
"Kalo Lo gak mau mikirin hidup Lo sendiri! setidaknya Lo mikirin bayi itu. Lo yang buat dia ada di dunia ini. jadi Lo harus hidup untuk dia" ujar Hans dengan kesal.
Mendengar hal tersebut, Naya hanya terdiam dan Hans pun menyelimuti tubuhnya dengan jaket
"Lo tidur aja! Jangan mikir yang aneh-aneh lagi" ujar Hans sembari pergi ke tempat permandian
Disisi lain, Bara frustasi mencari keberadaan Hans yang entah kemana. ia mengerahkan semua anak buah nya dan melibatkan kepolisian. Namun, Hans belum juga ditemukan. ditambah lagi dengan kesehatan Rere yang terganggu akibat hilangnya Hans
"Re, kamu gak minum obat mu lagi?" ujar bara sembari duduk di ranjang dan membelai lembut rambut Rere
"Biarin bar, siapa tau Hans mau pulang setelah tau kalo kondisi mamanya yang buruk" ujar Rere sembari tidur membelakangi bara
"Jangan gitu lah!! Nanti dia pasti pulang tanpa kamu menyiksa diri" ujar bara sembari memegang pundak Rere. Namun, Rere tetap tak ingin meminum obatnya
Melihat hal tersebut, Bara segera memperintahkan anak buahnya untuk menyusuri setiap desa dengan menyamar sebagai penjual.
disisi lain, pemerintah setempat mengumpulkan uang bulanan yang di ambil dari penduduk dengan jumlah yang rumayan tinggi atas dalih sumbangan desa. Hans yang sadar bahwa itu adalah penipuan pun segera menolak untuk membayar dan mempengaruhi para penduduk agar tak patuh dengan perintahnya
"Hei bocah!! kau baru disini jadi jangan berlagak sok pintar ya! cepat bayar karena ini wajib" ujar Ucok dengan angkuh
"kalo saya gak mau gimana?" ujar Hans dengan dingin dan tetap santai yang membuat para penduduk sekitar khawatir
"Sudah mas, bayar aja! takutnya nanti kamu di apa-apakan oleh mereka" ujar pak Rusdi selaku ketua desa
__ADS_1
"Kita gak salah jadi kenapa harus takut! lagi pula yang namanya sumbangan semampu dan seikhlasnya bukan dipatok harus berapa perorang nya" ujar Hans dengan tenang yang membuat Ucok kesal
"Hey, ini perintah dari pemimpin! Lagi pula sumbangan ini untuk perkembangan desa ini" ujar Ucok dengan tegas "Oh ya!! Terus kenapa desa ini belum berkembang sampai sekarang? jalannya masih tetap tanah, air nya harus mencari ke sungai yang rumayan jauh dari sini, listrik pun gak ada. terus untuk apa mereka bayar mahal setiap bulannya" ujar Hans yang membuat Ucok terdiam
"Kalo benar ini dari pemerintah! mana suratnya?" tambah Hans yang membuat Ucok bingung harus menjawab apa
"Saya lihat kau mengunakan pakaian,jam dan tas yang branded. Jangan bilang sumbangan yang dikumpulkan selama ini untuk membeli barang itu" tambah Hans yang membuat para warga mulai mencurigai Ucok.
"Hei, jangan sembarang ya!! Kamu tidak tau siapa saya. jadi, lebih baik kau diam dan bayar uang pajak nya" ujar Ucok yang berusaha menenangkan diri nya
"Tadi kau bilang uang sumbangan sekarang pajak!! mana yang benar?" ujar Hans yang membuat para warga semangkin Panik karena Ucok mulai memanas
"Sama saja!! cepat bayar karena itu kewajiban" ujar Ucok menggertak Hans
"Ya, saya tau kalo pajak itu kewajiban! tapi mana ada pajak yang mengharuskan bayar sejuta sebulan. itu pun nominal nya sama per rumah" ujar Hans dengan tegas
"Gak bisa pak!! Kalian sudah ditipu bertahun-tahun dengan orang ini" ujar Hans yang berusaha membuka pola pikir warga sekitar
"Kamu ya!! mau saya lapor ke polisi! saya ini bupati loh" ujar Ucok dengan angkuh sembari melipatkan tangannya di dada
"pftt, mana ada sejarah bupati menagih pajak dari rumah ke rumah!! setahu saya, Yang menagih uang pajak itu perangkat desa dan nominal bayar nya pun tergantung dari aset yang mereka miliki. lah, warga sini makan aja susah kok bisa bayar pajak satu jutaan perbulan!! sedangkan desa ini masih belum berkembang! mau berobat aja harus ke kota. jadi kemana uang yang anda kumpulkan selama ini bapak!!" ujar Hans sembari tertawa kecil yang membuat Ucok panik. ia pun segera pergi meninggalkan desa Karna para penduduk mulai berani menentangnya
"Waduh, mas Hans ini hebat ya! di desa ini gak ada yang berani menentang dia dan terpaksa harus menuruti keinginan nya Karna takut" ujar pak Rusdi sembari menepuk pundak Hans dengan bangga
__ADS_1
"Kalo dilawan sendiri mungkin takut pak. coba aja kalo seluruh penduduk yang protes. dia gak akan mungkin berani" ujar Hans sembari tersenyum
"Tapi bener loh mas, Mas Hans ini hebat sekali. keberanian nya patut di acungi jempol" ujar pak toni sembari bertepuk tangan
Naya yang mendengar keributan Hans dengan Ucok pun hanya tersenyum saat melihat Hans di sanjung penduduk desa "Ternyata Hans gak seburuk yang gue kira" ujar Naya sembari kembali ke rumahnya
tak lama, Hans pun masuk kerumahnya dengan buru-buru menutup pintu yang membuat Naya kebingungan
"Kenapa Hans?" ujar Naya menghampiri Hans yang tengah mengatur nafasnya
"Gila!! Hampir mampus gua" ujar Hans sembari mengelap keringatnya dengan gemetar.
"Bentar, ini minum dulu!! biar kamu tenang" ujar Naya sembari memberikan minum dan mengelus pundaknya agar Hans bisa tenang
"Sudah?" ujar Naya mengambil gelas kosong dari tangan Hans dan Hans pun mengangguk "Terus kenapa Lo sampe gemetaran gitu?" ujar Naya sembari menarik tangan Hans agar duduk
"Gue takut banget pas ngelawan pak Ucok tadi!! untung aja gak dipukulin sama preman nya" ujar Hans sembari Mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Mendengar hal tersebut, Naya tertawa terbahak-bahak yang membuat Hans diam kebingungan "Jadi tadi Lo takut Hans? Kirain beneran berani Lo" ujar Naya sembari tertawa
"Ya kali gue berani sama preman yang ada dibelakang nya!! badannya berotot gitu sekali tonjok pindah tulang gue" ujar Hans sembari menuangkan air di gelas nya
"Sok-sokan sih Lo!! Lagian ngapain sih ngelawan orang tua. tinggal bayar aja kelar masalahnya" ujar Naya sembari berjalan ke dapur untuk membawakan Hans makan siang
__ADS_1
"Sayang duit nay! Kita harus nge hemat buat Lo lahiran nanti. lagi pula kita gak tinggal disini selamanya. tunggu keadaan membaik gue bawa Lo ke tempat yang aman dan layak" ujar Hans yang membuat Naya terdiam dan menahan air mata terharu nya "gue gak nyangka! Ternyata Hans sebaik ini sama gue" ujar Naya didalam hati sembari mengipas matanya agar tak menangis
singkat cerita, malam pun tiba. Hans hendak membantu Naya yang tengah memasak. Namun, Naya menolak dan menyuruh nya untuk diam "Gue mau bantu loh" ujar Hans sembari memegang panci "Nggak! terakhir kali Lo masak air panci nya gosong" ujar Naya sembari merebut panci di tangan Hans