Terdengar suara Bu Munaroh memastikan lagi saat aku beranjak pergi.


Aku menghela napas berat. Sepertinya percuma saja pembelaan dari ibu mertua. Aku terus berjalan masuk ke dalam rumah. Setelah aku menaruh semua belanjaan tadi, aku pergi ke kebun depan rumah. Karena aku belum memiliki cabe untuk sambal.


"Haduh! Dasar ibu-ibu nggak ada kerjaan! Bagaimana sih? Kan sudah dibilangin! Dasar! Heh, Alisa!" Ibu mertua menyentakku. Membuatku kaget lantaran aku sedang mencari cabe.

__ADS_1


"Ya, Bu?" Aku menoleh ke arahnya. Ibu mertuaku pun datang mendekat.


"Haduh! Gosip apa sih yang menyebar itu? Kenapa pakai bahas uang pensiunan juga? Kau bilang sama mereka ya?" tuduh ibu mertua.


"Lo? Malah Alisa yang dituduh, Bu. Katanya Alisa ngajakin Ibu ke sini karena mau minta uang pensiunan alm. Ayah. Padahal Alisa yang dituduh. Ibu malah nyalahin Alisa," protesku.


"Haduh! La terus siapa? Kok bisa-bisanya Bu Munaroh tahu tentang pensiunan itu? Rumahnya juga jauh dari rumah ini. Nggak mungkin dengarlah!" cerocos ibu mertua.


"Alisa mana mungkin bilang ke orang-orang, Bu. Soalnya kan Alisa yang dituduh." Aku tetap membela diri. Enak saja mau menuduh orang seenaknya.


"Iya, ya. Kalau kamu mah, namanya bunuh diri. Jelas bukan kamu. Lalu siapa?" Ibu mertua terus berpikir. Namun, selang beberapa menit kemudian, dia malah pergi begitu saja.


Aku menggelengkan kepala pelan. Sudah hafal betul dengan sikapnya. Walaupun sejujurnya aku sendiri juga penasaran.


Rumah kami sedikit jauh dari rumah tetangga. Apa mungkin mereka mencuri dengar? Tapi, dengan nada suara ibu mertuaku yang keras itu memang bisa saja terjadi.


Lagipula aku juga tidak mungkin bunuh diri. Membuatku jelek di mata orang-orang. Tunggu. Atau jangan-jangan Mbak Tika yang memfitnahku?

__ADS_1


__ADS_2