Ketika Hamzah Bertemu Alifa

Ketika Hamzah Bertemu Alifa
Bertemu


__ADS_3

Alifa terdiam sejenak. Sedangkan perempuan yang baru dikenalnya itu beranjak hendak pergi.


Seketika Alifa berdiri dan berjalan menyusul wanita itu. "Mbak, boleh minta nomor teleponnya? Biar saya bisa kembalikan baju Mbak yang saya pakai ini."


Wanita itu tersenyum sembari menoleh pada Alifa. "Nggak perlu, Mbak. Baju itu buat Mbak aja. Saya permisi dulu ya, Mbak. Assalamualaikum."


Detik berikutnya wanita itu berlalu pergi menuju keluar masjid. Sedangkan Alifa bertambah terdiam.


Dia sangat heran akan sikap wanita itu yang sangat peduli padanya. Padahal mereka sama sekali tidak saling mengenal.


Alifa melempar pandangan ke luar. Di mana hujan masih sama derasnya. Sehingga Alifa memutuskan untuk duduk lagi di dalam masjid.


Alifa menyandarkan punggungnya di pilar masjid. Lalu entah kenapa dia ingat kembali akan nasehat Hamzah untuk selalu berdzikir kala memiliki waktu senggang.


Alifa pun mulai bertasbih dengan pandangan mata menunduk. Lalu tiba-tiba Alifa mendengar suara pria memanggilnya. Lantas Alifa memutar badan ke arah sumber suara.


Alifa tertegun melihat Hamzah ada di masjid yang sama dengan dirinya. Begitu pula Hamzah yang terkejut melihat Alifa.


Awalnya Hamzah berniat sholat ashar di masjid sebelum mencari Alifa. Namun, ternyata Hamzah menemukan Alifa sedang berada di masjid duduk sendirian dengan wajah yang sangat pucat.


"Hamzah," ucap Alifa perlahan.


Detik berikutnya, mendadak pandangan Alifa menjadi gelap. Satu pemandangan terakhir yang dapat Alifa tangkap adalah ketika Hamzah berlari ke arahnya dengan wajah cemas.


*


*


*


Alifa menarik nafas panjang dan perlahan membuka mata. Kepala Alifa terasa sangat berat sehingga dia mengusap keningnya.


Kemudian Alifa mengedarkan pandangan dan dia menyadari bahwa dirinya sudah berada di dalam kamar. Alifa berusaha untuk memejamkan kembali mata karena tubuhnya sangat lemas.


Namun, ketika itu, pintu terdengar terbuka. Menjadikan Alifa membuka mata karena penasaran akan siapa yang masuk ke dalam kamarnya.


Alifa melihat Hamzah berjalan menghampirinya dan duduk di tepi ranjang. Lalu satu tangan Hamzah terulur menyentuh dahi Alifa.


"Badan kamu panas banget," komentar Hamzah. "Kamu makan ya? Habis itu minum obat."

__ADS_1


Alifa menggelengkan kepala. "Aku lagi malas makan, Za."


Hamzah menatap Alifa sambil tangannya sibuk mengibas lembut rambut yang menghalangi wajah istrinya. Lalu Hamzah kembali menempelkan punggung tanganya ke pipi Alifa yang memerah karena demam.


"Tapi kamu demam, Fa. Makan sedikit saja ya?"


Hamzah mengambil semangkok bubur yang ada di atas meja. Lalu menyodorkan satu sendok bubur yang mengepulkan uap tipis.


Alifa tak menyadari sejak kapan bubur itu ada di meja, tapi yang jelas bubur ayam itu masih terasa hangat dan lezat ketika Alifa menyantapnya.


Alifa terus menatap Hamzah selama pria itu dengan sabar menyuapinya. Lalu Alifa tertunduk lesu dan mulai terisak.


Menjadikan Hamzah mengerutkan dahi kebingungan. Dia meletakan mangkok bubur ke kembali ke atas meja lalu dengan cepat dia mengusap pipi Alifa yang basah.


"Kenapa, Fa? Kamu sakit?"


Alifa menggeleng sebagai jawaban. "Aku sedih, Za. Selama ini Papa nggak pernah peduli jika aku sakit. Lalu Alloh mengirimkan orang yang peduli sama aku tapi aku malah menyia-nyiakan orang itu."


Hamzah menarik nafas panjang. Dia belum menyadari jika orang yang dimaksud Alifa adalah dirinya.


Sehingga Hamzah hanya menampakan wajah tanpa ekspresi. Namun, dengan perasaan yang malu-malu Hamzah beringsut untuk bisa duduk lebih dekat dengan Alifa.


Kemudian Hamzah memeluk dan mengusap punggung Alifa untuk menenangkan perasaan istrinya.


Hamzah ingin sekali tertawa mendengar pernyataan yang diajukan oleh Alifa. Namun, sebagian dari diri Hamzah juga merasa bingung.


"Kenapa kamu bilang begitu, Fa? Tentu saja kamu anak Pala kamu."


Alifa menggelengkan kepala lemas. "Enggak, Za. Papa aku meragukan aku bukan anaknya."


Hamzah sedikit syok mendengar cerita Alifa akan pertemuan dengan Steve tadi siang. Namun begitu, Hamzah berusaha untuk tetep tenang dan tidak larut dalam emosi.


Maka Hamzah memperet pelukan dan mengusap puncak kepala Alifa. "Kamu jangan overthingking, Fa! Itu kan belum pasti."


"Tapi rasanya sakit, Za. Papa aku sendiri saja meragukan aku sebagai anaknya. Selama ini dia nggak peduli sama aku."


"Nggak perlu sedih, Fa. Kan masih banyak orang yang peduli sama kamu. Masih ada Oma, Yusuf, dan..."


"Dan juga kamu," potong Alifa sambil menatap Hamzah penuh keseriusan.

__ADS_1


Hamzah terdiam. Membalas tatapan Alifa dengan sama seriusnya. Lidah Hamzah terasa membeku tak dapat digerakan.


Hamzah menelan salivanya dengan susah payah. Lalu dia berkata, "Ya, Alifa. Begitu pula aku yang peduli sama kamu."


"Kenapa, Za? Aku ini sudah sering nyakitin kamu? Tapi kenapa kamu masih peduli sama aku?"


Hamzah menghela nafas dan beranjak berdiri. Akan tetapi tangan Alifa segera menahan tangan Hamzah agar tidak pergi.


"Za, jawab dulu!" tuntut Alifa.


Beberapa saat Hamzah terdiam. Kemudian dia membungkuk untuk menyejajarkan pandangannya dengan Alifa.


Sehingga Alifa dapat melihat keseriusan Hamzah ketika dia berkata, "Karena kamu istri aku, dan sudah menjadi kewajiban aku untuk peduli sama kamu."


Merasa tak puas dengan jawaban Hamzah. Alifa bertanya, "Hanya itu?"


Hamzah mengangguk.


"Tapi aku sudah sering membangkang sama kamu."


Hamzah menarik nafas panjang. Dia kembali duduk di tepi ranjang.


"Fa, kamu pernah dengar cerita Rasullullah dengan seorang pria yahudi yang buta?"


Alifa menggeleng karena memang dia tidak pernah mendengar cerita tersebut. Bahkan Alifa sangat minim mengetahui kisah-kisah nabi.


"Jadi, dulu ada seorang pria yahudi yang buta dan selalu mencela Nabi Muhammad SAW. Tapi Nabi tak lantas marah, justru Nabi selalu mendatangi pria itu dan memberikannya makan."


"Hah? Masa sih?" kata Alifa tak percaya. "Berarti Rasullullah itu baik banget ya?"


Hamzah tertawa kecil. "Ya, begitulah, Fa. Nabi Muhammad SAW kan manusia paling sempurna."


"Terus bagaimana kelanjutannya tuh?" Alifa menggeser duduknya dengan tatapan antusias mendengar cerita Hamzah.


"Nabi Muhammad SAW lakukan itu sampai beliau wafat. Orang yahudi yang selalu mecela Nabi nggak tahu tuh kalau orang yang selalu memberinya makan adalah Rasulullah. Hingga ketika Nabi wafat, Abu Bakar r.a. mendatangi orang yahudi itu untuk memberikan makan sebagaimana kebiasaan Nabi semasa masih hidup."


"Orang yahudi yang buta itu merasa aneh dengan orang yang datang kali ini. Dia pun sadar jika orang yang datang bukanlah orang yang selalu memberikannya makanan."


"Kemudian, orang yahudi bertanya pada Abu Bakar r.a. dan beliau pun membenarkan jika dia bukanlah orang yang selalu datang memberinya makan. Orang yahudi itu snagat terkejut ketika mengetahui jika selama ini Nabi Muhammad SAW yang selalu dia cela lah orang yang selalu memberinya makan."

__ADS_1


"Terus, Za?" tanya Alifa yang menyimak sejak tadi.


"Orang yahudi yang buta itu pun menangis, menyesali perbuatannya dan dia memutuskan untuk masuk islam. Dari cerita ini, kita bisa ambil pelajaran jika kepedulian kita pasti suatu saat nanti akan membawa suatu kebaikan. Sehingga jangan pernah lelah untuk peduli dan berbuat baik pada sesama, termasuk kepada orang yang benci sama kita."


__ADS_2