Ketika Hamzah Bertemu Alifa

Ketika Hamzah Bertemu Alifa
Minta Gendong


__ADS_3

Setelah lima menit berjalan kaki, samar-samar terdengar suara deru air. Bola mata Alifa membola mendengar suara itu.


Perasaan tak sabar menghinggapi dirinya. Lantas dia pun semakin mempercepat langkah. 


Lalu Hamzah yang berada di depannya mendadak berhenti. Dia menoleh ke belakang dan menggeser tubuhnya, memberikan ruang untuk Alifa jalan terlebih dahulu.


Bola mata Alifa langsung berbinar. Dia terpaku di tempatnya berdiri menyaksikan air terjun yang berada di tengah hutan.


Tepat saat itu, sinar matahari pagi menyorot ke arah air terjun sehingga tercipta pelangi yang melengkung indah di sisi air terjun.


Alifa berjalan cepat tak sabar mendekati air terjun itu. Dia lepas sandalnya dan mencelupkan kaki ke dalam air yang dingin nan jernih itu.


Sementara Hamzah hanya menepi, duduk di sebuah batu besar sambil menyaksikan Alifa yang sedang bermain air.


Waktu terasa begitu singkat bagi Alifa. Tak terasa matahari sudah mulai naik ke atas serta teriknya pun semakin lama semakin panas.


Alifa yang merasa sudah lelah akhirnya ikut menepi dan duduk di samping Hamzah. Alifa memperhatikan bibir Hamzah yang tak hentinya mengucap dzikir.


"Sok alim banget sih," cemooh Alifa.


Hamzah tak langsung naik pitam. Justru dia menoleh pada Alifa sambil melengkungkan senyum.


"Aku dzikir bukannya sok alim, Fa. Tapi karena semua makhluk di bumi ini juga dzikir kepada Alloh."


Alifa mendengus keras serta tertawa tak percaya. "Masa iya sih? Memang kamu tahu dari mana?"


"Aku tahu dari Al Quran surat An Nur. Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan."


Kemudian Hamzah menunjuk pepohonan cemara yang menjulang tinggi di depan mereka berdua. "Pohon-pohon itu, semua hewan, dan bintang-bintang pun bertasbih pada Allah. Hanya kita saja yang tidak mengerti cara mereka bertasbih."


Alifa terkekeh garing sambil memalingkan muka setelah mendengar penjelasan Hamzah. Mendadak Alifa menjadi salah tingkah dan tidak tahu harus berkata apa.


Baik Alifa dan Hamzah saling diam untuk beberapa saat yang lama. Mereka saling memalingkan muka.


Namun, tiba-tiba Hamzah bertanya, "Fa, kapan kamu mau pulang ke rumah Oma?"


"Secepatnya," jawab Alifa singkat tanpa memandang ke arah Hamzah.


"Kalau begitu hari ini?" Hamzah bertanya kembali.


"Ya, itu lebih lebih bagus. Soalnya aku juga nggak betah tinggal di kampung kamu ini."


Perkataan Alifa tidak sepenuhnya jujur. Sebenarnya betah-betah saja tinggal di desa yang udaranya bersih pemandangannya masih asri.

__ADS_1


Tapi satu hal yang membuat Alifa tidak suka tinggal di rumah Hamzah adalah tempat tidur mereka yang terlalu sempit untuk berdua.


Apalagi dari yang pernah Alifa dengar, tinggal bersama mertua serasa tinggal di neraka. Setidaknya begitulah kata-kata teman Alifa yang sudah menikah.


"Oke, kalau begitu, kita pulang sekarang. Lalu kita kemasi barang-barang."


Alifa dan Hamzah beranjak pergi dari air terjun itu. Setelah beberapa langkah, Alifa menoleh ke belakang memandang air terjun yang indah itu untuk terakhir kali.


Mereka kembali saling diam selama berjalan kaki menuju rumah. Begitu sampai, Alifa mencium aroma masakan yang sangat menggugah selera.


Dari baunya saja, sudah berhasil membuat perut Alifa berbunyi, apalagi jika dia melihat dan menyantap makanan itu secara langsung.


Seolah terhipnotis, kaki Alifa berjalan menuju ke arah ruang makan. Di sana sudah ada ibu Hamzah yang sedang menata makanan ke meja makan.


"Nak Alifa, Ayo, sarapan! Ajak Hamzah juga ya," kata ibu Hamzah begitu wanita itu melihat Alifa berdiri tak jauh dari meja makan.


Alifa menjadi gugup dan tidak enak hati. Seharusnya dia yang sebagai menantu yang mempersiapkan makanan, bukan ibu mertuanya.


Tapi mau menyiapkan makanan pun bagaimana? Alifa juga tidak tahu cara memasak.


Ah, untung hari ini aku bakal pulang. Kata Alifa dalam hati.


*


*


*


Alifa beberapa kali mengeluh akan panas dan tidak nyamannya kursi di dalam bus itu. Akan tetapi Hamzah sama sekali tidak menanggapi keluh kesah Alifa.


Seakan telinga Hamzah tersumbat oleh sesuatu.


Alifa berdecak dan menyandarkan kepalanya ke jemdela kaca. Dia melempar pandangan ke pemandangan luar jendela supaya membuang rasa jenuh.


"Kapan sampai sih ini? Lama banget."


Tiba-tiba Hamzah mendekatkan badannya pada Alifa. Lalu satu jari telunjuknya dia tempelkan pada bibir sang istri.


"Bibir ini lagi nganggur nggak?" tanya Hamzah tiba-tiba. "Kalau lagi nganggur, mending kita dzikir yuk."


"Ogah, ah," kata Alifa sambil menampik tangan Hamzah dari bibirnya. "Dan lagi, jangan pegang-pegang! Kebiasaan deh. Sering mengambil kesempatan di saat kesempitan."


Hamzah tersenyum sekilas. Lalu dia menegakkan lagi punggungnya. 

__ADS_1


Dia tak mengganggu Alifa lagi selama sisa perjalanan. Dia memilih untuk mengambil sebuah buku tebal dari dalam tas ranselnya. Lalu menunduk membaca buku itu dengan sangat serius.


Alifa melirik sekilas pada Hamzah menggunakan ekor matanya. Bibirnya masih dia manyunkan karena masih kesal dengan sikap Hamzah yang selalu mendekatinya secara mendadak.


Kemudian, entah dorongan dari mana. Alifa mulai merasa penasaran dengan saran dari Hamzah.


Perlahan bibir Alifa bergerak mengucapkan kalimat tasbih. Terus Alifa mengucapkan kalimat itu sampai  kelopak matanya terasa berat dan dia pun tertidur pulas.


Tak lama, bus yang mereka naiki berhenti dan Hamzah mendongak dari bukunyang dia baca. Rupanya bus sudah sampai di terminal.


Saatnya Hamzah dan Alifa berganti transportasi lain untuk sampai ke rumah Haida. Maka Hamzah pun melirik pada Alifa yang kepalanya tergolek bersandar pada kaca jendela.


"Alifa," panggil Hamzah sambil menepuk lembut pipi Alifa. "Alifa, kita sudah sampai terminal."


"Hah? Sudah sampai?" gumam Alifa yang sangat susah untuk membuka mata.


Kelopak mata Alifa terasa dilem sehingga susah untuk terbuka. Lalu tanpa sadar, Alifa berbicara, "Gendong aku dong."


"Apa? Tapi, Alifa." Sejenak Hamzah mengedarkan pandangan ke sekitar. Raut penuh keraguan tersirat di wajahnya yang tampan lalu dia berkata, "Tapi ini tempat umum."


"Pokoknya gendong!" tuntut Alifa dengan kedua tangan terjulur ke depan tetapi kedua matanya terpejam rapat.


"Alifa, jangan bercanda deh. Kan kamu yang bilang supaya aku nggak pegang-pegang kamu."


"Ck, banyak protes banget sih. Tinggal gendong apa susahnya," Alifa memprotes dengan menaikan nada bicaranya tapi matanya masih merem.


"Oke, ini kamu yang minta ya."


Beberapa saat kemudian, Alifa merasa tubuhnya seperti dibawa terbang. 


Bukannya terbangun Alifa justru semakin nyenyak dalam gendongan Hamzah. Kendati dia digendong seperti karung beras.


Otomatis pemandangan Hamzah yang menggendong Alifa menjadi sorot perhatian banyak orang. Hamzah berusaha mengabaikan tatapan semua orang dan berniat mempercepat langkahnya menuju pintu bus.


Ketika Hamzah hendak turun dari pintu bus, ada seorang yang bertanya, "Itu kenapa, Mas?"


"Enggak kenapa-kenapa, Pak. Istri saya cuma lagi kecapean."


"Istri?" Gumam Alifa ketika dia dapat mendengar percakapan Hamzah dengan seseorang secara samar-samar.


Detik berikutnya, Alifa membuka mata dan membulatkan mata secara sempurna. Alifa baru sadar akan apa yang dia perbuat.


Dan dia pun menjerit kaget saat tubuhnya benar-benar digendong oleh Hamzah.

__ADS_1


__ADS_2