
"Alifa, kamu percaya sama Mama, kan?" Maria mengulang pertanyaannya untuk mendapatkan kepastian.
Namun, Alifa tetap tak bergeming. Dia hanya diam seribu bahasa dan menatap lurus pada sang mama.
Kemudian Alifa melepaskan tangan yang bertautan dengan Matria. Untuk saat ini Alifa tidak tahu harus percaya pada siapa. Baik mama dan papanya sama-sama saling menyalahkan.
Alifa menarik nafas panjang. Dia memutuskan untuk menemui kembali Steve.
Maka Alifa dan Hamzah pun bergegas pergi dari Cafe tanpa berbasa-basi dengan Maria. Namun, begitu sampai di kantor, Steve sedang melakukan rapat penting yang tidak bisa diundur.
Alifa menghela nafas kecewa. Maka dari itu dia menitipkan pesan pada ayahnya bahwa dia ingin melakukan tes DNA.
Alifa lakukan agar menghilangkan semua keraguan di dalam dirinya maupun di dalam hati Steve.
"Fa, setelah ini kita mau kemana?" Hamzah bertanya sambil menyetir mobil.
Sesekali Hamzah melirik pada Alifa yang duduk di sampingnya sambil melamun. Alifa melempar pandangan ke luar jendela memandang pepohonan tepi jalan yang tampak bergerak-gerak.
"Aku juga nggak tahu, Za. Kalau pulang juga, mau ngapain di rumah ya?" Gumam Alifa dengan dahi mengerut bingung.
Tiba-tiba Alifa membulatkan mata dan menoleh ke arah Hamzah seraya merekahkan senyum di bibir.
"Za, bagaimana kalau kita nonton film?"
Hamzah berpikir sejenak. Lalu dia pun mengangguk setuju. Dia mengalihkan kemudi menuju arah bioskop.
Setibanya di sana, Alifa langsung memilihkan film yang akan mereka tonton.
__ADS_1
Sedangkan Hamzah ditugaskan oleh Alifa untuk membeli pop corn. Sehingga dia tidak tahu menahu film apa yang dipilih Alifa.
Setelah memesan satu pop corn dan satu minuman, bahu Hamzah langsung ditarik oleh Alifa untuk masuk ke dalam teater.
Mereka duduk di kursi paling belakang. Lalu Hamzah menyerahkan pop corn beserta minuman untuk Alifa.
"Kita mau nonton film apa, Fa?"
Alifa tersenyum nakal sambil berkata, "Ada deh."
Hamzah mencium bau-bau mencurigakan dari Alifa. Namun, dia tidak dapat menebak apa yang sedang direncanakan oleh istrinya itu.
Sehingga Hamzah pun menonton saja film yang sedang diputar. Pada awalnya, Hamzah biasa saja dengan film action dengan banyak adegan baku hantam dan tembak-tembakan.
Namun begitu memasuki pertengahan film, Hamzah tertegun ketika melihat adegan dewasa. Sebagai lelaki normal, Hamzah mulai merasa gelisah.
"Astaghfirullah," gumam Hamzah.
Dia menoleh pada Alifa yang sedang menutup mulut sedang menahan untuk tidak tertawa.
Alifa terkekeh sambil memegangi perutnya yang terasa kram karena berusaha menahan tawa. Dia memang sengaja memilih film panas untuk menguji Hamzah.
Alifa sangat puas melihat ekspresi tidak nyaman di wajah Hamzah. Namun, tak berselang lama Alifa menghentikan tawanya begitu menyadari jika Hamzah sedang marah besar.
Alifa mengetahui Hamzah sedang marah karena dia melihat pipi Hamzah yang memerah dan juga deru nafasnya yang menggebu.
"Za, kamu marah ya?" Alifa bertanya dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
Alifa semakin tidak enak hati pada Hamzah karena pria itu pergi begitu saja tanpa memberi jawaban. Alifa termangu di tempat duduknya seraya menatap punggung Hamzah yang menjauh.
Lantas Alifa pun berjalan mengekori Hamzah ikut keluar dari teater bioskop. Alifa mempercepat langkahnya agar dapat menangkap tangan Hamzah.
"Za, kamu marah sama aku?" tanya Alifa menatap lekat wajah Hamzah yang kini tak semerah tadi.
Sekarang wajah Hamzah sudah agak tenang. Lalu dia pun menatap Alifa dengan ekspresi datar.
Alifa dapat melihat dengan jelas jika bibir Hamzah tersunggih senyum. Meski tampak seperti dipaksakan.
"Aku nggak marah kok," sahut Hamzah datar.
"Tapi muka kamu kok kaya begitu," Alifa memberengutkan bibirnya saat matanya menyidik raut muka Hamzah. "Oke deh, sebagai tanda minta maaf, kamu boleh pilih film favorit kamu."
Seketika Hamzah menoleh cepat menatap Alifa. Sebuah seringai terbit di bibir pria itu. Menjadikan Alifa merasakan hawa yang tidak menyenangkan.
*
*
*
"Kamu serius bawa aku ke sini?"
Alifa bertanya dengan mulut yang setengah menganga. Alih-alih menonton film, Hamzah membawa Alifa ke sebuah TPQ di sebuah perkampungan pinggir kota.
Alifa menyipitkan mata menyorot tatapan tajam pada Hamzah.
__ADS_1
"Maksud kamu apa bawa aku ke sini?"