KESALAHAN DAN RAHASIANYA

KESALAHAN DAN RAHASIANYA
Kembar


__ADS_3

singkat cerita, malam pun tiba. Hans hendak membantu Naya yang tengah memasak. Namun, Naya menolak dan menyuruh nya untuk diam "Gue mau bantu loh" ujar Hans sembari memegang panci "Nggak! terakhir kali Lo masak air panci nya gosong" ujar Naya sembari merebut panci di tangan Hans


"Iya kan gue lupa hehe" ujar Hans sembari tertawa kecil dan membantu Naya mencuci sayur.


"Hans.." ujar Naya dengan Ragu


"Kenapa sayang" ujar Hans sembari tertawa kecil


"Gue tabok Lo ye" ujar Naya sembari melemparkan tomat ke Hans


"Yaelah bercanda doang" ujar Hans sembari menangkap tomat yang di lemparkan oleh Naya


"Gue serius Hans!" ujar Naya dengan tegas


"aahh, jangan Serius banget dong. nanti cepet tua" ujar Hans sembari tertawa yang membuat Naya semangkin kesal "Hanss!!" ujar Naya mencubit pinggang Hans"Aw, iya kenapa? galak bener" ujar Hans sembari memegang pinggang nya


"Kita balik aja ya!!" ujar Naya dengan serius yang membuat Hans diam sejenak "Hans, kalo sampai penduduk tau bahwa kita bukan pasutri. gimana reaksi mereka? lagi pula cepat atau lambat bokap lo pasti nemuin kita disini. siapa tau dengan kita datang sendiri ke hadapannya. dia akan berubah pikiran. gue yakin bokap Lo pasti tambah marah kalo dia yang nemuin kita" tambah Naya sembari memegang lengan Hans


"nggak bisa nay!! Bokap gue gak segampang itu melepaskan mangsa nya. Kalo mereka nemuin kita disini. ya udah, kita lari ke tempat lain. masalah penduduk yang akan mikir apa setelah tau kalo kita bukan pasutri biarin aja. Lagian kita gak tidur satu ranjang" ujar Hans sembari memegang kedua pundak Nay


"Hans, Lo kenapa sih susah banget di omongin!! masalahnya mau sampai kapan kayak gini" ujar nay sembari melepaskan tangan Hans dari pundaknya


"Sampai waktunya aman!! Nay, gue cuma gak mau Lo kenapa-kenapa. Lo gak tau se berbahaya apa bokap gue" ujar Hans dengan lembut sembari memegang kedua pipi Naya

__ADS_1


Tak lama, Naya merasakan sakit di perutnya. Hans segera memapahnya untuk duduk agar sakit nya hilang "Kenapa nay? Lo gapapa kan" ujar Hans sembari mengipasi Naya mengunakan tutup toples


Tak lama, Ketuban Naya pecah yang membuat Naya panik "ih jorok!! Lo kalo mau pipis di kamar mandi dong" ujar Hans sembari menutupi hidung nya menjauh dari Naya "Gue gak pipis Hans!! ini ketubannya pecah! cepat panggil Mbah inem" ujar Naya sembari menahan sakitnya. mendengar hal tersebut, Hans bergegas ke rumah Mbah inem untuk meminta bantuan


Singkat cerita, Naya tengah mengatur nafasnya nya bersiap untuk melahirkan anaknya atas bantuan Mbah inem. disisi lain, Ibu-ibu di desa tersebut berkumpul untuk menyambut bayi Naya yang akan lahir "mas, kok diem disitu? cepet temenin mba Naya" ujar ibu sum sembari menghampiri Hans yang termenung di pojokan


"Emang harus buk?" ujar Hans yang membuat ibu sum tertawa terbahak-bahak "Iya, ibu paham. ini pertama kali kamu menjadi ayah. mangkanya kamu gak tau" ujar ibu sum sembari menarik tangan Hans dan membawanya mendekati Naya


"kehadiran suami menemani istri lahiran itu sangat berarti untuk para istri mas Hans" ujar ibu sum sembari meletakkan tangan Naya ke atas tangan Hans lalu meninggalkan nya


Naya memegang tangan Hans dengan erat. sedangkan Hans hanya diam mematung melihat Naya meneteskan air matanya saat berjuang melawan kematian demi sang buah hati.


Tak lama, suara tangisan bayi bergema di rumah Naya yang membuat ibu-ibu bersorak senang. sedangkan Hans masih diam mematung


"Loh mas Hans, kok diam aja?" ujar ibu sum sembari menepak pundak Hans


"Woy, malu-malu in aja" ujar Nay sembari mencubit Hans agar diam. tak lama, Naya merasakan sakit di perutnya dan bersiap untuk melahirkan anak kembarnya yang terakhir


"Lagi?.." ujar Hans dengan Heran. sedangkan Mbah inem pun menganggukkan kepalanya "Kan kembar mas" ujar Mbah inem sembari bersiap menyambut bayi Naya


Hans duduk disebelah Naya sembari memegangi tangannya. ia diam mematung saat melihat Naya berusaha mengeluarkan bayinya untuk ke dua kali


"Gila, ni orang kuat banget" ujar Hans dengan Heran

__ADS_1


Singkat cerita. Naya berhasil melahirkan kedua bayi nya dengan selamat. Sedangkan Hans masih terdiam mematung melihat kedua bayi Naya


"Kok diam aja mas! gak mau nyoba Gendong?" ujar Mbah inem sembari mengangkat bayi Naya dari tempat tidur


"Emang bisa?" ujar Hans dengan aneh melihat bayi Naya menggeliat di tangan Mbah inem


"Bisa kok mas, Nih" ujar Mbah inem sembari menyerahkan bayi Naya ke Hans.


Hans terpaku melihat tubuh mungil bayi yang di Gendong nya. Disisi lain, bara mulai menemukan petunjuk keberadaan Hans. ia pun segera pergi ke desa tersebut dengan menyamar agar putra nya tak kabur


Sesampainya di desa tersebut, ia terkejut melihat keramaian yang ada di rumah tempat Hans Tinggal "Pak, disana ada apa ya?" ujar bara sembari mendekati pintu rumah


"Oh, itu ada yang lahiran pak. bapak ini siapa ya? kok gak pernah lihat" ujar pak Rusdi


"Iya pak, saya perantauan. kira-kira disini ada yang jual pekarangan rumah gak ya?" ujar bara sembari melirik ke dalam rumah Hans


"Oh, ada pak! yuk, mari saya antar" ujar pak Rusdi sembari memberikan jalan ke bara


Singkat cerita, semua orang pun telah pulang ke rumah masing-masing. Hans segera pergi ke sungai untuk mencuci darah di pakaian Naya.


sedangkan bara yang melihat putra nya di sungai pun segera mendekati nya


"Nyuci dek?" ujar bara sembari melirik ke ember Hans "iya pak, bapak siapa ya?" ujar Hans yang tak mengenali bara yang sedang mengunakan topeng kulit "Saya penduduk baru disini dek. kebetulan baru sampai hari ini" ujar bara sembari tersenyum paksa

__ADS_1


"Oh, gitu. saya pulang ya pak! udah selesai soalnya" ujar Hans sembari pergi meninggalkan bara yang tengah duduk di batu sungai


Melihat putra nya berjalan memasuki rumah. ia mengepalkan tangannya dengan erat "Sabar bara, Tunggu waktu yang tepat!! setelah itu, habis kau Hans" ujar bara sembari melemparkan batu ke sungai dengan kesal


__ADS_2