
'Nanti sore nggak perlu jemput aku. Aku bisa pulang sendiri.'
Hamzah menatap pesan dari Alifa selama beberapa saat. Di dalam hatinya dia merasa cemas, terlebih saat dia melempar pandangan ke luar jendela.
Awan hitam telah menyelimuti langit. Berita sore mengabarkan jika akan ada hujan badai yang diprediksi akan terjadi malam ini.
Dua hal itu membuat Hamzah gelisah. Dia takut terjadi sesuatu pada Alifa. Namun begitu, Hamzah juga ragu untuk menjemput Alifa.
Hati Hamzah bimbang. Dia dilanda kegelisahan yang amat sangat. Hamzah menarik nafas panjang dan akhirnya dia putuskan untuk menjemput Alifa.
Hamzah tak peduli jika nanti istrinya itu akan marah besar. Maka Hamzah pun menaiki sepeda motor milik keluarga Haida yang berada di bagasi.
Sepanjang perjalanan, Hamzah mempercepat laju kendaraan. Hingga sampai lah dia di depan pintu gerbang kampus.
Tepat saat itu juga, para mahasiswa berhamburan keluar dari gerbang. Hamzah menjulurkan lehernya agar dapat menemukan Alifa di antara kerumunan orang.
Ketika pandangan Hamzah menemukan Alifa sedang berjalan bersama seorang teman wanitanya, Hamzah berencana untuk berjalan mendekati Alifa.
Namun, saat itu juga Kevin lebih dulu menghampiri Alifa. Membuat Hamzah berhenti di tempat. Lagi-lagi ada sesuatu di dalam hati Hamzah yang menjadikannya tidak senang.
"Fa, pulang sama aku yuk," ajak Kevin.
"Enggak deh, Kev. Aku pulang sendiri aja."
"Tapi ini mau hujan lho. Yang ada nanti kamu kehujanan."
"Iya, Fa. Ikut aja. Dari pada nanti kamu sakit lho," ucap Caca mendukung Kevin.
Alifa terdiam sejenak. Dia sudah terlanjur mengirim pesan pada Hamzah untuk tidak menjemputnya. Alifa tidak tahu bahwasanya Hamzah ada tak jauh darinya.
Melihat Alifa yang hanya diam, membuat Kevin tidak sabar. Lantas dia pun menarik tangan Alifa tanpa permisi.
"Ayo, Fa. Jangan banyak mikir! Nanti keburu hujan lho."
Alifa yang merasa lelah dan ingin segera sampai rumah pun tak mengelak ajakan Kevin. Dia diam saja kala Kevin membukakan pintu mobil untuknya.
"Ayo, masuk!" kata Kevin pada Alifa yang ada sedikit keraguan di wajahnya. "Jangan takut! Nggak akan ngapa-apain kamu kok."
Alifa menghela nafas. Entah kenapa hatinya sedikit bimbang menerima bantuan dari Kevin.
Alifa merasa ada seseorang yang sedang mengintainya dan membuat Alifa merasa tidak tenang.
"Sorry, Kev. Aku pulang naik ojol saja deh," ucap Alifa pada akhirnya.
Kening Kevin mengerut kebingungan. Lantas dia pun bertanya. "Lho kok ojol sih? Kenapa nggak naik mobil aku aja?"
__ADS_1
"Enggak deh. Maaf ya?" kata Alifa sebelum akhirnya dia memutar badan dan berlari menjauhi Kevin.
Alifa berlari tak memperdulikan teriak Kevin yang terus memabggil namanya. Lalu dia mencari tempat yang tenang untuk bisa memesan taksi online.
Tapi saat itu juga, Alifa mendapati seseorang berdiri di depannya. Alifa yang sedang menunduk menatap layar ponsel pun akhirnya berdecak jengkel.
Dia mengira orang yang sekarang berdiri di depannya pastilah Kevin.
Pria itu memang nggak pantang menyerah rupanya, pikir Alifa dalam hati.
Lantas Alifa pun mendongak dari ponselnya. Dan berkata, "Mau apa lagi sih, Kev?"
Namun, mendadak bola mata Alifa membelalak sempurna kala mendapati orang yang berada di depannya adalah Hamzah, suaminya sendiri.
Lalu dahi Alifa mengerut heran. Dia menatap sekilas Hamzah dari atas hingga ke bawah.
"Kamu mau kemari? Bukankah sudah aku bilang, supaya nggak perlu jemput aku?"
"Aku khawatir sama kamu, Fa," Hamzah memandang ke arah langit sejenak. Lalu kembali menatap Alifa. "Kita pulang yuk. Mau hujan gedhe nih."
"Enggak," tolak Alifa tegas. "Aku sudah pesan taksi online. Kasihan kalau dibatalin."
Hamzah menarik nafas panjang, mencoba untuk bersabar dengan sikap dingin Alifa. "Oke, kalau itu mau kamu. Aku nggak alan maksa. Aku cuma khawatir saja kamu pulang kehujanan."
"Ck. Nggak sok perhatian deh. Toh aku bukan anak kecil lagi yang perlu dikhawatirkan. Aku bisa jaga diri aku sendiri."
Untung saja, taksi online pesanan Alifa datang menghampiri sehingga Alifa bisa pergi menjauh dari Hamzah.
Hamzah sendiri langsung menaiki motornya dan membuntuti mobil taksi yang dipesan Alifa. Dia terus mengekor meski dia bisa menyalip kendaraan itu.
Satu hal yang urama bagi Hamzah saat ini adalah keselamatan Alifa. Dia ingin Alifa selamat sampai tujuan.
Di tengah perjalanan, hutan lebat mengguyur kota dengan sangat deras. Alifa tampak tenang di kursi belakang taksi yang dia pesan.
Akan tetapi, tiba-tiba saja, tanpa ada alasan yang jelas, hati Alifa merasa bersalah. Lantas dia menoleh ke belakang untuk melihat keadaan Hamzah.
Pria itu masih berada beberapa meter di belakang mobil taksi yang ditumpangi Alifa. Perasaan bersalah singgah di hati Alifa, terlebih begitu melihat badan Hamzah yang basah kuyup menerjang hujan.
Alifa berdecak dan segera menampik perasaan aneh yang singgah di hatinya.
"Ck, ngapain aku harus khawatir. Siapa suruh jemput aku."
*
*
__ADS_1
*
Sampai di rumah besar, hujan tidak kunjung berhenti. Malah semakin deras ditambah kilatan guntur menambahkan suasana mencekam.
Alifa pulang ke rumah dengan badan yang kering. Berbeda jauh dengan Hamzah yang basah kuyup.
Meskipun suaminya pulang dalam keadaan basah kuyup, tak membuat hati Alifa iba. Dia tetap pada sikap cueknya dan dengan langkah yang santai dia melintasi ruangan tengah.
Di sana sudah ada Haida yang duduk di sofa panjang sambil membaca sebuah majalah. Haida mendongak dari majalah yang dia baca ketika Hamzah dan Alifa datang.
"Hamzah? Kok kamu basah kuyup? Nanti kamu bisa sakit lho."
"Aku nggak apa-apa, Oma. Ini juga mau ganti baju kok. Aku permisi ke kamar dulu ya, Oma," ucap Hamzah yang kemudian langsung berjalan menuju kamar.
Setelah itu, Haida menoleh pada Alifa yang juga hendak pergi ke kamarnya. "Alifa, tolong kamu siapkan baju tebal buat Hamzah ya? Terus jangan lupa kasih dia minuman hangat."
Alifa menghentikan langkah kakinya. Dia berdecak kesal seraya menghela nafas. Lalu Alifa memutar badan agar bisa berhadapan dengan Haida.
"Oma, kan di rumah ini ada pelayan. Kenapa harus suruh aku sih?" keluh Alifa dengan alis yang menaut dan tangan yang dilipat di depan dada.
"Alifa, kamu itu istrinya Hamzah. Kalau suami kamu basah kuyup seperti tadi, kamu tunjukan sikap perhatian kamu dong. Surga istri itu ada ditelapak kaki suami, Fa," Haida menasehati Alifa dengan penuh kesabaran.
Sekali lagi, Alifa menarik nafas panjang. "Oma, lagian siapa suruh Hamzah hujan-hujanan. Alifa sudah suruh dia nggak perlu jemput Alifa. Tapi dia malah ngeyel."
"Alifa!" teriak Haida melototkan mata saking marahnya pada cucu perempuan yang satu itu.
Nafas Haida menderu cepat, kedua tangan Haida mengepal kuat, aura yang dipancarkan wanita lansia itu pun sangat mencekam.
Menjadikan Alifa sedikit ketakutan. Namun, Alifa masih bisa menutupi rasa takut itu dengan bersikap tenang.
Kemudian, agar tak ada lagi cekcok anatara dirinya dan Haida, Alifa memilih mengalah.
"Iya, iya, Oma. Aku bakal lakuin apa yang Oma mau. Puas kan, Oma?"
Detik berikutnya, Alifa meneruskan langkah kakinya menapaki anak tangga menuju kamarnya. Dia sengaja berjalan dengan menghentak-hentakan kaki untuk melampiaskan rasa marahnya.
Begitu sampai di kamar, Alifa tak menemukan Hamzah. Namun, terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi.
Sehingga Alifa menyimpulkan jika Hamzah sedang mandi. Alifa membanting tasnya ke atas kasur. Lalu dia berjalan ke arah lemari untuk mengambilkan baju hangat untuk Hamzah.
Alifa menarik dengan sembarang baju hangat yang ada di tumpukan lemari. Begitu pula dengan celana panjangnya.
Tepat saat itu juga, Hamzah keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Alifa buru-buru memalingkan muka saat tak sengaja pandangannya menangkap Hamzah yang setengah telanjang.
Kemudian Alifa menyodorkan baju tanpa menatap langsung pada Hamzah.
__ADS_1
"Nih, baju kamu," kata Alifa singkat. "Kamu pakai bajunya, sementara aku keluar mau ambilkan kamu minuman hangat."
"Nggak perlu," jawab Hamzah singkat. "Kelihatannya kamu lelah. Mending kamu istirahat saja. Kamu itu istri aku, bukan pelayanku."