Ketika Hamzah Bertemu Alifa

Ketika Hamzah Bertemu Alifa
Tidak Mungkin Terjadi


__ADS_3

"Alifa?" Hamzah bertanya ketika dia menemukan Alifa bersama seorang perempuan yang sepertinya adalah temannya.


Kedua wanita itu tertegun dan menoleh pada Hamzah yang sudah berdiri di belakang mereka. Lalu Hamzah pun menatap Alifa dan Caca secara bergantian dengan pandangan yang menuntun penjelasaan.


"Kalian sedang apa di sini? Ini kan bukan fakulatas kalian?"


Bukannya menjawab, Alifa justru menarik lengan Hamzah dan berkata, "Ikut aku yuk! Kita ketemu sama ayah aku."


"A-apa?" Hamzah benar-benar terkejut mendengar perkataan Alifa.


Bagaimana tidak? Hamzah merasa belum memberikan jawaban atas perjodohan dirinya dengan Alifa, tapi Alifa malah memintanya untuk menemui sang calon mertua.


"Tapi buat apa?"


"Ck, nggak usah banyak tanya. Kita berangkat sekarang," kata Alifa yang terus menarik lengan Hamzah.


Hingga sampai mereka berdua di depan kampus dan langsung menghentukan sebuah taksi yang kebetulan sedang lewat.


Hamzah masih tak habis pikir dengan Alifa. Meskipun begitu, dia tidak mau bertanya selama berada di dalam taksi.


Sedangkan Alifa mengepalkan kedua tangannya, saking tidak sabar menemui sang ayah. Ini merupakan kesempatan yang sangat ditunggu Alifa.


Setidaknya dia bisa bertemu dengan Steve meski hanya sebentar dan meski harus berbohong kalau dia akan menikah.


Tak sampai lima belas menit, taksi yang mereka tumpangi telah berhenti sebuah cafe. Alifa pun pangsung membayar dan turun dari taksi itu.


Bibir Alifa merekahkan senyuman ketika bola matanya menangkap mobil mewah yang dia yakini adalah mobil Steve sudah berada di halaman cafe.


Lantas Alifa pun berjalan ke dalam cafe dengan diekori oelh Hamzah. Mereka di sambut oleh seorang pelayan cafe yang memandu mereka untuk masuk ke dalam sebuah ruangan khusus.


Begitu pintu ruangan terbuka, Alifa langsung menghabur kepada ayahnya yang sudah duduk di sebuah sofa. Alifa merangkul leher Steve dan membenamkan kepalanya ke dada pria bertubuh kekar itu.


Namun, Hamzah meresa ada sesuatu yang aneh. Manakala Steve seperti terlihat biasa saja menyambut kehadiaran Alifa.


Di mata Hamzah, Steve pria yang gagah. Apalagi saat ini dia memakai setelan jas sebagaimana seorang eksekutif. Namun, wajah Steve benar-benar tidak terpancar kebahagiaan saat bertemu dengan putrinya sendiri.


"Ayah," sapa Alifa sambil melepas pelukannya.


"Hmm," Steve menjawab dengan bergumam. Lalu Steve menolah ke arah Hamzah dengan sorot mata yang dingin. "Ini calon suamimu?"


Hamzah membuka mulut hendak berkata, tetapi Alifa lebih dahulu menjawab, "Iya, Ayah. Namanya Hamzah."


Seketika Hamzah pun melirik Alifa dengan mata membelalak. Dia sangat terkejut ketika Alifa dengan enteng mengakui bahwa dirinya adalah calon suami Alifa.


Namun, lagi-lagi belum sempat Hamzah membuka suara, Alifa langsung melempar Steve dengan pertanyan basa-basi.


Terlihat jelas jika Alifa tidak mengizinkan Hamzah untuk berbicara. Maka Hamzah pun hanya mengamati pemandangan ayah dan anak yang berbincang.

__ADS_1


Walaupun perbincangan itu tampak kaku, sebab Steve selalu menjawab dengan perkataan singkat. 


"Jadi kapan kalian akan melangsungkan hari pernikahan?" Steve tiba-tiba bertanya sambil melirik ke arah Hamzah.


Di saat itu pun Alifa tempak tertegun. Namun, beberapa detik berikutnya dia tersenyum lebar.


"Oh itu… hm… rencanya beberapa bulan kedepan," jawab Alifa.


"Oh begitu," kata Steve mengangguk kecil. "Maaf, Alifa. Ayah sedang sibuk. Jadi ayah tidak bisa lama-lama."


"Lho? Kok sebentar banget sih," protes Alifa memandang jengkel pada Steve yang berdiri dan membenarkan jas kerjanya.


"Ayah sudah bilang, Alifa. Ayah sibuk," sahut Steve yang kemudian berjalan menuju pintu, di mana sudah ada ajudannyanyang sudah menunggu.


Alifa terheran hingga mulutnya setengah melongo. Memandang kepergian ayahnya pada pertamuan yang sangat singkat.


Padahal Alifa ingin berbincang lama dengan ayahnya. Namun, seperti ini lah yang terjadi setiap dia bertemu dengan Steve.


Hamzah yang duduk di hadapan Alifa merasakan kesedihan di raut wajah wanita itu. 


Di ruangan itu, tersisa Hamzah dan Alifa berdua dengan tiga minuman terdapat di meja diantara mereka tang sama sekali tidak tersentuh


"Alifa, kenapa kamu tadi bilang kalau aku calon suami kamu?"


Alifa menghela nafas sebelum dia berbicara. "Aku bohong sama ayahku. Dia itu ingin ketemu sama aku kalau aku bawa kamu. Jadi aku terpaksa bohong kalau kita mau menikah."


"Jadi hanya itu?"


Alifa menganggukkan kepala sebagai jawaban. Lalu dia bangkit berdiri hendak memutuskan untuk pergi juga.


Namun, sebelum itu, Alifa berkata, "Oh ya, aku juga mau bilang kalau aku nggak setuju dijodohin sama kamu. So, kamu jangan bermimpi bisa nikah sama aku. Karena itu adalah hal yang nggak mungkin terjadi."


*


*


*


Di sebuah halaman rumah mewah, dengan hamparan rumput hijau, tampak seorang wanita beruban sedang menyiram tanaman bunga mawar yang mulai merekah.


Wanita itu tersenyum melihat hasil dari kesabarannya merawat bunga-bunga itu. Lalu seorang pelayan berjalan menghampiri dengan langkah yang terburu-buru.


"Nyonya Haida," panggil sang pelayan wanita yang sudah berada di dekat majikannya. "Nyonya, ada telepon dari Tuan Steve."


Haida menoleh dan mematikan selang air. Lalu dia meraih ponselnya yang ada di genggaman sang pelayan.


"Halo, Steve."

__ADS_1


"Aku sudah bertemu dengan calon suaminya Alifa," kata Steve dengan nada bicara yang datar.


"Oh ya?" Haida tersenyum bahagia mendengar ungkapan Steve dan dia menyakini bahwa Steve memang masih pedulu dengan Alifa. "Jadi, menurut kamu bagaimana? Aku sudah mencari informasi lengkap tentang keluarga Hamzah dan mereka keluarga yang baik dan disegani di kampungnya."


Terdengar suara helaan nafas dari Steve. "Aku setuju-setuju saja. Lagi pula aku bisa apa kalau Alifa sudah memilih pria itu."


"Alifa memilih Hamzah?" Haida mengulang perkataan Steve karena merasa tak percaya. "Kamu yakin, Steve?"


"Ya."


"Berarti kita harus secepatnya menemui orang tua Hamzah. Kamu kapan ada waktu, Steve?"


Sekali lagi terdengar suara helaan nafas dari Steve. Tampaknya Steve sangat malas jika berurusan dengan pernikahan Alifa.


"Aku sedang sibuk. Aku serahkan saja urusan pernikahan Alifa pada ibunya Alifa dan padamu, Nyonya Haida."


Tut. Tut. Tut.


Detik itu juga Steve langsung menutup sambungan telepon secara sepihak. Membuat Haida merasa sedih serta kecewa pada mantan menantunya itu.


Namun begitu, ada setitik perasaan bahagia karena dia baru saja mendapatkan informasi dari Steve kalau Alifa setuju dijodohkan dengan Hamzah.


Sehingga langkah selanjutnya adalah berbicara kepada Maria, ibu kandung Alifa. 


Haida berjalan menepi dan duduk di gazebo yang menjadi tempat mengaji Alida dan Yusuf. Dia menekan nomor ponsel Maria dan menunggu telepon itu diangkat dari seberang.


"Assalamualaikum, Maria." kata Haida ketika Maria menerima telepon.


"Wa'alaikumsalam, Mama? Ada apa?"


"Maria, kamu kapan ada waktu? Mama mau bicara tentang pernikahan Alifa."


"Apa? Alifa nikah? Dia kan masih kecil. Kenapa Mama nikahin Alifa sih?" Maria memprotes dengan suara yang menggebu-gebu.


Namun, Haida tetap tenang dan tidak terpancing emosi. Justru dia membalas dengan suara yang lembut.


"Mama bertemu dengan seorang pemuda yang Mama yakin dia bisa membimbing Alifa. Jadi apa salahnya kalau dia menikah? Dari pada Alifa terjerumus ke dalam perbuatan zina?"


"Iya tapi kan, Alifa itu masih kecil, Ma?"


"Alifa sekarang berusia dua puluh tahun. Dia bukan akan kecil lagi."


"Ah, terserah Mama saja deh," seru Maria dari seberang sana. "Toh dari dulu Mam selalu ngatur-ngatur aku kalau sudah mengenai urusan Alifa."


Tut. Tut. Tut.


Haida menarik nafas panjang, mencoba untuk tetep bersabar dengan sikap anak perempuannya. 

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim," gumam Haida sambil mengelus dada. Tak terasa sebulir air mata melintas di pipi yang dipenuhi keriput itu.


__ADS_2