
Singkat cerita, Mereka berempat pun lari mengelilingi lapangan di pantau oleh ibu Ami si guru killer. Sedangkan, Hans di bawa oleh orang tua nya kerumah karena pihak sekolah kembali mengeluarkan Hans dari sekolah nya
"Kamu gak berhenti-henti nya cari masalah" ujar bara meletakkan surat dari pihak sekolah ke atas meja
"Kamu mau jadi apa!! Sudah 5 kali kamu dikeluarkan dari sekolah! bisa gak 1 kali aja gak bikin papa pusing" ujar bara dengan nada keras
"Jawab!! Mau kamu apa?" Tambah bara sembari memukul meja hingga pecah yang membuat Hans terkejut
"Maaf pah" ujar Hans bergemetar melihat ayahnya murka
"Maaf!! Dari kemarin kamu bilang maaf tapi gak pernah berubah! Jangan karena kamu anak satu-satunya bisa bertindak sesuka hati" ujar bara mencekik leher Hans karena kesal
Hans hanya diam sembari memejamkan matanya karena tak berani menatap mata ayahnya yang tengah marah.
Bara yang kesal karena Hans hanya diam pun segera menamparnya dan memukulnya. Namun, Hans tetap diam dan tak membalas pukulan ayahnya
"Anak sialan! Gimana bisa Rere ngelahirin monster ini" ujar bara sembari melepaskan genggaman nya dari Hans
__ADS_1
Hans Yang mendengar hal tersebut, membuka matanya dan berlutut di kaki bara sembari menangis
"Pah, Tolong jangan kasih tau mama hal ini! Hans gak mau mama kepikiran terus sakit" ujar Hans tersedu memohon. Namun, bara menarik kaki nya dan melangkah menjauh
Tak lama, Rere kembali dari kantor setelah mendapatkan kabar tentang putranya. ia pun terkejut melihat serpihan beling yang berserakan
"Hans.. Muka kamu kenapa lebam gini?" ujar Rere sembari mengelap darah di bibir Hans yang pecah akibat pukulan dari bara
Melihat Hans yang hanya diam, Rere melirik bara dan menghampiri nya
"Kamu apain Hans? Gak kamu pukulin lagi kan" ujar Rere menarik tangan bara yang hanya diam melihat pemandangan kota
"Kamu gila!! Gak seharusnya kamu pukul dia kayak gitu bar" ujar Rere sembari mendorong tubuh bara
"Terus harus gimana? dia itu gak ngerti bahasa manusia. ngerti nya bahasa binatang mangkanya kalo di omongin gak pernah mau" ujar bara berteriak membentak Rere
"Stop..." ujar Hans berteriak sembari menutupi telinga nya. Bara pun segera pergi meninggalkan Hans dan Rere
__ADS_1
Rere yang kecewa dengan Hans pun segera pergi ke dapur sembari menangis tanpa suara menyiapkan makanan kesukaan putranya
"Mah... Maaf" ujar Hans menghampiri Rere sembari menundukkan kepalanya
Rere mendengar perkataan Hans pun segera menghapus air matanya dan terus melanjutkan aktivitas nya dengan diam
"Mah, mama boleh mukul Hans tapi jangan diam terus" ujar Hans sembari mendekati Rere. Namun, Rere hanya diam tak menghiraukan perkataan putranya
"Mah..." ujar Hans semangkin mendekatkan dirinya. Tanpa sadar Rere menampar pipi Hans dengan keras lalu pergi ke kamar nya.
Hans hanya terdiam lalu menuangkan susu di gelas dan menyiapkan Pie untuk ibunya
"Mah..." ujar Hans mengetuk pintu kamar Rere.
mendengar tak ada suara. Hans hanya meletakkan susu dan kue nya di depan pintu lalu pergi keluar
Singkat cerita, Malam pun tiba. namun, Hans tak kunjung kembali yang membuat Rere cemas dan merasa bersalah karena telah menampar putranya.
__ADS_1
Disisi lain, Naya pergi ke toko kelontong untuk membeli beberapa bahan baku yang diperintahkan ibu nya. namun, ia melihat Hans tengah berdiri di atas jembatan sembari menatap bulan yang tengah bersinar terang.
Tanpa berkata-kata, Naya menarik baju Hans agar tak lompat ke sungai yang tengah pasang. Hans pun terjatuh di atas tubuh Naya