
Sore itu Alifa menghabiskan waktu dengan rebahan di atas tempat tidur. Berselancar ria di media sosial, sesekali tertawa jika melihat konten yang menarik.
Dia semakin memarapatkan selimut kala merasakan hembusan angin yang begitu dingin masuk ke dalam kamarnya.
Suara rintik hujan di luar tak membuat Alifa terganggu. Dia tetap pada posisi nyamannya sampai suara teriakan Oma Haida memanggil nama Alifa.
Alifa berdecak kesal, memutar bola matanya malas, dan terpaksa dia pun turun dari ranjang. Memakai sandal bulunya dan kemudian berjalan dengan terpaksa menghampiri Haida.
"Alifa, kenapa kamu nggak ngaji, Sayang? Hamzah sama Yusuf sudah ada di bawah tuh."
"Aku lagi M, Oma," jawab Alifa singkat.
"M? Maksudnya menstruasi?" Haida bertanya memastikan.
"Bukan. Maksudnya M itu malas," kata Alifa dengan gaya santainya dan memutar badan hendak kembali ke dalam kamar.
"Astagfirullahaladzim, Alifa. Kamu sampai kapan nggak bisa ngaji. Nanti rugi lho, Sayang."
Alifa menghela nafas jengah. Dia bosan dinasehati terus oleh neneknya. Maka Alifa pun tak banyak bicara, dia lanjutkan saja langkah kakinya menuju kamar.
Sayangnya, tangan Haida lebih dulu mencekal lengan Alifa sehingga dia tak bisa bergerak.
"Alifa, please. Oma tahu kamu marah sama Oma tapi ini juga untuk kebaikan kamu."
"Oma, ngajinya nanti saja ya? Alifa lagi capek banget nih. Toh, Hamzahnya juga nggak akan kemana-mana. Kan dia tinggal di rumah ini," Alifa berusaha berbicara dengan nada yang tenang.
Haida melepas cengkraman tangan Alifa secara perlahan. Wanita lanjut usia itu perlahan tersenyum namun bukan senyum yang biasanya.
__ADS_1
"Oke, Oma kasih waktu kamu lima belas menit lagi untuk bersantai. Tapi habis itu kamu ngaji. Titik."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Haida pun pergi berlalu meninggalkan Alifa. Supaya dia tidak mendengar suara protes dari sang cucu.
Alifa berdecak kesal. Namun begitu, dia tak pynya pilihan lain. Karena Alifa yakin, Haida pasti akan terus memaksanya mengaji sore ini juga.
Yang menjadi rencana Alifa sekarang adalah membujuk Hamzah agar sesi mengaji tidak terlalu lama.
Maka setelah lima belas menit yang dijanjikan telah lewat, Alifa keluar kamarnya dengan pakaian gamis merah muda dan juga jilbab dengan warna yang senada.
Alifa berjalan menghampiri Hamzah dan Yusuf yang berada di ruang baca. Dikarenakan hujan, membuat sesi mengaji berpindah tempat.
"Ehem," Alifa berdeham ketika dirinya sudah berada di dekat Hamzah.
Suara deheman Alifa itu pun membuat Hamzah refleks menoleh. Pria itu terpana dalam beberapa detik melihat penampilan Alifa yang berbeda dari biasanya.
Tak perlu memakai riasan, Alifa memang sudah cantik natural. Dan hal itu diakui Hamzah dalam hati.
"Ehem,"
Kali ini bukan Alifa yang berdeham. Melainkan Yusuf yang menyadari kakak iparnya, Hamzah, sedang memperhatikan penampilan Alifa.
Sontak suara deheman Yusuf yang sangat keras membuat Hamzah kembali sadar pada dunia nyata. Meskipun Alifa adalah istri sahnya, Hamzah sadar masih ada jarak yang masih memisahkan antara mereka berdua.
"Hari ngajinya jangan lama-lama! Aku capek!" ketus Alifa sambil membuka mushaf Al Qurannya.
"Iya, terserah kamu saja, Fa," kata Hamzah sambil memalingkan muka berusaha menahan diri untuk tidak memandang wajah Alifa. "Meski ngajinya sedikit yang penting konsisten setiap hari."
__ADS_1
Proses mengaji pun dimulai. Kala itu, Yusuf yang lebih dulu selesai dan tinggal giliran Alifa.
Namun, sebelum Yusuf pergi, remaja laki-laki itu bertanya, "Mas, perempuan yang tadi ngobrol sama Mas Hamzah waktu di sekolah, siapa sih? Kok sepertinya akrab banget sama Mas Hamzah?"
Alifa yang kala itu membuka mulut hendak membaca Al Quran sontak langsung terdiam. Dia segera menoleh pada Yusuf dengan tatapan yang tajam.
Kemudian Alifa menoleh pada Hamzah untuk menunggu jawaban pria itu. Rasa penasaran menyelimuti benak Alifa.
Dia yang menyangka Hamzah seorang pria alim, ternyata dengan mudahnya akrab dengan perempuan yang bukan mahrom.
Hamzah tersenyum sebelum memberi jawaban. "Tadi itu Nindi, teman Mas ketika di kampung."
"Ooh, begitu," Yusuf menganggukan kepala. Lalu mengajukan pertanyaan lagi. "Aku dengar katanya Mas ditawarin kerja ya?"
"Woy, ini mau ngaji apa ngobrol sih?" Alifa menyela dengan setengah berteriak membuat Hamzah dan Yusuf terlonjak kaget dan kompak menoleh ke arahnya.
Alifa berkacak pinggang sebal karena keberadaannya seperti tidak dianggap. Dadanya naik turun selaras dengan detak jantungnya yang meningkat.
Entah apa yang dirasakan Alifa. Dia merasa tidak senang Hamzah menceritakan perempuan lain di hadapannya. Sekalipun perempuan itu hanya sebatas teman.
Bibir Hamzah melengkungkan senyum pada Alifa agar wanita itu bisa tenang dan tidak salah paham.
"Kita bakal kok, Fa. Sorry ya? Yuk mulai."
Alifa mendengus sesaat sebelum membaca ta'awudz sebagai awal membaca ayat suci Al Quran.
Selama membaca ayat-ayat suci Al Quran itu, benak Alifa tidak bisa fokus. Dia masih saja terpikirkan oleh ucapan Hamzah tentang wanita bernama Nindi.
__ADS_1
Dan tiba-tiba saja terbesit niat di dalam hati Alifa untuk menyelidiki informasi tentang Nindi itu.