
Aku mencari bunga pepaya hari ini untukku tumis. Rasanya sudah lama aku belum memakan tumis bunga pepaya. Lagipula suamiku juga belum bekerja.
Seandainya saja Mas Bagus sudah bekerja mungkin aku sedikit tenang. Sedangkan sekarang Mas Bagus mencari pekerjaan juga sangat sulit.
"Kamu ngapain di sana, Alisa?"
Aku mendengar suara yang familiar. Sepertinya itu suara ibu mertuaku. Aku pun menoleh ke arah sumber suara. Tampak ibu mertuaku berdiri di belakang pagar yang ada di kebun depan rumahku.
"Ibu?" Aku pun segera menyudahi aktivitas mencari bunga pepaya.
Kemudian berjalan menuju ke arah ibu mertuaku. Terlihat ibu mertuaku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Aku yakin kalau ibu mertua mencari Mas Bagus.
"Di mana suamimu?"
Benar saja. Ibu mertua langsung bertanya tentang keberadaan Mas Bagus. Kemudian matanya beralih kepada sebuah wadah yang berisi bunga pepaya.
"Untuk apa kamu mencari bunga pepaya itu?" Tanya ibu mertua.
"Hari ini aku mau membuat tumis bunga pepaya, Bu. Mumpung lagi banyak. Apa Ibu mau? Nanti kalau sudah matang Alisa antar ke rumah ibu."
Aku pun kembali menaruh wadah tersebut ke tanah. Lalu aku mengambil gunting dan Mulai mengambil cabe. Entah apa yang menjadi alasan ibu mertuaku datang ke rumah. Tiba-tiba saja dia ingin mencari Mas Bagus.
"Memangnya ke mana bagus?" Lagi-lagi ibu mertuaku mencari keberadaan Mas Bagus.
Sambil mencari cabe aku pun menyahut. "Mas Bagus sedang mencari pekerjaan. Mungkin nanti sore Mas Bagus akan pulang."
Terlihat sekali ibu mertua tidak menyukai kata-kataku. Wanita itu mencebikkan bibirnya secara terang-terangan. Aku yakin dia sebentar lagi pasti akan mengejekku.
"Dasar mantu tidak berguna! Bagaimana bisa kamu enak-enakan di rumah sedangkan suamimu sibuk mencari pekerjaan? Setidaknya kamu harus membantunya untuk mencari pekerjaan. Sudah hidup susah tapi malah mau enaknya sendiri!" Dugaanku Memang benar.
Aku tidak heran jika ibu mertua datang ke rumah. Aku yakin kalau ibu mertua ke sini pasti hendak meminta jatah bulanan kepada Mas Bagus. Padahal ibu mertua masih memiliki uang pensiunan dari almarhum ayah mertua.
"Alisa mau nurut sama suami, Bu. Karena Mas Bagus meminta supaya Alisa tetap di rumah. Lagipula sekarang susah mencari pekerjaan kita. Kalau mau bekerja dengan gaji yang lumayan hanya bisa kita dapatkan saat di tanah rantauan. Kalau Alisa kembali ke kota itu artinya Mas Bagus harus ikut dengan Alisa."
Aku yakin kalau ibu mertuaku pasti tidak akan memberikan izin kepada Mas Bagus. Untuk itu denganku seputarannya karena sejak dulu itu. Mertuaku memang tidak bisa ditinggal oleh suamiku.
Hal itu dikarenakan itu mertua terlalu dekat dengan Mas Bagus. Lantaran masih sendiri merupakan satu-satunya anak laki-Lagi. Meski begitu Ibu mertuaku tidak pernah tulus kepada Mas Bagus. Aku ingat saat Mas Bagus ingin meminta uang pinjaman. Antara kami hanya memegan uang Rp100.000.
__ADS_1
Di sanalah ibu mertua tidak memberikan pinjaman padahal dirinya punya uang dari pensiunan ayah mertua. Sedangkan beberapa tahun ini Ibu mertua mendapatkan uang bulanan dari Mas Bagus. Aku yakin kalau ibu mertua tidak boros mungkin uangnya masih cukup sampai detik ini.
"Ya jangan! Dia itu anak satu-satunya laki-laki di rumah. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada ibu ataupun Lina? Memangnya akan bertanggung jawab? Jelas tidak mungkin kau bertanggung jawab. Lagi pula usiamu juga masih muda! Memang kamu menanti yang tidak berguna! Mbok dilihat seperti Tika! Dia masih bekerja membantu suaminya!"
Ibu mertuaku lagi-lagi membandingkan aku dengan Mbak Tika. Aku memutar bola mata kesal. Padahal gaji sebagai penjual online seperti itu harga sedikit gaji.
Namun hal itu selalu dibesar-besarkan oleh ibu mertuaku. Lucunya lagi Sekarang aku malah dibandingkan dengan ibu mertua. Ibu mertua inilah yang selama ini terus ikut campur masalah Rumah tanggaku dengan mas Bagus.
"Apakah kamu punya uang Rp200.000 Al?" Setelah tidak mendapatkan jawaban dariku ibu mertua kini malah bertanya soal uang. Padahal tadinya dia sudah mencibirku.
"Kemarin Alisa punya uang Rp200.000. Tapi hari ini setelah belanja sembako dan keperluan rumah. Jadi hari ini Alisa punya uang Rp100.000." Sebenarnya uang yang tersisa sebesar Rp. 400.000.
Tapi aku tidak mau memberikan uang itu pada ibu mertua. Sebab ibu mertua jelas memiliki lebih uang pegangan yang jauh lebih besar dari itu. Sedangkan uangku yang Rp100.000 untuk pegangan Mas Bagus mencari pekerjaan.
"Dasar tidak berguna! Masa uang Rp200.000 saja tidak punya? Ibu butuhnya 200.000! Makanya kalau tidak punya uang jangan kebanyakan gaya! Kenapa kalian malah membelikan bakso pada ibu waktu itu? Kalau kalian saja tidak punya uang seperti ini! Katanya dapat rejeki! Mana?" Ibu mertua lagi-lagi mengomel tidak jelas.
Rasanya aku sedikit kesal lantaran perkara bakso waktu itu pun diungkit-ungkit. Padahal di sini jelas-jelas Mas Bagus yang memiliki tanggung jawab untuk memenuhi semua kebutuhanku. Sebab posisinya merupakan kepala keluarga di rumahku.
"Ya memang tidak punya Ibu! Kan Mas Bagus putra ibu sendiri yang seharusnya memberi Alisa uang dan nafkah! Kalau seandainya Mas Bagus memberi Alisa uang, maka Alisa punya uang juga untuk memberikannya kepada ibu!" Rasanya melelahkan berdebat dengan ibu mertua.
Akupun keluar dari kebun kecil yang ada di depan rumahku. Setelah pagar aku tutup, aku pun berjalan menuju ke rumah. Akan tetapi Saat aku berjalan ternyata ibu mertua juga mengikutiku. Karena penasaran aku menoleh ke arahnya.
"Kamu bilang tadi masih punya uang Rp100.000?" Rupanya ibu mertua masih menginginkan uang yang tersisa di tanganku. a
Aku menghela nafas panjang. Karena aku sudah belajar dari pengalamanku yang sebelumnya uang yang masih tersisa Kusimpan dalam dua dompet yang berbeda.
Uang Rp. 300.000 yang lainnya berisi 100.000. Itu juga untuk berjaga-jaga supaya bila Mbak Tika pinjam uang, aku bisa memperlihatkan sisa uang yang ada di dompetku. Namun lucunya sekarang malah ibu mertuaku yang meminjam.
"Ini Bu uangnya!" Aku memberikan uang kepada ibu mertua.
Namun ibu mertua malah mengambil dompetku. Ia juga dengan seksama mengamati isi dompet itu. Nasib baik aku sudah menyisihkan uang lainnya.
"Hanya segini? Jadi kamu benar-benar tidak punya uang? Dasar payah!" Ibu mertuaku tetap mengambil uang yang ada di dompet itu. Bahkan tanpa basa-basi Ia pun langsung pergi meninggalkan rumahku.
"Ya ampun, ibu mertuaku memang tidak pernah berubah. Uang pensiunan suaminya jelas-jelas masih ada banyak."
Aku menggerutu. Kemudian aku memilih untuk memasak. Sungguh aku bersusah payah menahan emosiku. Jangan sampai fokusku teralihkan.
__ADS_1
"Dek, Mas pulang! Assalamualaikum!" Terdengar suara suamiku tiba di rumah. Buru-buru aku keluar dari dalam rumah dan menyambutnya.
"Waalaikumsalam, Mas!" Aku menyalami tangan suamiku. Terlihat sekali suamiku itu tersenyum.
"Apakah Mas Bagus mendapatkan pekerjaan?" tanyaku tidak sabar.
"Iya, jadi kuli bangunan, Dek. Tapi, kamu tidak malu kan kalau Mas Bagus jadi kuli?" Mas Bagus tersenyum canggung.
Bagaimana ya mengatakannya. Aku tahu sulit baginya untuk menerima kenyataan itu. Dia bersekolah tinggi dan sebelumnya memiliki pekerjaan yang bagus. Tapi, sekarang dia malah seperti ini.
"Kenapa Alisa harus malu, Mas? Semua itu sudah diatur sama yang di atas. Alhamdulillah kalau Mas Bagus dapat pekerjaan. Alisa bersyukur. Setidaknya kita tidak perlu khawatir untuk keperluan dapur. Kan Mas Bagus sudah punya pekerjaan. Alisa sudah senang!" Aku melebarkan senyuman. Tentu saja sebagai istri aku harus bersyukur.
"Gajinya kalau bersih Rp. 80.000, Dek. Makan bawa sendiri saja dari rumah. Berangkatnya jam 7. Katanya sih pulangnya jam 3 sore, Dek. Kecil ya, Dek? Terus kalau kita butuh yang mendesak gitu, pasti nggak akan cukup." Syukurlah Mas Bagus sudah berpikir sampai di sana.
Apa pelajaran kemarin sudah membuatnya membuka mata? Tentang keluarganya yang selama ini memanfaatkan kejayaannya. Benar. Inilah alasanku bersedia menikah dengannya. Dia selalu berpikir jauh. Entah sejak kapan dia menjadi berubah.
"Kan Alisa masih bisa bantu cari uang, Mas. Uang Alisa buat tabungan mendesak kita. Kalau Mas Bagus nggak dapat pekerjaan lagi, kita punya tabungan!" Aku berbisik. Bisikanku itu akhirnya membuatnya tersenyum.
"Tapi tetap saja, Dek. Buat belanja saja uang seperti air lo. Seminggu dapat Rp. 480.000, Dek." Mas Bagus masih pesimis juga.
"Kan selama ini Mas Bagus tahu bagaimana kemampuan Alisa mengatur uang di perusahaan. Yakin deh, nanti kita menabung sedikit-sedikit. Pasti bisa!" Aku menyemangatinya.
"Iya, Alisa. Ngomong-ngomong aku lapar. Kamu tadi masak apa?" Mas Bagus memegangi perutnya. Sepertinya dia sangat lapar setelah seharian bekerja.
"Cuci tangan dan kaki dulu, Mas. Alisa siapkan makan siangnya." Aku memintanya untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Setelah itu aku berjalan masuk ke dalam kamar. Rupanya lemari kecil dari kayu itu cukup berguna untuk menyimpan makanan. Saat aku memasuki dapur, Mas Bagus sudah berada di meja makan.
"Dek, kok tumis bunga pepaya? Kan kamu masih punya uang, Dek. Jangan pelit dong. Kan suamimu ini sudah bekerja." Mas Bagus menggerutu sambil memajukan bibirnya. Suamiku itu sudah membuka tudung saji.
"Ini menu utamanya, Mas. Rendang daging! Nanti kalau disimpan di sini, diambil Mbak Tika lagi. Mas Bagus nggak kebagian dong nanti!" Aku pun mengambil nasi di piring untuknya. Senyuman Mas Bagus kembali terlihat.
"Hebat, kamu, Alisa! Seharusnya begitu. Supaya lain kali dia bisa menghormati orang lain. Aduh, sudah lama nggak makan daging!" Mas Bagus pun bersemangat kembali. Ia berdoa dan meminum air terlebih dahulu sebelum makan.
"Anu, Mas. Tadi ibumu datang ke sini. Dia bawa uang Alisa Rp. 100.000. Tadinya mau minta uang Rp. 200.000. Tapi, Alisa pas pegang uang Rp. 100.000." Aku mengatakannya dengan hati-hati. Takutnya suamiku itu marah padaku.
"Bukannya uang pensiunan almarhum bapak masih banyak ya, Alisa? Ibu tidak punya utang. Kita kalau makan berdua juga masih cukup satu minggu Rp. 400.000. Kenapa ibu malah habis banyak padahal sendiri?"
__ADS_1
Ya mana aku tahu. Itu bahkan sudah berlangsung selama 1 tahun. Entahlah. Tapi bagusnya adalah Mas Bagus mulai paham tentang kebutuhan dapur. Aku penasaran. Apa dia akan mencari tahu tentang ibunya?