KESALAHAN DAN RAHASIANYA

KESALAHAN DAN RAHASIANYA
Bukti


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Naya berlarian dengan panik mencari ruangan tempat bayi nya di rawat. Tanpa ia sadari bahwa raya telah mengikutinya secara diam-diam


"mah, gimana keadaan aura sama Andara?" ujar Naya sembari memegang kedua pundak ibu nya dengan panik. "Tenang nak. mereka baik-baik aja kok! cuma.." ujar ibu Arum sembari menggenggam tangan Naya. "Cuma apa mah?" ujar Naya semangkin Panik melihat bayi nya di impuls. "Dia harus dirawat disini selama beberapa hari" ujar ibu Arum sembari menyentuh kaca dan melihat kedua cucu nya yang sedang tertidur. sedangkan Naya hanya bisa menangis karena khawatir. "Serius se khawatir itu?" ujar raya yang mengintip Naya dari kejauhan. "maaf, lagi Cari apa mba?" ujar suster sembari menepuk pundak Raya. "Ah, nggak kok sus" ujar raya sembari pergi keluar untuk meninggalkan rumah sakit tersebut.


"Nggak, kalo kayak gini gimana gue bisa buktiin kalo bayi-bayi itu anak nya" ujar raya sembari mengigit jarinya untuk berfikir.


"Gue harus masuk lagi dan cari bukti" tambah raya Sembari melangkah masuk ke rumah sakit tersebut. "Dia kemana? kok ngilang" ujar raya Sembari menghampiri tempat Naya dan ibu nya berdiri. "Nyari siapa Ray?" ujar Naya yang muncul dari belakang raya yang membuat nya terkejut. "Ngagetin aja sih!!" ujar raya yang salah tingkah karena telah tertangkap basah sedang mengintai Naya. "Udah, gak usah pura-pura! Lo pasti ngikutin gue kan" sela Naya dengan serius sembari menunjuk wajah Raya. Raya yang tak terima pun segera menepis tangan Naya dengan penuh amarah "Gak sopan main nunjuk-nunjuk aja!! gue disini lagi nyari ruangan om gue! sok tau banget" ujar raya sembari melipatkan kedua tangannya di dada agar terlihat tenang. Mendengar hal tersebut, Naya tersenyum kecil karena tak percaya akan pernyataan raya yang tak masuk akal menurut nya "Disini ruangan khusus bayi!! ngapain Lo nyari om Lo disini?" ujar Naya sembari menarik nafas nya agar tetap tenang. sedangkan Raya hanya terdiam dan berusaha mencari alasan lainnya. "Om gue punya anak bayi dan di rawat disini!! Berisik banget sih" ujar raya lalu pergi meninggalkan Naya karena merasa terpojok


Disisi lain, Hans tengelam dalam lamunannya sembari memetik gitar nya dan terbayang wajah Naya dan momen saat masih berada di desa terisolasi Tersebut.


Tak lama, Alice masuk ke kamar nya sembari berteriak yang membuat Hans tersadar dari lamunannya

__ADS_1


"Kenapa sih!! berisik tau" ujar Hans sembari melirik ke arah Alice yang sedang berlarian menghampiri nya. "Gawat Hans!! tadi gue ditelpon Naya kalo aura sama Andara masuk rumah sakit" ujar Alice sembari menarik tangan Hans dan membawa nya keluar kamar.


Mendengar kabar tersebut, Hans tergesa-gesa pergi bersama Alice ke rumah sakit. Sedangkan, Rere dan stella hanya diam saat melihat anak-anaknya berlarian menuruni tangga.


"Hei, mau kemana?" ujar Stella berteriak sembari berdiri dan hendak menghampirinya. Namun, Rere menahan tangan Stella dan membiarkan mereka untuk pergi


Singkat cerita, Hans dan Alice telah sampai ke rumah sakit tersebut dan bergegas mencari ruangan Aura berserta Andara "Itu Hans sama Alice kok kayak panik gitu? pada mau kemana?" ujar Maya yang baru saja keluar dari ruangan kakek nya. Melihat Hans dan Alice bergegas ke salah satu ruangan bayi. ia pun diam-diam mengikuti nya dari belakang.


"Mereka kenapa?" ujar Hans sembari menyentuh pipi aura yang tengah tertidur pulas


"Gue gak tau!! Pas gue balik dari sekolah. mereka udah panas gini" ujar Naya tersedu-sedu sembari menutupi wajahnya mengunakan telapak tangan

__ADS_1


"Sabar nay, Bayi Lo pasti baik-baik aja kok! percaya deh" ujar Alice sembari merangkul dan mengelus pundak Naya untuk menenangkannya.


Maya syok saat mendengar hal tersebut. ia buru-buru menutup pintu dan pergi menjauh dari ruangan tersebut. Saat ia hendak berbalik. langkah kaki nya terhenti melihat raya yang tengah berdiri di belakang nya. "Muka Lo keliatan nya panik gitu? ada apa?" ujar raya sembari berjalan menghampiri Maya yang tengah berdiri di depan pintu. Ia pun segera mengintip dan melihat Naya yang tengah menangis bersama Alice dan Hans


"gue mau balik ke ruangan kakek gue!! bye" ujar Maya dengan nada gemetar dan berlarian Pergi meninggalkan raya yang masih mengintip.


"Gimana gue bisa tenang!! Panas nya belum turun loh" ujar Naya sembari mengelap air matanya. "Positif thinking aja nay!! Mungkin bentar lagi panas nya turun" ujar Hans sembari menyelimuti Naya dengan jaket nya. "kalian gak akan ngerti!! kalian belum punya anak jadi gak akan tau apa yang gue rasakan saat ini" ujar Naya sembari menutup mulutnya mengunakan tangan dan berusaha untuk menahan air matanya.


"What!! jadi bener dong" ujar raya sembari menutup pintu dengan pelan. "Untung aja gue tarok kamera kecil di kancing gue" ujar Raya sembari tersenyum licik dan pergi meninggalkan ruangan tersebut


Disisi lain, Maya duduk di sebelah ranjang kakek nya sembari mengigit ujung jari nya dengan gelisah memikirkan perkataan yang ia dengar

__ADS_1


"Gak!! gak mungkin! Gue pasti salah dengar" ujar Maya sembari mengambil air mineral dan meminum nya agar melupakan hal tersebut


__ADS_2