
"Oh, ya udah. hati-hati ya mas Tejo" ujar Naya sembari tersenyum
"Ngeh mba" ujar Tejo Sembari pergi menyusul Hans yang berjalan duluan
"Mas, lagi berantem ya sama mba Naya?" ujar Tejo tergesa-gesa mengejar langkah kaki Hans yang cepat
"Nggak kok kang. Ada apa?" ujar Hans
"Kok cuek banget sama mba Naya. bahkan mas gak ngasih tau mba Naya kalo mau pergi ke kota" ujar Tejo
"Oh, Gak biasa untuk ngasih tau orang rumah setiap pergi kang" ujar Hans
"Lah, kok gitu mas. jangan dong! kita tuh harus ngabarin orang rumah setiap pergi. biar nanti kalo ada apa-apa orang rumah tau keberadaan kita" ujar Tejo sembari naik ke atas kereta kuda dan membantu Hans untuk ikut naik.
"Jangan-jangan mas nya lagi berantem sama mba Naya. udah gapapa mas, bertengkar dalam rumah tangga itu sudah biasa kok. asal jangan pisah setiap ada masalah aja" Tambah Tejo Sembari merangkul Hans
"Iya mas, orang tua saya aja suka berantem tiap hari. kenapa ya? apa seribet itu rumah tangga" ujar Hans yang membuat Tejo merasa aneh
"Gimana sih mas? Kok masih nanya. kan mas nya sendiri udah tau pahit nya rumah tangga" ujar Tejo yang membuat Hans tersadar
"Oh iya lupa!! gue sama Naya dikira laki bini disini" ujar Hans di dalam hati.
beberapa jam kemudian, Hans dan Tejo sampai ke kota dan menginap di rumah paman Tejo untuk menunggu pagi. setelah menjelang siang. mereka berbelanja kebutuhan dan hendak pulang ke desa. Namun, sebelum pulang, Hans masuk ke ATM dan mengecek kartu nya "Tumben gak diblokir papa" ujar Hans sembari mengambil semua uang nya
Disisi lain, Ibu murni datang ke rumah Naya untuk menemani nya selama Hans pergi ke kota. sedangkan Rere jatuh sakit karena terus memikirkan Hans
"Minum obatnya re" ujar bara sembari memberikan obat dan Rere pun meminumnya
"Hans gimana ya? apa dia udah makan?" ujar Rere sembari bersandar di dada Bara. Tak lama, handphone bara berdering dari salah satu bank
"Pak, Hari ini rekening atas nama Hans Al bara mengambil uang sebesar 100 juta pada jam 10 pagi di ATM kecil pinggir jalan Sudirman" ujar Lila sembari memegang mutasi.
Mendengar hal tersebut, Bara mengutus beberapa polisi dan bergegas ke lokasi tempat Hans singgah. Sesampainya disana, Bara tak menemukan Hans karena ia telah pergi ke tempat lain.
__ADS_1
"Pak, ini duplikat struk belanja Hans. dia membeli beberapa perlengkapan bayi di toko itu" ujar Salah satu anak buah bara
"Bawa saya ke toko itu!" ujar bara dengan dingin menghampiri toko tersebut dan melihat rekaman CCTV saat Hans berbelanja
"Perlengkapan bayi! untuk apa?" ujar bara sembari melihat struk belanja tersebut
"Apanya perlengkapan bayi!" ujar Melissa yang tiba-tiba datang ke toko tersebut bersama Rere
"Siapa yang beli perlengkapan bayi ini bar?" ujar Rere sembari mengambil struk yang ada di tangan bara
"Ya ampun!! jantung ku" ujar Melissa yang syok melihat rekaman CCTV tersebut. Bara dan Rere pun bergegas membawa melissa ke rumah sakit
Disisi lain, Hans telah selesai belanja dan bersiap untuk pulang ke desa nya dengan menyewa mobil pick up sampai ke perbatasan kota
"Mas, kok kita kesini sih?" ujar Tejo yang Bingung karena hans minta berhenti di jalan yang berlawanan dengan desa
"Kita ke desa naik motor aja" ujar Hans sembari bersiap untuk pulang bersama Tejo mengunakan motor yang baru ia beli
"Tapi ini kan bukan jalan ke desa kita mas! kita kudu muter balik untuk pulang" ujar Tejo Sembari naik ke atas motor
"Dengan begini papa gak akan nemuin gue sama Naya!!" ujar Hans di dalam hati
Sesampainya nya di desa. Ibu murni dibuat kebingungan oleh Hans dan Tejo yang tak membawa barang apa pun
"Loh Tejo, ibu kan nyuruh belanja? kok gak bawa apa-apa?" ujar ibu murni menghampiri mereka yang baru saja tiba
"Ada buk, kami titip Barangnya di mang Budi. kami naik motor biar lebih cepat sampainya sekaligus nyoba motor baru nya mas Hans hehe" ujar Tejo Sembari melepaskan helm
"oh begitu, ibu pikir kamu cuma keluyuran! ya udah masuk dulu. tadi mba naya sudah buatin kopi" ujar ibu murni sembari membantu Hans membawa beberapa barang yang ia bawa pakai motor
"Wah, Mba Naya beruntung banget punya suami yang pengertian seperti mas Hans ya" Ujar ibu murni sembari meletakkan beberapa pakaian bayi di sebelah kasur
"Nanti kamu cari suami yang baik seperti mas Hans ya ndok" tambah ibu Marni kepada putrinya yang duduk di sebelah Naya
__ADS_1
"ibu bisa aja. saya jadi malu" ujar Hans sembari tertawa kecil
"Loh, benar loh mas. Jarang ada laki-laki yang baik begini sama istri" ujar ibu murni sembari menuangkan kopi di cangkir Hans
Tak lama, Kereta kuda yang membawa banyak barang sampai di depan rumah nya. hans dan yang lain pun bergegas membawa barang belanjaannya ke rumah
"buk, ini untuk ibu sebagai tanda terimakasih" ujar Hans sembari memberikan bingkisan kepada ibu Murni
"gak usah mas, saya ikhlas membantu mas nya" ujar ibu murni menolak dengan sopan
"Nggak buk! saya belikan ini khusus untuk ibu. Tolong di terima ya buk" ujar Hans sembari tersenyum
"Saya jadi gak enak hati loh mas" ujar ibu murni dengan terpaksa menerima bingkisan tersebut
"Biasa aja buk. ini gak seberapa dengan jasa ibu selama ini" ujar Hans sembari tersenyum
"Ya sudah kalau begitu ini ibu terima ya. Terimakasih loh mas" ujar ibu murni tersenyum bahagia. Tak lama, ibu murni berserta anak nya pun pulang ke rumah nya
"Hans, Lo dapat uang sebanyak ini dari mana?" ujar Naya yang Bingung melihat barang yang dibeli Hans sangat lah banyak
"Gue gak tau bayi nya laki-laki atau perempuan. jadi gue beliin barang serba warna biru. gapapakan?" ujar Hans mengalihkan pembicaraan sembari menyusun belanjanya
"Lo gak mau pulang aja Hans? orang tua Lo pasti khawatir" ujar Naya yang melihat Hans menyusun barang
"Ini bukan pertama kalinya gue kabur dari rumah. seharusnya mereka udah terbiasa" ujar Hans sembari memasang kelambu untuk Naya
"Lo udah makan belum? " Tambah Hans hendak ke dapur untuk mengambilkan Naya makanan
"Hans, Jangan mengalihkan pembicaraan" ujar Naya sembari menahan Hans untuk pergi
"Gue gak mau pulang. Lo dalam bahaya! Gue Kenal betul bokap gue! Dia gak akan tinggal diam setelah Lo tau siapa dia" ujar Hans memelankan suaranya
"Hans, gak usah peduliin gue. Gue juga pasrah kalo mau dihabisi bokap Lo. lagi pula gue gak punya tujuan hidup lagi!" ujar Naya yang membuat Hans marah
__ADS_1
"Kalo Lo gak mau mikirin hidup Lo sendiri! setidaknya Lo mikirin bayi itu. Lo yang buat dia ada di dunia ini. jadi Lo harus hidup untuk dia" ujar Hans dengan kesal