
Sepanjang hari itu, benak Alifa tidak bisa fokus. Dia terus saja teringat akan sikap Nindi yang menurutnya, terlalu perhatian pada Hamzah.
Suara dosen yang sedang berbicara di depan serasa seperti suara dengungan lebah. Alifa tidak bisa mencerna semua penjelasan dari dosennya.
Bahkan dia memandang kosong pada lembaran kertas yang ada di atas meja. Lalu Alifa melempar pandangan ke luar jendela dimana pikirannya semakin gelisah kala menyadari jika saat ini, mungkin saja, Hamzah sedang berduaan bersama Nindi.
Alifa tidak mau terus dikuasai oleh pikiran yang tidak tenang itu. Sehingga begitu mata kuliahnya selesai, Alifa berencana untuk pergi ke kantor perusahaan Steve, ayahnya.
Dengan memesan taksi, Alifa sudah sampai di depan gedung pencakar langit milik sang ayah dalam waktu dua puluh menit.
Satpam yang ada di pintu utama sudah sangat mengenal Alifa, sehingga dia diizinkan masuk tanpa banyak persyaratan. Begitu pula petugas resepsionis yang sudah lama bekerja di perusahaan Steve corp.
Alifa naik ke atas lift dengan perasaan yang tidak sabar. Sudah lama dia tidak mengunjungi kantor ayahnya. Karena memang sang ayah selalu melarangnya datang.
Tapi kali ini Alifa ingin membuat kejutan sekaligus dia ingin meminta izin agar Hamzah bekerja di perusahaan sang ayah.
Ting.
Pintu lift terbuka, Alifa berjalan menuju ruang kerja ayahnya yang berada di ujung lorong. Tampak pintu ruang kerja Steve sedikit terbuka dan samar-samar Alifa juga mendengar suara percakapan antara dua orang.
"Kenapa kamu meragukan Alifa, Honey? Dia kan anak kamu. Iya kan?" tanya seorang wanita pada Steve.
Begitu mendengar kata 'Honey', membuat Alifa sontak menghentikan langkahnya. Dia mengurungkan niat untuk memasuki ruang kerja sang ayah.
Alifa terdiam di balik pintu. Rasa penasaran membuatnya sedikit melirik ke dalam ruangan. Tampak oleh Alifa seorang wanita berambut ikal dan juga memakai baju minim sedang duduk di meja kerja Steve.
Sedangkan Steve duduk dengan mata yang fokus pada layar komputer. Meski sikap yang ditunjukan pada wanita itu sangatlah dingin, tapi wanita itu terus saja bersikap manja di depan ayah Alifa.
Menjadikan dada Alifa sesak saat itu. Ingin rasanya Alifa melompat masuk dan menjambak rambut wanita itu.
Namun, akal Alifa lebih menguasai. Dia memilih diam dan menunggu jawaban dari Steve.
__ADS_1
"Ibunya Alifa itu wanita binal. Dia selalu senang jika ada pria lain yang menggodanya, itulah yang membuat aku sedikit ragu Alifa dan Yusuf itu adalah anak kandungku atau bukan" jawab Steve dengan raut datar tanpa ekspresi.
Detik itu juga, Alifa seperti dihantam batu besar di atas kepalanya. Dia tak akan menyangka jika selama ini Steve meragukan dirinya dan juga Yusuf sebagai anak kandung atau bukan.
Alifa membekap mulutnya yang melongo saking tak percaya. Tak terasa kedua manik matanya telah berkaca-kaca dan seperti ada yang meremukan jantung Alifa dari dalam.
"Tapi kenapa kamu nggak melakukan tes DNA saja, supaya kamu nggak hidup dalam keragu-raguan?" wanita berambut ikal itu bertanya kembali.
Steve menghela nafas. Jemarinya berhenti sejenak dari mengetik dokumen. Lalu Steve memijat pangkal hidungnya, pertanda dia sedang mengalami frustasi.
"Sejak dulu aku memang ingin melakukan tes DNA, tapi Nyonya Haida, neneknya Alifa, nggak pernah mengizinkan aku melakukan hal tersebut," jelas Steve masih sambil memijat pangkal hidungnya.
Sementara wanita yang sedang duduk di meja kini berpindah ke belakang kursi Steve. Dia menaruh kedua tangannya di pundak Steve lalu memijat dengan perlahan.
"Kamu pasti stres dengan masalah ini," gumam wanita itu tanpa menghentikan pijatannya. "Tapi kamu yakin kalau ibunya Alifa itu benar-benar selingkuh darimu?"
"Aku melihatnya sendiri, Meg," kata Steve penuh keyakinan. "Aku memergoki dia sedang berduaan dengan pria lain."
Sontak teriakan Alifa itu menjadikan Steve dan wanitanya terlonjak kaget lalu menoleh ke arah pintu. Dimana di sana sudah ada Alifa yang berdiri dengan kedua mata berair dan tangan yang mengepal kuat.
Seketika Steve melonjak berdiri dari duduknya. Sedngkan wanita yang bersama Steve membulatkan mata lebar saking terkejutnya akan kehadiran Alifa.
"Alifa, kenapa kamu ada di sini?" Steve bertanya sambil berjalan mendekati Alifa.
Bukannya menjawab pertanyaan Steve, Alifa justru menggelengkan kepala bersamaan dengan jatuhnya satu bulir bening dari pelupuk mata.
"Nggak mungkin. Mama nggak mungkin melakukan hal seperti itu, Pa," kata Alifa terisak.
Steve mendengus sambil memalingkan muka. Dia berkacak pinggang dan terdiam sesaat.
Kentara sekali jika Steve sedang menimbang akan sikap yang harus dia ambil.
__ADS_1
Dan detik itu juga Steve memutuskan untuk berkata jujur pada Alifa.
"Kamu sudah dewasa, Alifa. Sudah saatnya kamu tahu alasan Papa dan Mama bercerai," kata Steve memandang penuh keseriusan pada Alifa.
"Dan itulah mengapa Papa menjaga jarak sama aku dan Yusuf?" terka Alifa.
Steve menganggukan kepala. "Ya, Alifa."
"Nggak mungkin," seru Alifa mengelengkan kepala kuat-kuat.
Seakan Alifa tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Isak tangis Alifa semakin menjadi. Akan tetapi tak ada sikap Steve ingin membesarkan hati Alifa.
"Aku tahu kamu pasti nggak bisa menerima ini. Tapi inilah kenyataannya, Alifa. Mama kamu selingkuh dariku sejak awal kami menikah."
Seketika Alifa memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit. Air mata tak kunjung berhenti dan mengalir dari ujung matanya.
Kemudian Alifa memutar badan dan langsung berlari kencang menuju lift. Dengan tak sabar, Alifa menekan tombol lift agar turun ke lantai satu.
Di dalam lift pun, Alifa terus menangis. Tak peduli pada tatapan semua mata yang memabdangnya penuh keheranan.
Setelah pintu lift terbuka, Alifa kembali berlari menerobos keramaian orang yang berlalu lalang. Dia menghentikan taksi begitu sampai di tepi jalan.
Sedangkan masih di ruang kerja, Steve termenung akan tindakan yang sudah dia ambil. Selama ini dia memang selalu tak peduli akan nasib Alifa dan juga Yusuf.
Tapi entah mengapa, kali ini hati kecil Steve merasa sakit kala melihat Alifa menangis di depannya.
"Honey, apa yang kamu lakukan sudah benar kok. Nggak perlu merasa bersalah," kata Megan seraya merangkul Steve.
Wanita itu tersenyum manja dan berharap akan mendapatkan respon hangat dari Steve. Namun, kenyataannya Steve justru menepis tangan Megan dari pundaknya.
"Jangan ganggu aku, Meg! Aku stres sekali hari ini."
__ADS_1