Ketika Hamzah Bertemu Alifa

Ketika Hamzah Bertemu Alifa
Percaya


__ADS_3

Alifa tampak termenung menatap bayangan dirinya di cermin untuk mengoreksi penampilannya sebelum dia berangkat menemui sang mama.


Alifa terus termenung hingga beberapa menit berlalu.sebenarnya bukan masalah penampilan yang dia khawatirkan, akan tetapi pertemuan dengan Maria yang membuat gelisah.


Alifa takut jika dia mendapati dirinya bukanlah anak dari Steve seperti yang diragukan oleh ayahnya.


Kemudian, Hamzah yang baru keluar kamar mandi melihat Alifa yang sedang melamun di depan cermin. Lantas Hamzah pun berjalan menghampiri.


Dia meletakan kedua tangannya di kedua bahu Alifa. Menjadikan Alifa tersentak kaget lalu menatap Hamzah melalui bayangan di cermin.


"Kamu kenapa?"


Alifa menggelengkan kepala dengan raut muka yang datar. Setelah itu, dia pun tersenyum meski senyumannya sangat jelas dipaksakan.


"Aku nggak apa-apa."


"Kita jadi ketemu sama mama kamu kan?" tanya Hamzah memastikan sekali lagi.


"Iya jadi dong," jawab Alifa seraya membetulkan blazer yang sedang dia genakan.


Lalu tiba-tiba pergerakan tangan Alifa terhenti kala dia teringat sesuatu. Sesuatu yang seharusnya dia tanyakan sejak dari tadi.


"Za, kalau kamu nggak menerima tawaran kerja dari temen kamu itu. Terus kamu mau kerja apa?"


Tampak sekilas Hamzah melengkungkan senyum tipis. "Aku mau buka bisnis, Fa."


"Bisnis apa?" Alifa bertanya semakin penasaran.


"Ada deh. Yuk, berangkat. Nanti terlambat lho."


Hamzah menarik tangan Alifa dengan lembut. Menuntun istrinya itu untuk berjalan ke luar kamar.


Saat mereka keluar dari kamar, Yusuf sudah berangkat ke sekolah. Sedangkan Haida sedang duduk santai di ruang tengah.


Hamzah dan Alifa memang sengaja keluar kamar agak siang dan tidak ikut sarapan bersama. Karena Hamzah sedang berpuasa sementara Alifa sedang malas makan. Sehingga dia hanya makan sepotong roti yang diantarkan pelayan ke kamar.


Setelah berpamitan, Alifa dan Hamzah pergi ke Cafe yang akan menjadi tempat bertemu dengan Maria. Lima belas menit menempuh perjalanan, mereka sudah tiba di Cafe.


Hamzha langsung turun dari mobil. Kemudian dia menoleh pada Alifa yang tampak lebih gelisah dari sebelumnya.

__ADS_1


Lantas Hamzah pun merangkul bahu Alifa dan mengusapnya perlahan.


"Are you okey?"


Alifa mengangguk perlahan. Dia bersama Hamzah berjalan memasuki Cafe.


Seorang pelayan menyambut Alifa dan Hamzah dengan sangat ramah dan menunjukan mereka sebuah ruangan yang sudah dipesan secara khusus untuk pertemuan dengan Maria.


Begitu pintu terbuka, baik Alifa dan Hamzah dapat melihat seorang wanita cantik memakai dress putih sedang duduk sendirian di dekat jendela.


Wanita yang telah memasuki kepala tiga itu tetep tak bergeming saat Alifa dan Hamzah masuk ke ruangan itu.


"Mama," sapa Alifa dengan suara yang pelan.


Wanita yang di sapa mama oleh Alifa mendongak namun mulutnya masih tetep menguyah steik dengan sangat anggun.


Bola mata Maria menatap Alifa dan Hamzah secera bergantian. Wajahnya tak menunjukan ekspresi apapun. Hanya mulutnya saja yang bergerak pelan menguyah makanan.


Tak ada sambutan hangat untuk sang anak ataupun kepada menantunya. Maria hanya menunjuk kursi yang ada di depannya menggunakan garpu yang sedang dia genggam. Mengisyaratkan agar Alifa dan Hamzah untuk duduk.


"Ma, kenalkan ini Hamzah, suami Alifa," kata Alifa setelah merek berdua duduk di depan Maria.


Kemudian tatapan Maria berpindah ke arah Hamzah sambil menyodorkan gelas berisi wine.


"Kamu mau minum, Hamzah? Bagaimana kalau kita bersulang untuk pernikahan kalian?"


Segera Hamzah menggelengkan kepala. Dia mengulas senyum tipis lalu menundukan kepala.


"Maaf, Ma. Kami dianjurkan oleh Nabi untuk nggak minum minuman seperti itu."


Maria tampak terkesiap dengan jawaban Hamzah. Lantas dia menyenderkan punggungnya namun bola matanya meneliti penampilan menantu barunya.


Kemudian Maria mendengus seraya memalingkan muka. Dia meneguk minumannya dengan perasaan dongkol dan juga kesal.


"Suami kamu itu sok alim banget sih, Fa," cibir Maria tanpa memandang Alifa ataupun Hamzah. Akan tetapi menatap pemandangan di luar jendela.


"Ma, aku kesini untuk bertanya sesuatu sama Mama," kata Alifa langsung to the point dan untuk mengubah topik pembicaraan.


"Kamu tanya, apakah kamu itu anak Papa Steve atau bukan?" Maria menerka.

__ADS_1


Sontak Alifa pun membulatkan matanya dengan sempurna. Lalu dia menoleh pada Hamzah yang juga terlihat sedikit terkejut.


"Bagaimana Mama bisa tahu?"


Maria mendengus seraya menampilkan seringai. "Mama yakin, cepat atau lambat kamu pasti akan tahu masalah antara Mama dengan Papa kamu. Dan Mama sudah dengar kabar kalau kemarin kamu menemui Papa kamu."


Alifa menarik nafas panjang agar menetralkan perasaannya. Di bawah meja, tangan Alifa meremas ujung blazernya, bersiap untuk mendengar penjelasan dari sang mama.


"Aku ingin cerita yang sebenarnya, Ma? Apa tuduhan yang dikatakan Papa itu benar, Ma? Itu pasti bohong kan?" Alifa mencecar pertanyaan dengan tidak sabar.


Sejenak Maria menatap hidangan di meja dengan sorot mata kosong. Lalu dia pun berkata, "Mama memang selingkuh dari Papa kamu, Fa."


Detik berikutnya, Alifa menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena terkejut. Dia sangat terkejut dengan sebuah kenyataan jika ibunya memang berselingkuh dengan pria lain.


Alifa ingin mengajukan banyak pertanyaan yang bersarang di benaknya. Namun, lidah Alifa terasa beku dan tak dapat digerakan sehingga dia hanya bisa terdiam menatap sang mama dengan tatapan tak percaya.


"Mungkin kamu akan menganggap Mama sebagai wanita murahan. Sama seperti Papa kamu yang juga menganggap Mama seperti itu. Iya kan?" Maria tersenyum getir dan kedua matanya tampak berkilat.


Kentara sekali jika Maria sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.


Tak perlu menunggu jawaban dari Alifa, Maria pun melanjutkan, "Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu, Alifa. Mama selingkuh karena Papa kamu yang lebih dulu selingkuh dari Mama."


Maria tak kuasa lagi membendung air matanya. Seketika itu kenangan masa lalu yang dia coba untuk tutup serapat mungkin kini terkuak dengan sendirinya.


Bahkan semua kenangan pahit itu kini terlihat jelas di penglihatan Maria. Menjadikan tangis wanita itu pecah.


"Kamu pasti tahu kan, kalau Mama dan Papa menikah karena dijodohkan. Mama dan Papa sama sekali nggak ada kecocokan. Papa kamu bersikap sangat dingin terhadap Mama. Terlebih saat Mama tahu jika Papa kamu bermain api di belakang Mama. Awalnya Mama bersikap biasa saja dan mengalihkan kesedihan Mama dengan menjadi wanita karir. Lalu Mama bertemu dengan mantan kekasih Mama dan kami menjalin hubungan yang dulu sempat kandas."


"Tapi, Ma," sela Alifa dengan suara yang serak. Kedua mata Alifa telah memerah begitu pula hidungnya yang diakibatkan karena menangis. "Kenapa Mama mengambil jalan untuk selingkuh? Kenapa Mama nggak mencoba untuk memperbaiki hubungan Papa?"


Maria kembali termenung. Dia mengambil selembar tisu yang dia gunakan untuk menyeka pipinya yang basah.


"Ya, itulah salah Mama, Alifa. Mama hanya manusia biasa yang rapuh saat itu."


Maria menarik nafas panjang dan menegakkan punggungnya. Dia menatap Alifa seraya melengkungkan senyum.


"Tapi meskipun Mama selingkuh dari Papa kamu, sekalipun Mama nggak pernah tidur dengan pria lain. Kamu dan Yusuf adalah anak dari Papa Steve. Jadi, kamu jangan percaya dengan omongan Papa kamu yang menuduh Mama yang bukan-bukan. Oke?"


Alifa terdiam. Dia memandang Maria dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.

__ADS_1


Sungguh, Alifa bingung mana yang harus lebih dia percaya.


__ADS_2